Baru denger berita dari Nopit tentang seorang temen kita yang ternyata bukan tunggal. Lebih jelasnya begini, jadi kita punya temen (sebut saja dia Boy) yang kita tau selama ini dia anak tunggal. Tapi ternyata tidak, kawan! Sungguh mengejutkan karena selama ini Boy mengklaim diriya sebagai anak tunggal sejati. Malangnya sang kakak ternyata agak 'berbeda'. Inilah yang membuat si kakak seperti tidak diakui oleh keluarganya. Apapun perbedaannya saya rasa tidak perlu kita bahas di sini.
Sebenernya ini bukan bagian saya untuk berkomentar mengenai keluarga mereka. Hanya saja kejadian ini setidaknya membuat saya berpikir ulang, bagaimana jika kejadian ini menimpa keluargamu? Apa yang akan kamu lakukan? Menerima dengan ikhlas atau malah menolak kehadirannya? Memiliki seorang angota keluarga yang 'berbeda' pasti sesuatu yang sulit untuk diterima. Peraan malu, kecewa, marah pastilah menghampiri. Tapi apakah menghindarkannya dari dunia luar adalah jawaban? Entahlah, saya gak bisa sok malaikat dengan mengatakan bahwa tindakan mereka salah. Hanya saja rasanya kok terlalu tega ya jika kita sampai mengindahkan kehadirannya. Betapa kecilnya kita jika menjadikan perbedaan itu alasan untuk menyembunyikannya. Memang saya akui sangat mudah untuk menulis kata-kata seperti ini di blog, bukan mengalami dalam realita seperti yang Boy alami. Tetapi sekali lagi ini hanya pemikiran saya sebagai pribadi di luar keluarga mereka.
Dan jawaban saya jika pertanyaan di atas dikembalikan kepada saya(dengan tidak ada niat untuk menjadi anak suci seperti Lala di sinetron Bidadari) adalah bagaimanapun keadaan saudara saya tidak akan pernah mengubah posisinya di hati saya, sungguh.
Rabu, 16 Desember 2009
Senin, 07 Desember 2009
SayaSekarangSamaSaja
Udah lama gak ngisi blog. Sebenernya banyak yang mau ditulis. Tapi untuk menulis perlu banyak waktu, secara aku bukan penulis profesional yang cuma perlu semenit buat nulis satu postingan. Nah, waktu inilah yang akhir-akhir ini jarang saya punya. Bukannya sok sibuk, hanya saja saya terlalu cetek perkara mengatur waktu. Senin, Selasa, Rabu, Jumat full buat sekolah. Hari-hari lainnya cuma aku isi buat leyeh-leyeh karna sungguh berat untuk sekolah di Jakarta ini. Pantat tipis kekikis bangku jebot metromini. Badan bau asap. Rambut merah kaya habis seharian main layangan. Tugas yang bikin pengen jambak rambut. Kulit hitam, tapi yang ini emang udah dari lahir. Paling kerasa, stamina drop. Darah rendah kambuh lagi. Pilek lagi. Pusing lagi. Malahan kemaren sempat kena cacar. Paling parah, tenggorokan saya ada jamurnya. Iya, teman-teman. Tenggorokan saya berjamur. Terdengar menyeraman, tapi sebenernya ini menguntungkan. Kalo akhir bulan gak punya duit aku cuma perlu beli nasi, kasi kecap, pake sambel terasi trus petik deh jamur dari tenggorokan. Hemat dan cermat, bukan? Atau kalo jamurnya tambah banyak, tinggal buka pengembangbiakan jamur aja, itung-itung bisnis buat bayar uang sekolah.
Cacar. Penyakit ini yang lumayan mengganggu. Gatalnya itu lho, bikin emosi. Bawaanya pengen ngegaruk-garuk aja. Tapi kata Ua jangan digaruk. Jujur, ini cukup menyiksa. Cukup sekali deh aku kena cacar, ampun..
Sebenernya yang aku bilang di hari-hari lain di luar sekolah aku pake buat leyeh-leyeh gak sepenuhnya benar. Ternyata aku masih punya waktu buat beli J. Co di Sency, nyari baju di Senen, bikin sepatu di Perbanas, beli kain di Cipadu, beli bahan aksesoris di Mayestik, nonton di PS, karokean di Plangi, nonton fashion show, segalanyalah. Jadi mungkin yang sebener-benernya terjadi, aku leyeh-leyeh karna kecapean jaan-jalan, bukan kecapean belajar. Haha
Oya, perkembangan pelajaran di sekolah. Rok aku (akhirnya) jadi, Thanks God. Sekarang lagi jahit celana. Mau mulai masuk pelajaran blouse. Gambar aku yahh.. Udah mulai membaiklah. Tekstil? Menganyam sampe tangan aku ikut keanyam, hapalan tekstil, gak usah dibahas..
Cacar. Penyakit ini yang lumayan mengganggu. Gatalnya itu lho, bikin emosi. Bawaanya pengen ngegaruk-garuk aja. Tapi kata Ua jangan digaruk. Jujur, ini cukup menyiksa. Cukup sekali deh aku kena cacar, ampun..
Sebenernya yang aku bilang di hari-hari lain di luar sekolah aku pake buat leyeh-leyeh gak sepenuhnya benar. Ternyata aku masih punya waktu buat beli J. Co di Sency, nyari baju di Senen, bikin sepatu di Perbanas, beli kain di Cipadu, beli bahan aksesoris di Mayestik, nonton di PS, karokean di Plangi, nonton fashion show, segalanyalah. Jadi mungkin yang sebener-benernya terjadi, aku leyeh-leyeh karna kecapean jaan-jalan, bukan kecapean belajar. Haha
Oya, perkembangan pelajaran di sekolah. Rok aku (akhirnya) jadi, Thanks God. Sekarang lagi jahit celana. Mau mulai masuk pelajaran blouse. Gambar aku yahh.. Udah mulai membaiklah. Tekstil? Menganyam sampe tangan aku ikut keanyam, hapalan tekstil, gak usah dibahas..
Kamis, 22 Oktober 2009
Ketika Kamu Jatuh Cinta
Ketika kamu jatuh cinta kepada seorang Slankers.
Artinya dia adalah seorang cowok yang 'cowok banget', cowok yang gak akan mungkin pake baju Hello Kitty atau sebangsanya. Gak banyak omong dan apa adanya. Beruntunglah! Mungkin kamu akan menjadi seorang yang lebih nyeni dan mulai rajin menghapal lirik-lirik lagu Slank. Selama kamu belum memutuskan utuk menggimbal rambutmu dan menato badanmu, aku rasa wajar..
Ketika kamu jatuh cinta kepada seorang anak basket.
Artinya dia adalah seorang cowok yang sehat, yang gak mungkin ngerokok dan yang pasti tingginya memadai. Beruntunglah! Mungkin kamu akan rajin olahraga dan jadi rajin nonton pertandingan basket. Selama kamu belum memutuskan untuk menjadi handuk kecilnya dia (yang pasti kena keringat tiap hari, hoek..)aku rasa wajar..
Ketika kamu jatuh cinta kepada seorang instruktur fitness.
Artinya dia adalah seorang cowok yang peduli penampilan, jaga badan, yang gak akan jarang mandi. Beruntunglah! Mungkin kamu akan menjadi seorang yang jaga makanan dan rajin fitness. Selama kamu belum memutuskan untuk membuat badanmu sekekar ade Ray aku rasa wajar..
Ketika kamu jatuh cinta kepada ...
PS : Ini tulisan lama sanagat yang gak sengaja nemu waktu bongkar2 tas,
daripada sayang, mending aku pajang. Walaupun jelas,
dengan proses edit terlebih dahulu..
Artinya dia adalah seorang cowok yang 'cowok banget', cowok yang gak akan mungkin pake baju Hello Kitty atau sebangsanya. Gak banyak omong dan apa adanya. Beruntunglah! Mungkin kamu akan menjadi seorang yang lebih nyeni dan mulai rajin menghapal lirik-lirik lagu Slank. Selama kamu belum memutuskan utuk menggimbal rambutmu dan menato badanmu, aku rasa wajar..
Ketika kamu jatuh cinta kepada seorang anak basket.
Artinya dia adalah seorang cowok yang sehat, yang gak mungkin ngerokok dan yang pasti tingginya memadai. Beruntunglah! Mungkin kamu akan rajin olahraga dan jadi rajin nonton pertandingan basket. Selama kamu belum memutuskan untuk menjadi handuk kecilnya dia (yang pasti kena keringat tiap hari, hoek..)aku rasa wajar..
Ketika kamu jatuh cinta kepada seorang instruktur fitness.
Artinya dia adalah seorang cowok yang peduli penampilan, jaga badan, yang gak akan jarang mandi. Beruntunglah! Mungkin kamu akan menjadi seorang yang jaga makanan dan rajin fitness. Selama kamu belum memutuskan untuk membuat badanmu sekekar ade Ray aku rasa wajar..
Ketika kamu jatuh cinta kepada ...
PS : Ini tulisan lama sanagat yang gak sengaja nemu waktu bongkar2 tas,
daripada sayang, mending aku pajang. Walaupun jelas,
dengan proses edit terlebih dahulu..
Selasa, 13 Oktober 2009
Perang Itu..
Aku selalu gak habis pikir sama mereka semua. Gak tau juga apa maksudnya. Gak ngerti apa tujuannya. Seharusnya mereka berjalan beriringan dengan mesra, malah memecah diri dan membentuk dua kubu. Seharusnya yang jadi kepala adalah orang paling netral, malah menghasut anak buahnya untuk berjalan berlawanan arah cuma karna hal yang 'kelewat' sepele, sirik..
Rabu, 07 Oktober 2009
Di Dalam Kereta
Minggu kemaren aku naik kereta sama Ua, buat belajar pake mesin jahit. Aku yang emang hobi naik kereta setuju-setuju aja. Lagian, masa aku harus nenteng-nenteng mesin jahit turun naik angkot? Walaupun portable tapi lumayan juga beratnya. Untungnya, pilihan buat naik kereta ternyata gak salah.
Di dalam kereta aku bisa liat semua orang. Cewek-cowok, tua-muda, kaya-miskin, perpangkat pinggi-pegawai biasa, ada semua. Mulai dari pengamen tuna netra yang aku gak habis pikir gimana cara dia naik kereta, penjual koran dan majalah (harga koran di kereta cuma Rp1000), pedagang makanan (gorengan, snack, kue-kue), anak sekolahan, mahasiswa, pegawai negeri, sampe bapak-bapak berseragam lengkap dengan pangkatnya. Harga karcis kereta yang murah (ekonomi Rp1500, ekonomi AC Rp5500), bebas macet( ya ialah!),bikin kereta masih jadi pilihan utama buat alat transportasi sehari-hari. Walaupun jelas, banyak juga negatifnya, kalo gak ada tempat duduk harus nyiapin kaki buat bediri desak-desakan, panas, banyak copet, belum lagi dengan lalu lalangnya pengamen dan pedagang yang bikin kuping pengeng.
Di dalam kereta aku juga bisa mengamati kegiatan orang-orang selama di dalam kereta. Ada yang tidur, ada anak yang jerit-jerit minta diturunin di Monas, ada yang baca koran/majalah, dan yang paling parah.. Ada yang Facebook-an di kereta. Hello.. Sambil berdiri dengan satu tangan peganng gantungan di kereta, tangan yang satunya mijit-mijit handphone (yang belakangan diketahui dia sedang Facebook-an) Asli ya, aku gak ngerti dengan tujuan mbak itu. Mungkin dia lagi update statusnya gini "Gue lagee d kreta nich, pyenuh bangetd dech, pucink jadi na!" Gitulah kira-kira, aku gak ngerti tulisan gaul jaman sekarang soalnya.
Jakarta, September '09
Di dalam kereta aku bisa liat semua orang. Cewek-cowok, tua-muda, kaya-miskin, perpangkat pinggi-pegawai biasa, ada semua. Mulai dari pengamen tuna netra yang aku gak habis pikir gimana cara dia naik kereta, penjual koran dan majalah (harga koran di kereta cuma Rp1000), pedagang makanan (gorengan, snack, kue-kue), anak sekolahan, mahasiswa, pegawai negeri, sampe bapak-bapak berseragam lengkap dengan pangkatnya. Harga karcis kereta yang murah (ekonomi Rp1500, ekonomi AC Rp5500), bebas macet( ya ialah!),bikin kereta masih jadi pilihan utama buat alat transportasi sehari-hari. Walaupun jelas, banyak juga negatifnya, kalo gak ada tempat duduk harus nyiapin kaki buat bediri desak-desakan, panas, banyak copet, belum lagi dengan lalu lalangnya pengamen dan pedagang yang bikin kuping pengeng.
Di dalam kereta aku juga bisa mengamati kegiatan orang-orang selama di dalam kereta. Ada yang tidur, ada anak yang jerit-jerit minta diturunin di Monas, ada yang baca koran/majalah, dan yang paling parah.. Ada yang Facebook-an di kereta. Hello.. Sambil berdiri dengan satu tangan peganng gantungan di kereta, tangan yang satunya mijit-mijit handphone (yang belakangan diketahui dia sedang Facebook-an) Asli ya, aku gak ngerti dengan tujuan mbak itu. Mungkin dia lagi update statusnya gini "Gue lagee d kreta nich, pyenuh bangetd dech, pucink jadi na!" Gitulah kira-kira, aku gak ngerti tulisan gaul jaman sekarang soalnya.
Jakarta, September '09
Nyasar
Libur Lebaran kemaren, Pikod dan Wanda (temen-temenku yang sekarang kuliah di Jogja) pada datang ke sini. Kita janjian ketemuan dan inilah ringkasan ceritanya :
1. Janjian ketemuan pertama di Plaza Semanggi, makan siang menjelang sore, makan bebek (yang enak banget) di samping Trans TV. Balik ke kosan dianterin calon abang iparnya Pikod. Baik banget tu abang, makasih ya bang!
2. Besokannya ketemuan di Atrium, makan siang, nyebrang ke Pasar Senen dan aku berhasil dapat dua sweater rajut seharga tiga puluh ribu berkat bantuan Pikod. Trus perjalanan dilanjutkan ke Ancol. Nyampe Ancol, kerjaan utama kita cuma foto-foto. Haha..
Nah, pulang dari Ancol kan kita ke Atrium lagi, baru misah di sana. Nah aku, yang belum ngerti jalan, dengan sotoynya naik angkot yang aku rasa bakal nyampe kosan. Ternyata, tebakan aku salah, kawan. Aku nyasar. Entah di mana. Akhirnya, dfi tengah keputusasaan yang melanda (agak berlebihan)aku nanya sama ibu-ibu yang jualan di pinggir jalan buat arah pulang.
Aku : Bu, kalo mau ke Tongtek kemana ya?
(Aku pasang ekspresi sok tenang, padahal dalam hati takut plus panik)
Ibu : Waduhh.. Kelewatan neng. Tongtek mah disono.
(Kata si ibu sambil nunjuk berlawanan arah)
Aku : Arah mana, Bu?
(Mulai panik)
Ibu : Lurus ke sana sampe nemu kantor pos trus belok kiri.
(si ibu tetep tanpa ekspresi sambil ngurusin dagangannya)
Aku : Ohh.. Angkot nomer berapa, Bu?
(Mulai keringat dingin)
Ibu : Gak ada angkot neng buat kesono, jalan kaki aja.
(Tetep sibuk sendiri)
Aku : Jauh ga, Bu?
(Gemeteran)
Ibu : Yah.. Kira-kira sekilo lah.
(Jawab si ibu dengan entengnya)
Aku : ..
(Aku berkunang-kunang, trus pingsan)
Ibu : Neng? Neng?
(Mencoba menyadarkanku)
Aku : Ma.. Ma.. Kas.. Ih.. Bu
Oke, bagian aku pingsannya emang hiperbol, tapi kejadian nyasar dan si ibu yang lebih mentingin cobeknya daripada aku yang udah jelas-jelas keringat dingin, benar adanya. Akhirnya, dengan tekad bulat pengen cepet-cepet nyampe kosan, aku jalan kaki sampe rasanya ni kaki ga berasa lagi. Kayaknya itu ibu salah ngitung, bukan satu kilo jaraknya, tapi satu kilo lemak aku yang berkurang, soalnya jauh mampus! Akhirnya, nyampe juga Tongtek, sumpah.. Tongtek gak pernah seindah hari itu. Angkot yang udah lecet-lecet itu kayak semulus BMW, abang-abang angkot pun jadi gak kalah cakep dari Baim Wong. Yah.. Ini semua kayaknya halusinasi seseorang yang sangat bahagai ketemu jalan pulang setelah jalan kaki sampe gempor. Setelah naik angkot dari Tongtek itu, Aku akhirnya nyampe kosan juga. Thanks God! Begitu kepala nyentuh bantal, aku langsung tidur sampe dua minggu berikutnya..
1. Janjian ketemuan pertama di Plaza Semanggi, makan siang menjelang sore, makan bebek (yang enak banget) di samping Trans TV. Balik ke kosan dianterin calon abang iparnya Pikod. Baik banget tu abang, makasih ya bang!
2. Besokannya ketemuan di Atrium, makan siang, nyebrang ke Pasar Senen dan aku berhasil dapat dua sweater rajut seharga tiga puluh ribu berkat bantuan Pikod. Trus perjalanan dilanjutkan ke Ancol. Nyampe Ancol, kerjaan utama kita cuma foto-foto. Haha..
Nah, pulang dari Ancol kan kita ke Atrium lagi, baru misah di sana. Nah aku, yang belum ngerti jalan, dengan sotoynya naik angkot yang aku rasa bakal nyampe kosan. Ternyata, tebakan aku salah, kawan. Aku nyasar. Entah di mana. Akhirnya, dfi tengah keputusasaan yang melanda (agak berlebihan)aku nanya sama ibu-ibu yang jualan di pinggir jalan buat arah pulang.
Aku : Bu, kalo mau ke Tongtek kemana ya?
(Aku pasang ekspresi sok tenang, padahal dalam hati takut plus panik)
Ibu : Waduhh.. Kelewatan neng. Tongtek mah disono.
(Kata si ibu sambil nunjuk berlawanan arah)
Aku : Arah mana, Bu?
(Mulai panik)
Ibu : Lurus ke sana sampe nemu kantor pos trus belok kiri.
(si ibu tetep tanpa ekspresi sambil ngurusin dagangannya)
Aku : Ohh.. Angkot nomer berapa, Bu?
(Mulai keringat dingin)
Ibu : Gak ada angkot neng buat kesono, jalan kaki aja.
(Tetep sibuk sendiri)
Aku : Jauh ga, Bu?
(Gemeteran)
Ibu : Yah.. Kira-kira sekilo lah.
(Jawab si ibu dengan entengnya)
Aku : ..
(Aku berkunang-kunang, trus pingsan)
Ibu : Neng? Neng?
(Mencoba menyadarkanku)
Aku : Ma.. Ma.. Kas.. Ih.. Bu
Oke, bagian aku pingsannya emang hiperbol, tapi kejadian nyasar dan si ibu yang lebih mentingin cobeknya daripada aku yang udah jelas-jelas keringat dingin, benar adanya. Akhirnya, dengan tekad bulat pengen cepet-cepet nyampe kosan, aku jalan kaki sampe rasanya ni kaki ga berasa lagi. Kayaknya itu ibu salah ngitung, bukan satu kilo jaraknya, tapi satu kilo lemak aku yang berkurang, soalnya jauh mampus! Akhirnya, nyampe juga Tongtek, sumpah.. Tongtek gak pernah seindah hari itu. Angkot yang udah lecet-lecet itu kayak semulus BMW, abang-abang angkot pun jadi gak kalah cakep dari Baim Wong. Yah.. Ini semua kayaknya halusinasi seseorang yang sangat bahagai ketemu jalan pulang setelah jalan kaki sampe gempor. Setelah naik angkot dari Tongtek itu, Aku akhirnya nyampe kosan juga. Thanks God! Begitu kepala nyentuh bantal, aku langsung tidur sampe dua minggu berikutnya..
Sabtu, 19 September 2009
Plus - Minus
Selama berapa minggu di sini jelas terasa berbeda. Semuanya berubah. Setiap hal punya sisi negatif dan positifnya. Ada enak gak enaknya. Ada plus minusnya. Bisa juga bikin loncat-loncat kegirangan atau nangis sampe guling-guling. Karna itulah aku mencoba membuat daftar enak dan gak enaknya selama berada di sini..
Gak enaknya:
1. Jauh dari keluarga. Kangen sangat dengan Papi, Mami, Bang Rio. Hari-hari dulu, tiap hari ketemu. Tiap hari ngobrol bareng di meja makan. Jadi inget kalo dulu setiap habis bangun tidur siang, pasti meluk Mami. Trus ditepok-tepok pantatnya, sok bayi lah aku (bayi bengkak). Kalo lagi nonton TV rebutan sama Bang Rio buat rebahan di paha Mami. Tiap hari juga kelahi sama Bang Rio. Ejek-ejekan. Mami selalu di kubu aku, jadi Bang Rio kalah telak. Atau ketawa sampe sakit perut karna ngeliatain Mami niruin gaya Tukul (Bukan Empat Mata) atau BCL (Pernah Muda). Hahaha.. Juga kangen dengan sikap cool papi yang ternyata sangat care. I love them soo much..
2. Tak ada mereka. Ya, di sini gak ada mereka. Gak ada Pepet, Cinduy, Sunsan, Nopitandi, semuanya. Gak bisa neror Pepet dengan telpon berjam-jam, gak ada noyor kepala Cinduy, gak ada narik rambut Sun, gak ada ngetawain Nopitandi. Berharap waktu ketemu meraka nanti, apapun keadan kita, kita tetap bisa main kartu, menjadi Si Bolang dan jajan di SMP2. Hahaha..
3. Mas Pur. Di sini juga gak ada Mas Pur. Gak usah Mas Pur deh, mas-mas yang lain juga boleh. Tapi beneran, selama ini aku gak ada nemu satu pun. Gila, selama ini udah aku puasa pentol. Ngiler banget kalo keinget bawang gorengnya, pop mienya, waaaa.. Coba Mas Pur buka cabang di sini, minimal ada delivery service deh..
Enaknya..
1. Ada Bangdo di sini. Jadi aku gak terlalu sepi. Gak berasa sendiri. Kita bisa jalan bareng, becandaan, dan bahu-membahu membersihkan kamar kos. Tiap hari jalan kaki ke warung depan buat beli makan, trus makannya di rumah Ua (kakak Mami, yang rumahnya ga jauh dari kosan). Ua juga udah kita anggap kayak Mami sendiri saking sayangnya Ua sama kita juga kita ke Ua. Ua yang selalu nemenin kita belanja keperluan kos, nyari mesin jahit, sampe beli baju.
2. Di sini ada LPTB Susan Budiharjo. Inilah alasan utama aku datang ke sini. Demi sekolah ini. Yang pada akhirnya demi cita-citaku. Walaupun harus kjedot angkot tiap hari, walaupun gambarku terjelek di kelas, otakku paling autis di kelas, aku harus tetap berjuang. Doakan saya yaa..
3. Belajar. Ya, di sini aku banyak belajar. Belajar segalanya. Yang paling jelas, belajar design. Menggambar, membuat pola, dan menjahit. Tapi aku juga belajar hal lain. belajar untuk mandiri,belajar ngatur uang, belajar melihat sekitar, belajar untuk berbaur. Dengan belajar inilah aku sadar kalo hariku bukan cuma sekedar ngerjain PR di sekolah, ngegosip di selasar, main ke rumah Sun, dan tidur. Bukan berati itu gak penting. Jujur, hari-hari itu menyenangkan, cuma ketika aku lebih melek akan sekitar, ternyata masih banyak hal lain yang bisa aku lakukan. Hal yang bisa aku eksplor dan pada akhirnya aku sadar bahwa dunia gak dibatasi oleh pagar hijau rumahku..
Gak enaknya:
1. Jauh dari keluarga. Kangen sangat dengan Papi, Mami, Bang Rio. Hari-hari dulu, tiap hari ketemu. Tiap hari ngobrol bareng di meja makan. Jadi inget kalo dulu setiap habis bangun tidur siang, pasti meluk Mami. Trus ditepok-tepok pantatnya, sok bayi lah aku (bayi bengkak). Kalo lagi nonton TV rebutan sama Bang Rio buat rebahan di paha Mami. Tiap hari juga kelahi sama Bang Rio. Ejek-ejekan. Mami selalu di kubu aku, jadi Bang Rio kalah telak. Atau ketawa sampe sakit perut karna ngeliatain Mami niruin gaya Tukul (Bukan Empat Mata) atau BCL (Pernah Muda). Hahaha.. Juga kangen dengan sikap cool papi yang ternyata sangat care. I love them soo much..
2. Tak ada mereka. Ya, di sini gak ada mereka. Gak ada Pepet, Cinduy, Sunsan, Nopitandi, semuanya. Gak bisa neror Pepet dengan telpon berjam-jam, gak ada noyor kepala Cinduy, gak ada narik rambut Sun, gak ada ngetawain Nopitandi. Berharap waktu ketemu meraka nanti, apapun keadan kita, kita tetap bisa main kartu, menjadi Si Bolang dan jajan di SMP2. Hahaha..
3. Mas Pur. Di sini juga gak ada Mas Pur. Gak usah Mas Pur deh, mas-mas yang lain juga boleh. Tapi beneran, selama ini aku gak ada nemu satu pun. Gila, selama ini udah aku puasa pentol. Ngiler banget kalo keinget bawang gorengnya, pop mienya, waaaa.. Coba Mas Pur buka cabang di sini, minimal ada delivery service deh..
Enaknya..
1. Ada Bangdo di sini. Jadi aku gak terlalu sepi. Gak berasa sendiri. Kita bisa jalan bareng, becandaan, dan bahu-membahu membersihkan kamar kos. Tiap hari jalan kaki ke warung depan buat beli makan, trus makannya di rumah Ua (kakak Mami, yang rumahnya ga jauh dari kosan). Ua juga udah kita anggap kayak Mami sendiri saking sayangnya Ua sama kita juga kita ke Ua. Ua yang selalu nemenin kita belanja keperluan kos, nyari mesin jahit, sampe beli baju.
2. Di sini ada LPTB Susan Budiharjo. Inilah alasan utama aku datang ke sini. Demi sekolah ini. Yang pada akhirnya demi cita-citaku. Walaupun harus kjedot angkot tiap hari, walaupun gambarku terjelek di kelas, otakku paling autis di kelas, aku harus tetap berjuang. Doakan saya yaa..
3. Belajar. Ya, di sini aku banyak belajar. Belajar segalanya. Yang paling jelas, belajar design. Menggambar, membuat pola, dan menjahit. Tapi aku juga belajar hal lain. belajar untuk mandiri,belajar ngatur uang, belajar melihat sekitar, belajar untuk berbaur. Dengan belajar inilah aku sadar kalo hariku bukan cuma sekedar ngerjain PR di sekolah, ngegosip di selasar, main ke rumah Sun, dan tidur. Bukan berati itu gak penting. Jujur, hari-hari itu menyenangkan, cuma ketika aku lebih melek akan sekitar, ternyata masih banyak hal lain yang bisa aku lakukan. Hal yang bisa aku eksplor dan pada akhirnya aku sadar bahwa dunia gak dibatasi oleh pagar hijau rumahku..
Jumat, 11 September 2009
Perubahan, Adaptasi, atau Hal-Hal Baru?
Banyak sangat perubahan yang terjadi akhir-akhir ini. Terlebih karna aku sudah delapan belas dan sekolah jauh dari orang rumah. Entahlah ini disebut perubahan baik atau buruk. Seperti inilah contohnya..
Aku sekarang merasa seperti kran bocor. Kerjaannya nangis trus. Kangen sama temen-temen, orang rumah, semuanyalah. Dikit-dikit nangis. Ditelpon Mami, nangis. sendirian di kosan, keinget orang rumah, nangis lagi. Haha.. Sungguh memalukan.
Bangun pagi. Jam setengah tujuh-an aku sudah dibangunin Bang Do. Bang Do berangkat ke kampus, aku mandi trus berangkat kursus. Ini pengalaman yang sangat baru karna aku mulai kursus jam setengah sepuluh tapi harus bangun tiga jam sebelumnya. Biasanya, aku kan bangun sejam sebelum berangkat sekolah. Jadi ini juga termasuk cobaan.
Masalah transportasi. Kalo biasanya dengan manjanya aku diantar Bang Rio ke sekolah, kali ini aku harus naik angkot dua kali, trus disambung naik metromini sekali lagi. Angkot sih lumayan. Nah metromini, parah. Lari-lari ngejar metromini, hampir jatuh, sampe kepala kejedot. Halah. Baru deh nyampe dengan keadan kaki keseleo, dahi memar, ngos-ngosan, serta badan bau asem.
Dengan bangganya aku mau bilang kalo aku selama di sini menjadi lebih rajin. Haha.. Bangun tidur nih ya, aku ngerebus air buat minum teh. Trus beresin tempat tidur. Kamar kotor, ane nyapu. Piring kotor, ane nyuci. Jangan lupa, bagian paling gak asoy, nyuci baju. Karna setiap hari ada PR, yah ngerjain PR juga jadi kegiatan rutin. Gak ada lagi deh cerita jaman SMA, datang ke sekolah pagi-pagi buat nyontek PR temen. Haha.
Baru kali ini Gogirl dianggurin. Ini bener! Baru kali ini aku gak selera buka Gogirl. Kalo dulu, dengan buasnya aku baca Gogirl dan khatam dalam sehari. Percaya atau ga, seminggu ynag lalu aku beli Gogirl, dan baru weekend ini dibuka.
Dari sekian banyaknya perubahan-perubahan yang terjadi, cuma satu yang gak berubah. Badanku. Tetep aja gitu segede bagong. Padahal tugas dari sekolah bikin rok dengan ukuran sendiri, kayaknya rok aku nantinya megang rekor "Rok Terbesar Angkatan Sept 09"
Aku sekarang merasa seperti kran bocor. Kerjaannya nangis trus. Kangen sama temen-temen, orang rumah, semuanyalah. Dikit-dikit nangis. Ditelpon Mami, nangis. sendirian di kosan, keinget orang rumah, nangis lagi. Haha.. Sungguh memalukan.
Bangun pagi. Jam setengah tujuh-an aku sudah dibangunin Bang Do. Bang Do berangkat ke kampus, aku mandi trus berangkat kursus. Ini pengalaman yang sangat baru karna aku mulai kursus jam setengah sepuluh tapi harus bangun tiga jam sebelumnya. Biasanya, aku kan bangun sejam sebelum berangkat sekolah. Jadi ini juga termasuk cobaan.
Masalah transportasi. Kalo biasanya dengan manjanya aku diantar Bang Rio ke sekolah, kali ini aku harus naik angkot dua kali, trus disambung naik metromini sekali lagi. Angkot sih lumayan. Nah metromini, parah. Lari-lari ngejar metromini, hampir jatuh, sampe kepala kejedot. Halah. Baru deh nyampe dengan keadan kaki keseleo, dahi memar, ngos-ngosan, serta badan bau asem.
Dengan bangganya aku mau bilang kalo aku selama di sini menjadi lebih rajin. Haha.. Bangun tidur nih ya, aku ngerebus air buat minum teh. Trus beresin tempat tidur. Kamar kotor, ane nyapu. Piring kotor, ane nyuci. Jangan lupa, bagian paling gak asoy, nyuci baju. Karna setiap hari ada PR, yah ngerjain PR juga jadi kegiatan rutin. Gak ada lagi deh cerita jaman SMA, datang ke sekolah pagi-pagi buat nyontek PR temen. Haha.
Baru kali ini Gogirl dianggurin. Ini bener! Baru kali ini aku gak selera buka Gogirl. Kalo dulu, dengan buasnya aku baca Gogirl dan khatam dalam sehari. Percaya atau ga, seminggu ynag lalu aku beli Gogirl, dan baru weekend ini dibuka.
Dari sekian banyaknya perubahan-perubahan yang terjadi, cuma satu yang gak berubah. Badanku. Tetep aja gitu segede bagong. Padahal tugas dari sekolah bikin rok dengan ukuran sendiri, kayaknya rok aku nantinya megang rekor "Rok Terbesar Angkatan Sept 09"
Minggu, 06 September 2009
Dunia Baru
Akhir-akhir ini akan lama posting. Biasalah,masih heboh adaptasi dengan sekitar. Kuliah baru (plus tugas-tugasnya), lingkungan baru, teman-teman baru. Menjadi seorang yang harus bisa mandiri. Berani nyebrang, naik angkot ke kampus, nyuci sendiri. Haha.. Heboh sih, tapi asik. Sekolahnya seru, gurunya juga asik walopun agak keteteran ngerjar ketinggalalan materi karna telat masuk. Berharap sih aku bisa ngejar. Amien.
Sori kalo kata-katanya jadi asal gini. Gak teratur. Berantakan. Ini juga nyempet-nyempetin diantara bikin tugas ngegambar anatomi 20 biji tanpa penggaris. Bayangkan, kalo dengan penggaris aja gambarku miring-miring, gimana tanpa penggaris? haha.. tapi aku harus bisa. Nanti deh kalo semuanya sudah lebih rapi, aku akan rajin ngeblog.
Sori kalo kata-katanya jadi asal gini. Gak teratur. Berantakan. Ini juga nyempet-nyempetin diantara bikin tugas ngegambar anatomi 20 biji tanpa penggaris. Bayangkan, kalo dengan penggaris aja gambarku miring-miring, gimana tanpa penggaris? haha.. tapi aku harus bisa. Nanti deh kalo semuanya sudah lebih rapi, aku akan rajin ngeblog.
Label:
bahagia bukan kepalang,
soon,
spirid
Kamis, 20 Agustus 2009
Menulis Surat Cinta
Kak,
Kita sudah ditakdirkan bersama. Engkau dan aku adalah satu. Kita serasi dan selaras. Engkau hanya diciptakan untukku, begitu pula sebaliknya. Ibarat kata aku adalah bunga dan kakak kumbangnya (sangat dangdut). Aku pohon dan kakak hujannya (nah, kalo yang ini ala Bollywood). Ibarat dongeng, kita adalah Jasmine dan Alladin. Ibarat roman percintaan legendaris kita adalah Romeo dan Juliet. Ibarat lagu, Galih dan ratna. Ibarat selebritis, Dewi Perssik dan Bang Ipul. Ibarat bahasa cinta, kita adalah upil dan ingus. Ini sungguhan, Kak! Serius! Baiklah, jika Kakak belum mengerti, dengan penuh kesabaran akan Adik jelaskan. Begini..
Upil : padat, kokoh, lezat
Ingus : kental, mengalir, lezat (juga)
Nampak serasi, bukan?
Rumah cinta kita adalah sebuah hidung megah yang melindungi kita dari terik matahari ataupun hujan badai.
Bagaimana, Kak? Kita jadian, yah? Saya harap Kakak setuju.
PS : Jika kita jadian kelak, Kakak boleh memilih untuk ingin menjadi upil atau ingus.
***
Awalnya surat inilah yang ingin aku kasih ke Sun waktu dia minta tolong dibuatin surat cinta untuk tuga OSPEKnya. Tapi karna aku masih mempertimbangkan keselamatan jiwanya di kampus, maka aku urungkan niat baikku ini. Akhirnya aku bikin satu surat cinta lagi, yang sesuai dengan permintaan sun, harus LEBAY! Oho, ini mah gancil. Inilah yang disebut dengan bakat. Pengalaman dicekokin telenovela waktu TK, film India jaman SD, ditambah penonton setia konser dangdutan bikin aku jadi berkpribadian geli nin norak. Malahan waktu masih di pertengahan surat Sun minta ampun nyuruh aku berhenti karna kadar lebaynya terlalu lebay. Halah!
Kita sudah ditakdirkan bersama. Engkau dan aku adalah satu. Kita serasi dan selaras. Engkau hanya diciptakan untukku, begitu pula sebaliknya. Ibarat kata aku adalah bunga dan kakak kumbangnya (sangat dangdut). Aku pohon dan kakak hujannya (nah, kalo yang ini ala Bollywood). Ibarat dongeng, kita adalah Jasmine dan Alladin. Ibarat roman percintaan legendaris kita adalah Romeo dan Juliet. Ibarat lagu, Galih dan ratna. Ibarat selebritis, Dewi Perssik dan Bang Ipul. Ibarat bahasa cinta, kita adalah upil dan ingus. Ini sungguhan, Kak! Serius! Baiklah, jika Kakak belum mengerti, dengan penuh kesabaran akan Adik jelaskan. Begini..
Upil : padat, kokoh, lezat
Ingus : kental, mengalir, lezat (juga)
Nampak serasi, bukan?
Rumah cinta kita adalah sebuah hidung megah yang melindungi kita dari terik matahari ataupun hujan badai.
Bagaimana, Kak? Kita jadian, yah? Saya harap Kakak setuju.
PS : Jika kita jadian kelak, Kakak boleh memilih untuk ingin menjadi upil atau ingus.
***
Awalnya surat inilah yang ingin aku kasih ke Sun waktu dia minta tolong dibuatin surat cinta untuk tuga OSPEKnya. Tapi karna aku masih mempertimbangkan keselamatan jiwanya di kampus, maka aku urungkan niat baikku ini. Akhirnya aku bikin satu surat cinta lagi, yang sesuai dengan permintaan sun, harus LEBAY! Oho, ini mah gancil. Inilah yang disebut dengan bakat. Pengalaman dicekokin telenovela waktu TK, film India jaman SD, ditambah penonton setia konser dangdutan bikin aku jadi berkpribadian geli nin norak. Malahan waktu masih di pertengahan surat Sun minta ampun nyuruh aku berhenti karna kadar lebaynya terlalu lebay. Halah!
Rut - But - Rut
Sekarang sudah larut,
dan aku lagi kalut,
karna harus segera cabut.
Otak carut marut,
kayak lagi konser dangdut,
yang digoyang Uut.
Menghadapi laut,
melepaskan segala lembut.
Aku takut.
Walaupun kabut,
menggelitik perut,
yang gendut,
persis pesut,
yang nelan sebaskom semut,
walaupun hidup tak semanis dodol garut,
walaupun lumut menyumbat mulut,
Tapi bahagia yang berturut-turut,
harus bisa direnggut.
Verry gut!
dan aku lagi kalut,
karna harus segera cabut.
Otak carut marut,
kayak lagi konser dangdut,
yang digoyang Uut.
Menghadapi laut,
melepaskan segala lembut.
Aku takut.
Walaupun kabut,
menggelitik perut,
yang gendut,
persis pesut,
yang nelan sebaskom semut,
walaupun hidup tak semanis dodol garut,
walaupun lumut menyumbat mulut,
Tapi bahagia yang berturut-turut,
harus bisa direnggut.
Verry gut!
Minggu, 02 Agustus 2009
SELFISH
Setelah setua ini aku baru sadar akan satu hal. Aku adalah manusia yang egois. Jauh lebih egois dari orang yang dijuluki Cinduy "Selfish". Ketika menyadari hal ini aku jadi jijik dengan diri sendiri. Najis. Banyak kejadian yang nunjukin ke egoisanku ini. Sebenernya Cinduy udah lama mendengung-dengungkan hal ini. Tapi dulu aku tuli. Gak denger yang Cinduy bilang. Tapi sekarang, setelah aku liat ke belakang, aku baru ngeh. Terlambat.
Aku mengajak Jubaedah untuk bekerja sama.
Rencana ini aku buat karna aku mau nunjukin kalo aku sudah ikhlas. Aku sudah gak sakit lagi. Aku kuat bediri di dekat dia tanpa ada keinginan buat menjambak rambutnya. Pepet yang kuberitau rencana ini cuma bisa biang 'Kamu yakin? Kalo yakin mah sok atuh jalanin. Tapi kasian Jubaedah lho!' Bukan Mona namanya kalo gak ngeyel dengan apapun yang Pepet bilang. Karna aku selalu beda pendapat sama dia. Tapi kayaknya emang bener dengan ungkapan 'Kalo niat jahat, gak bakal ada jalan' Eh.. Beneran! Selalu ada aja hal yang bikin aku gak jadi kerja sama dengan dia. Sampe aku sadar kalo ini kayaknya jalan dari Tuhan buat nunjukin kalo aku jadi kerja sama dengan dia, mungkin aja hal buruk terjadi.
Menjadikan si permen sebagai pengukur lupa.
Akhirnya aku menjadikan si permen sebagai alat pengukur lupa. Sejauh mana sih aku melepaskannya? Mengikhlaskannya? Jahat memang. Sangat malah! Tapi aku punya pembelaan diri. Aku memerlukan tes pengukur rasa lupaku dan sayangnya dia kurang beruntung ada di saat yang kurang tepat. Pembenaran yang ngaco memang, tapi seenggaknya aku pintar ngeles kan? Hehe.. Hampir aku melakukan hal yang lebih jahat dengan sempat memikirkan untuk menjadikannya tameng. Tapi untungnya, setelah aku masukin kepala ke baskom penuh es aku sadar dan berhasil meloloskan diri. Hufh..
Membiarkan aku tau dan dia tidak.
Ini lebih parah. Aku membiarkan aku tau segala hal tapi dia gak tau sedikitpun. Licik kan? Dengan hanya memikirkan 'malu bukan kepalang' Idiot.
See, aku memang hanya selalu memikirkan diriku. Hidupku. Rasaku.
Aku mengajak Jubaedah untuk bekerja sama.
Rencana ini aku buat karna aku mau nunjukin kalo aku sudah ikhlas. Aku sudah gak sakit lagi. Aku kuat bediri di dekat dia tanpa ada keinginan buat menjambak rambutnya. Pepet yang kuberitau rencana ini cuma bisa biang 'Kamu yakin? Kalo yakin mah sok atuh jalanin. Tapi kasian Jubaedah lho!' Bukan Mona namanya kalo gak ngeyel dengan apapun yang Pepet bilang. Karna aku selalu beda pendapat sama dia. Tapi kayaknya emang bener dengan ungkapan 'Kalo niat jahat, gak bakal ada jalan' Eh.. Beneran! Selalu ada aja hal yang bikin aku gak jadi kerja sama dengan dia. Sampe aku sadar kalo ini kayaknya jalan dari Tuhan buat nunjukin kalo aku jadi kerja sama dengan dia, mungkin aja hal buruk terjadi.
Menjadikan si permen sebagai pengukur lupa.
Akhirnya aku menjadikan si permen sebagai alat pengukur lupa. Sejauh mana sih aku melepaskannya? Mengikhlaskannya? Jahat memang. Sangat malah! Tapi aku punya pembelaan diri. Aku memerlukan tes pengukur rasa lupaku dan sayangnya dia kurang beruntung ada di saat yang kurang tepat. Pembenaran yang ngaco memang, tapi seenggaknya aku pintar ngeles kan? Hehe.. Hampir aku melakukan hal yang lebih jahat dengan sempat memikirkan untuk menjadikannya tameng. Tapi untungnya, setelah aku masukin kepala ke baskom penuh es aku sadar dan berhasil meloloskan diri. Hufh..
Membiarkan aku tau dan dia tidak.
Ini lebih parah. Aku membiarkan aku tau segala hal tapi dia gak tau sedikitpun. Licik kan? Dengan hanya memikirkan 'malu bukan kepalang' Idiot.
See, aku memang hanya selalu memikirkan diriku. Hidupku. Rasaku.
Kemanuy Larinyuy Cinduy Clarissuy Madruy ?
Malam itu aku lagi baca novel sambil denger Ahmad Dhani nyanyi. Malam yang asoy setelah seharian yang bikin encok. Lagi seru-serunya baca handphoneku bunyi, ‘sunsantet’ memanggil. Ane angkat. Sun panik, nanya apa Cinduy bareng aku, Emaknya Cinduy nyariin. Handphone Cinduy ditinggal di rumah. Pinter kan? Refleks aku langsung goyang-goyangin celenganku, tapi isinya cuma koin, Cinduy gak ada (Cinduy emang suka sembunyi di celengan kalo main ke rumahku). Aku kerahkan daya upaya untuk mencari anak hilang ini. Nelpon Nopit. Dia gak ada sama Nopit. Nelponin Chaca, Imel, nada sibuk. Minta nomer Lia ke Mensi sama Debby, begitu ditelponin, handphone Lia juga nada sibuk. Halahh.. Makin paniklah saya. Aku bukannya takut itu anak beneran hilang. Sebenernya sungguh melegakan sih kalo dia beneran hilang, tapi yah aku cuma kasian aja mikirin Fadi** yang bisa stress akut karna kehilangan Cinduy. Ga lucukan kalo Fadi** harus jadi duda sebelum menikah dengan Cinduy.
Aku terus nelponin Chaca, Lia, Imel. Tetep nada sibuk. Aku hampir nyerah setelah semua usaha yang gak ada hasilnya itu. Trus aku nyoba nelponin Imel sekali lagi dan nyambung, akhirnya! Tapi kata-kata Imel malah bikin lebih tambah lemes. Merekanya Imel juga ternyata pada heboh nyariin itu bocah. Tamatlah kalo gitu! Aku udah punya ide aja gitu untuk nelponin Sergap buat melaporkan anak hilang tapi untungnya Sun punya ide lebih masuk akal, nelponin Mamah Cinduy. Setelah nelponin Mamah Cinduy, Sun laporan. Cinduy sudah ditemukan. Dengan selamat (padahal jujur aku berharap akan ada insiden apa gitu biar berasa kaya di tipi-tipi) Ternyata dia pergi ke rumah neneknya. Menurut Mamanya, Cinduy ngambek karna dimarahin Mamanya. Salah Cinduy juga sih, masih delapan belas udah minta kawin. Gak lah! denger cerita Sun bikin emosiku langsung naik ke ubun-ubun. Oh perfect! Good job, Nduy! Kenapa gak sekalian aja bawa koper? Kalo mau sembunyi yang jauhan dikit kek, ke Jombang misalnya. Biar selese di ditelan Ryan. Beneran bikin emosi tau gak? Satu komplek heboh nyariin, kirain diculik ato gimana, e.. taunya cuma karna ‘ngambek’. Bentar dulu, kebagusan juga sih kalo aku mikir dia diculik. Mana ada penculik yang selera nyulik dia. Kalopun ada, aku yakin akan percuma soalnya orang rumahnya (dan aku) pasti bikin selametan untuk ngerayain penculikan Cinduy. Hehe..
Yah.. Begitulah akhirnya, saudara-saudaraku sekalian. Cinduy telah ditemukan. Semuanya lega. Tapi dia harus ingat satu hal! Hidupnya belum aman. Teman-temannya gak akan tinggal diam atas ulahnya ini. Aku sudah berencana untuk ngegantung dia di tiang bendera. Entah apa rencana Sun, terlebih Nopit yang terkenal paling sadis. Bersiaplah, Nduy..
Aku terus nelponin Chaca, Lia, Imel. Tetep nada sibuk. Aku hampir nyerah setelah semua usaha yang gak ada hasilnya itu. Trus aku nyoba nelponin Imel sekali lagi dan nyambung, akhirnya! Tapi kata-kata Imel malah bikin lebih tambah lemes. Merekanya Imel juga ternyata pada heboh nyariin itu bocah. Tamatlah kalo gitu! Aku udah punya ide aja gitu untuk nelponin Sergap buat melaporkan anak hilang tapi untungnya Sun punya ide lebih masuk akal, nelponin Mamah Cinduy. Setelah nelponin Mamah Cinduy, Sun laporan. Cinduy sudah ditemukan. Dengan selamat (padahal jujur aku berharap akan ada insiden apa gitu biar berasa kaya di tipi-tipi) Ternyata dia pergi ke rumah neneknya. Menurut Mamanya, Cinduy ngambek karna dimarahin Mamanya. Salah Cinduy juga sih, masih delapan belas udah minta kawin. Gak lah! denger cerita Sun bikin emosiku langsung naik ke ubun-ubun. Oh perfect! Good job, Nduy! Kenapa gak sekalian aja bawa koper? Kalo mau sembunyi yang jauhan dikit kek, ke Jombang misalnya. Biar selese di ditelan Ryan. Beneran bikin emosi tau gak? Satu komplek heboh nyariin, kirain diculik ato gimana, e.. taunya cuma karna ‘ngambek’. Bentar dulu, kebagusan juga sih kalo aku mikir dia diculik. Mana ada penculik yang selera nyulik dia. Kalopun ada, aku yakin akan percuma soalnya orang rumahnya (dan aku) pasti bikin selametan untuk ngerayain penculikan Cinduy. Hehe..
Yah.. Begitulah akhirnya, saudara-saudaraku sekalian. Cinduy telah ditemukan. Semuanya lega. Tapi dia harus ingat satu hal! Hidupnya belum aman. Teman-temannya gak akan tinggal diam atas ulahnya ini. Aku sudah berencana untuk ngegantung dia di tiang bendera. Entah apa rencana Sun, terlebih Nopit yang terkenal paling sadis. Bersiaplah, Nduy..
Kamis, 23 Juli 2009
Berasa Sangat Buatku, Ga Ngerti Kalo Buat Kamu
Ini sakit, tau! Banget malah..
Sebenernya ini hal yang biasa. Wajar terjadi. Tapi gak tau kenapa ketika kamu menghadapi hal itu sekali lagi, rasanya mau nelan macan hidup-hidup.
Ketika itu kamu sudah melakukann segalanya. Mengangankan kejadian. Merencanakan terbaik. Menjadikannya nyata dengan melakukan segala dengan sehati-hati mungkin. Menutup semua kemungkinan terburuk. Memperjuangkan. Mengalah. Membiarkan hal-hal lain terlewat olehmu. Menyelesaikan masalah yang muncul tiba-tiba. Kamu pasti tersenyum. Merasa hanya yang terbaik yang terjadi. Puas karna semua berjalan di bawah kontrolmu. Tapi terntaya tidak, kawan! Di menit terakhir, sungguh di menit terakhir segalanya berubah. Semua rencana yang kamu susun tamat begitu aja. Tanpa happy ending.
Gimana rasanya?
Dulu aku pernah merasakannya. Bikin nangis sampe mau semaput. Aku belajar dari sakitku. Aku gak mau lagi ngalamin itu. Lebih menghargai, lebih menjaga, lebih hati-hati. Tapi taunya, biar semua udah aku lakuin tetap aja yang terburuk bisa terjadi. Sekali lagi aku ngalaminnya.
Huft.. Nyeri sih. Tapi aku bisa apa? Aku gak tega. Gak akan bisa tega. Ga akan mungkin. Ga akan pernah tega. Cuma sama dia aku jadi lemah gini. Jadi kalah.
Aku kira ikhlas adalah satu-satunya hal terperih dalam hidup, tapi taunya hmm.. ini mengimbanginya..
Sebenernya ini hal yang biasa. Wajar terjadi. Tapi gak tau kenapa ketika kamu menghadapi hal itu sekali lagi, rasanya mau nelan macan hidup-hidup.
Ketika itu kamu sudah melakukann segalanya. Mengangankan kejadian. Merencanakan terbaik. Menjadikannya nyata dengan melakukan segala dengan sehati-hati mungkin. Menutup semua kemungkinan terburuk. Memperjuangkan. Mengalah. Membiarkan hal-hal lain terlewat olehmu. Menyelesaikan masalah yang muncul tiba-tiba. Kamu pasti tersenyum. Merasa hanya yang terbaik yang terjadi. Puas karna semua berjalan di bawah kontrolmu. Tapi terntaya tidak, kawan! Di menit terakhir, sungguh di menit terakhir segalanya berubah. Semua rencana yang kamu susun tamat begitu aja. Tanpa happy ending.
Gimana rasanya?
Dulu aku pernah merasakannya. Bikin nangis sampe mau semaput. Aku belajar dari sakitku. Aku gak mau lagi ngalamin itu. Lebih menghargai, lebih menjaga, lebih hati-hati. Tapi taunya, biar semua udah aku lakuin tetap aja yang terburuk bisa terjadi. Sekali lagi aku ngalaminnya.
Huft.. Nyeri sih. Tapi aku bisa apa? Aku gak tega. Gak akan bisa tega. Ga akan mungkin. Ga akan pernah tega. Cuma sama dia aku jadi lemah gini. Jadi kalah.
Aku kira ikhlas adalah satu-satunya hal terperih dalam hidup, tapi taunya hmm.. ini mengimbanginya..
Senin, 20 Juli 2009
Kepikiran Untuk Berhenti atau Buat Baru
Udah lama sangat gak ngisi blog..
Gak tau kenapa akhir-akhir ini aku jadi semakin malas buat nulis, atau karna aku gak tau mau nulis apa? Entahlah..
Malahan kepikiran buat berhenti nge-blog.Yah.. Atau gak buat blog baru. Sempit banget kayaknya monablogoblok ini sekarang. Bikin sesak napas. Terlalu dangdut, india dan najis. Isinya hal-hal yang ga guna. Tapi gak tau deh. Masih bingung juga. Kadang sayang ninggalin blog dangdut (kalo ingat isinya tentang yang asoy-asoy) ini tapi kadang juga mau muntah kalo ngebukanya (kalo ingat isinya tentang yang ga asoy).
Trus gimana dong?
Gak tau kenapa akhir-akhir ini aku jadi semakin malas buat nulis, atau karna aku gak tau mau nulis apa? Entahlah..
Malahan kepikiran buat berhenti nge-blog.Yah.. Atau gak buat blog baru. Sempit banget kayaknya monablogoblok ini sekarang. Bikin sesak napas. Terlalu dangdut, india dan najis. Isinya hal-hal yang ga guna. Tapi gak tau deh. Masih bingung juga. Kadang sayang ninggalin blog dangdut (kalo ingat isinya tentang yang asoy-asoy) ini tapi kadang juga mau muntah kalo ngebukanya (kalo ingat isinya tentang yang ga asoy).
Trus gimana dong?
Tua Telah Tiba
Waktu
Berlalu
Tanpa pernah menunggu
Meninggalkanku
Yang semakin gagu
Menangis tersedu-sedu
Menyesakkan paru
Meninggalkan masa lalu
Semakin kesini aku semakin ngerasa kalo 'waktu gak pernah nungguin kita' dia tetep aja gitu lari dengan kencangnya tanpa peduli kalo kita lagi ngerasa sangat capek dan jenuh trus pengen istirahat sebentar, santai, minum-minum atau cuma buat narik napas sejenak atau malah cuma buat lipat tangan dan mengulang segala kejadian yang lewat. Kayak gitulah istilahnya kalo mau sok pinter dikit.
Ngerasa gak sih kalo kalian juga ditinggalin waktu? Kayaknya semua cepat sekali lewatnya. Perasaan baru kemaren, eh.. taunya kejadian bulan lalu, tahun lalu..
Dan tiba-tiba.. TADA.. kita udah menua. Benar sekali teman-teman, kita semakin tua. Rambut yang memutih, kulit keriput, dan jadi pikun. Gak lah. Gak sedrastis itu. Tapi rasanya seperti itu. Kayak bangun tidur, tau-tau sekeliling menjadi tua. Banyak hal yang berkembang tanpa kita sadari. Seperi berjalan sendiri. Buktinya..
Gila.. Bentar lagi aku delapan belas tahun. Perasaan baru tadi pagi aku belajar jalan, tadi siang aku main ayunan di TK, tadi sore aku pake rok lipit merah, dan sedetik yang aku lulus SMA. Hmm.. Hal-hal kayak gini yang bikin males. Menjadi tua berarti harus berjuang sendiri. Pasti (bukan harus) punya tanggung jawab lebih. Gak mungkin lagi disuapin Mami. Maksudnya, ketika kamu dipaksa keadaan untuk memilih jalan sendiri dan menjalaninya. Entah kenapa aku ngerasa belum siap ngejalanin semuanya nanti, sendiri. Atau mungkin ragu ini datang cuma karna aku belum bertarung dengannya? Tapi sangatlah bodoh kalo aku sampe kalah dengan keadaan. Sangatlah tolol kalo aku gak bisa beradaptasi dan bertahan. Karena ini pilihanku. Anganku.
Berlalu
Tanpa pernah menunggu
Meninggalkanku
Yang semakin gagu
Menangis tersedu-sedu
Menyesakkan paru
Meninggalkan masa lalu
Semakin kesini aku semakin ngerasa kalo 'waktu gak pernah nungguin kita' dia tetep aja gitu lari dengan kencangnya tanpa peduli kalo kita lagi ngerasa sangat capek dan jenuh trus pengen istirahat sebentar, santai, minum-minum atau cuma buat narik napas sejenak atau malah cuma buat lipat tangan dan mengulang segala kejadian yang lewat. Kayak gitulah istilahnya kalo mau sok pinter dikit.
Ngerasa gak sih kalo kalian juga ditinggalin waktu? Kayaknya semua cepat sekali lewatnya. Perasaan baru kemaren, eh.. taunya kejadian bulan lalu, tahun lalu..
Dan tiba-tiba.. TADA.. kita udah menua. Benar sekali teman-teman, kita semakin tua. Rambut yang memutih, kulit keriput, dan jadi pikun. Gak lah. Gak sedrastis itu. Tapi rasanya seperti itu. Kayak bangun tidur, tau-tau sekeliling menjadi tua. Banyak hal yang berkembang tanpa kita sadari. Seperi berjalan sendiri. Buktinya..
Gila.. Bentar lagi aku delapan belas tahun. Perasaan baru tadi pagi aku belajar jalan, tadi siang aku main ayunan di TK, tadi sore aku pake rok lipit merah, dan sedetik yang aku lulus SMA. Hmm.. Hal-hal kayak gini yang bikin males. Menjadi tua berarti harus berjuang sendiri. Pasti (bukan harus) punya tanggung jawab lebih. Gak mungkin lagi disuapin Mami. Maksudnya, ketika kamu dipaksa keadaan untuk memilih jalan sendiri dan menjalaninya. Entah kenapa aku ngerasa belum siap ngejalanin semuanya nanti, sendiri. Atau mungkin ragu ini datang cuma karna aku belum bertarung dengannya? Tapi sangatlah bodoh kalo aku sampe kalah dengan keadaan. Sangatlah tolol kalo aku gak bisa beradaptasi dan bertahan. Karena ini pilihanku. Anganku.
Kamis, 25 Juni 2009
Yes.. Yes.. Yes..
Terimakasih Tuhan..
Diriku aman..
Tak ada lagi sakit kepalaku..
Lepas resahku..
Kembali tenangku..
Saatnya tarian kegembiraan..
Saatnya nyanyian kebahagiaan..
Bahagia bukan kepalang..
Ahai.. Ahai..
Diriku aman..
Tak ada lagi sakit kepalaku..
Lepas resahku..
Kembali tenangku..
Saatnya tarian kegembiraan..
Saatnya nyanyian kebahagiaan..
Bahagia bukan kepalang..
Ahai.. Ahai..
Entahlah.. Bingung Saya!
Salah set aku, wal!
Bikin malu seumur hidup jaa..
Hilang harga diriku..
Ketauan begonya aku..
Kbongkar rasaku..
Huaaaaaaaa..
Sembunyi di mana yoo?
Di belakang Cinduy, ga muat..
Di belakang Nopit, takut tertular virus bolot..
Di belakang Sun, pasti dijewer..
Cuma bisa berharap,
Semoga ga ketemu lagi..
Kalopun ketemu..
Semoga aku pintar 'menjaga ekspresi'
Bikin malu seumur hidup jaa..
Hilang harga diriku..
Ketauan begonya aku..
Kbongkar rasaku..
Huaaaaaaaa..
Sembunyi di mana yoo?
Di belakang Cinduy, ga muat..
Di belakang Nopit, takut tertular virus bolot..
Di belakang Sun, pasti dijewer..
Cuma bisa berharap,
Semoga ga ketemu lagi..
Kalopun ketemu..
Semoga aku pintar 'menjaga ekspresi'
Minggu, 21 Juni 2009
LULUS
Ahai.. Ahai..
Ane lulus, coy!
Thx God..
Horee..
Setelah hampir dua bulan jantung dimainin, keluar juga hasil UAN-nya. Nilai-nilainya juga udah keluar. Yang bikin shock adalah nilai matematika ane 8,5 wal! Hahaha.. Mami aja sampe punya rencana bikin slametan tujuh hari tujuh malam saking ga nyangkanya. Maklumlah, di antara semua anank-anak Mami, dakulah yang ter-oon.
Hahaha..
Yang jelas ane lega sangat lulus UAN..
Yang jelas ane lega sangat seangkatan lulus UAN..
Ane lulus, coy!
Thx God..
Horee..
Setelah hampir dua bulan jantung dimainin, keluar juga hasil UAN-nya. Nilai-nilainya juga udah keluar. Yang bikin shock adalah nilai matematika ane 8,5 wal! Hahaha.. Mami aja sampe punya rencana bikin slametan tujuh hari tujuh malam saking ga nyangkanya. Maklumlah, di antara semua anank-anak Mami, dakulah yang ter-oon.
Hahaha..
Yang jelas ane lega sangat lulus UAN..
Yang jelas ane lega sangat seangkatan lulus UAN..
Minggu, 14 Juni 2009
DoakuDoamu
Deg-degan..
Nungguin pengumuman
Tentang kelulusan
Bikin gemeteran
Ada yang punya saran,
Jantung ini diapakan?
Biar ga keliaran
Dan kembali berdetak beraturan..
Jangan sampe mata kaya kran,
Air mata berhamburan
Karna kegagalan..
Jauhkan bala badan pingsan
Butuh pertolongan
Karna tak kuasa menerima kekalahan..
Semoga semua baik berjalan,
Semanis gulali paman
Menggenggam kemenangan
Di tangan kanan
Semoga ini bukan sekedar khayalan
Di angan-angan
Semoga kelulusan
Buat teman-teman seangkatan
Walau tanpa nilai sembilan
Menjadi kenyataan
AMIN
Nungguin pengumuman
Tentang kelulusan
Bikin gemeteran
Ada yang punya saran,
Jantung ini diapakan?
Biar ga keliaran
Dan kembali berdetak beraturan..
Jangan sampe mata kaya kran,
Air mata berhamburan
Karna kegagalan..
Jauhkan bala badan pingsan
Butuh pertolongan
Karna tak kuasa menerima kekalahan..
Semoga semua baik berjalan,
Semanis gulali paman
Menggenggam kemenangan
Di tangan kanan
Semoga ini bukan sekedar khayalan
Di angan-angan
Semoga kelulusan
Buat teman-teman seangkatan
Walau tanpa nilai sembilan
Menjadi kenyataan
AMIN
Minggu, 07 Juni 2009
Aku Sembuh
Aku sembuh!!
Dan seharusnya gak akan 'sakit' lagi..
Aku ikhlas!!
Dan seharusnya gak akan 'nyeri' lagi..
Aku bahagia!!
Dan seharusnya gak akan pernah berhenti..
Dan seharusnya gak akan 'sakit' lagi..
Aku ikhlas!!
Dan seharusnya gak akan 'nyeri' lagi..
Aku bahagia!!
Dan seharusnya gak akan pernah berhenti..
Perpisahan, Akhir Dari Segalanya?
Perpisahan. Satu kata ini yang bikin anak-anak kelas 12 heboh, terutama para cewek. Kehebohan terasa sebulan sebelum acara. Mungkin para cowok akan geleng-geleng kepala sambil dalam hati bilng 'berlebihan'. Tapi itulah cewek. Banyak hal yang harus diurusin. Mulai dari kepala sampe kaki. Gak kaya cowo yang modal hem sama jeans doang. Para cewek akan heboh mikirin baju, make-up, hair do, sampe aksesoris. Begitu juga sekolahku. Teman-temanku. Dan aku. Heboh sana sini. Heboh yang menyenangkan. Setelah semua persiapan beres. Acara pun dimulai..
Untuk tahun ini, bolehlah. Belum lagi dengan sedikit surprise di akhir acara dari Torang and the gank yang bikin film ala-ala Catatan Akhir Sekolah gitu. Lucu sangat. Oya, ditambah lagi dengan kemenangan Nopit sama Andi sebagai best dress. Congratz! Ada yang kurang sih, acara nangis-nangisnya mana? Biar lebih terasa gitu. Padahal dalam bayanganku, perpisahan akan banjir air mata. Dengan lagu-lagu persahabatan sebagi latarnya. Huhu..
Setelah perpisahan ini, semuanya terpisah. Pisah dari guru-guru yang kadang menyebalkan tapi tetep ngangenin. Pisah dari Mas Pur yang pentolnya top abis. Pisah dari Pak Jhon yang baik. Dan yang paling parah, pisah sama kalian semua, teman-temanku! Mencar-mencar semua. Gak akan ada lagi begadang bareng ngerjain soal menjelang UAN. Pergi ke panti asuhan. Poto-poto dimanapun kita berada. Ngegosip lesehan ala SADIS3. Melakukan penyelidikan ala Conan. Ejek-ejekan sampe kenyang. Bikin nangis Sun. Noyor kepala Cin. Ngetawain kebolotan Nopit. Jajan di SPENDA. Dihukum nyanyi bareng karna telat pelajaran Sejarah. Huaaaaaaaaaa... Semuanya keren! Semuanya bikin senyum-senyum sendiri kalo diingat. Tapi janji ya kita tetep keep in touch? Biar kamu udah jadi penulis, Nduy! Biar kamu udah jadi pegawai bank, Pit! Biar kamu udah jadi bini Owi, Sun! Eh.. maksudku akuntan, Sun!
Aku akan kangen kalian, semuaaa..
Pasti!
Untuk tahun ini, bolehlah. Belum lagi dengan sedikit surprise di akhir acara dari Torang and the gank yang bikin film ala-ala Catatan Akhir Sekolah gitu. Lucu sangat. Oya, ditambah lagi dengan kemenangan Nopit sama Andi sebagai best dress. Congratz! Ada yang kurang sih, acara nangis-nangisnya mana? Biar lebih terasa gitu. Padahal dalam bayanganku, perpisahan akan banjir air mata. Dengan lagu-lagu persahabatan sebagi latarnya. Huhu..
Setelah perpisahan ini, semuanya terpisah. Pisah dari guru-guru yang kadang menyebalkan tapi tetep ngangenin. Pisah dari Mas Pur yang pentolnya top abis. Pisah dari Pak Jhon yang baik. Dan yang paling parah, pisah sama kalian semua, teman-temanku! Mencar-mencar semua. Gak akan ada lagi begadang bareng ngerjain soal menjelang UAN. Pergi ke panti asuhan. Poto-poto dimanapun kita berada. Ngegosip lesehan ala SADIS3. Melakukan penyelidikan ala Conan. Ejek-ejekan sampe kenyang. Bikin nangis Sun. Noyor kepala Cin. Ngetawain kebolotan Nopit. Jajan di SPENDA. Dihukum nyanyi bareng karna telat pelajaran Sejarah. Huaaaaaaaaaa... Semuanya keren! Semuanya bikin senyum-senyum sendiri kalo diingat. Tapi janji ya kita tetep keep in touch? Biar kamu udah jadi penulis, Nduy! Biar kamu udah jadi pegawai bank, Pit! Biar kamu udah jadi bini Owi, Sun! Eh.. maksudku akuntan, Sun!
Aku akan kangen kalian, semuaaa..
Pasti!
WTF!??
Oke. sekarang aku lagi keringat dingin di depan komputer. Pake gigit-gigit bibir juga. Panik lebih tepatnya. Heboh nelponin Bang Do sama Mami. Gimana gak kalo aku baru aja baca tentang calon sekolahku yang dihina-hina. Jelek katanya. Kacangan. Takutlah saya. langsung nelpon Bang Do, 'Bang, sekolah itu bagus ga sih?' Fyi, kemaren Papi sama Bang Do udah survei liat itu sekolah. 'Biasa aja. Ga keren. Sekolah tua' Makin ciutlah saya. Huhuhu.. Emang itu sekolah lama, dari tahun 1980 kalo ga salah. Tapi katanya banyak orang keren lulusan sana. Lulusannya jadi semua. Murid-muridnya masuk BAZAAR. Semua orang muji-muji. Dilema lah saya. Aku musti percaya yang mana? Orang-orang yang muji atau yang benci? Huh..
Kenapa untuk milih sekolah aja perlu kepusingan seperti ini sih?
Bikin sakit kepala..
Ini adalah sekolah yang kesekian yang aku incar. Yang pertama jauh mampus dari kost-an Bang Do, mahal pula. Yang satunya yang bagus cuma pelajaran bisnisnya aja. Yang terakhir aliran Jepang, ane ga hobby. Inilah yang terpilih. Deket, ga mahal-mahal banget, masuknya ga peke tes, terima murid se-oon apapun. Hehe.. Kriteria yang terakhir aku banget. Tapi setelah baca sebuah tulisan di internet, bikinku kalut. Sebobrok itukah calon sekolahku?
Setelah nenangin diri, aku mulai bisa mikir. Lanjut atau mundur? Aku memutuskan untuk ... lanjut! Cita-citaku ga boleh terhalang cuma karna tulisan seseorang. Gak boleh berhenti di saat kumulai pun belum. Lebih baik aku mendengarkan yang positif aja. Bodo amat sama yang sensi. Bego kalo aku terpengaruh sama kata orang. Kalo pun emang jelek, so what? Dan yang paling penting, ilmunya dimana-mana sama aja kan?
Kenapa untuk milih sekolah aja perlu kepusingan seperti ini sih?
Bikin sakit kepala..
Ini adalah sekolah yang kesekian yang aku incar. Yang pertama jauh mampus dari kost-an Bang Do, mahal pula. Yang satunya yang bagus cuma pelajaran bisnisnya aja. Yang terakhir aliran Jepang, ane ga hobby. Inilah yang terpilih. Deket, ga mahal-mahal banget, masuknya ga peke tes, terima murid se-oon apapun. Hehe.. Kriteria yang terakhir aku banget. Tapi setelah baca sebuah tulisan di internet, bikinku kalut. Sebobrok itukah calon sekolahku?
Setelah nenangin diri, aku mulai bisa mikir. Lanjut atau mundur? Aku memutuskan untuk ... lanjut! Cita-citaku ga boleh terhalang cuma karna tulisan seseorang. Gak boleh berhenti di saat kumulai pun belum. Lebih baik aku mendengarkan yang positif aja. Bodo amat sama yang sensi. Bego kalo aku terpengaruh sama kata orang. Kalo pun emang jelek, so what? Dan yang paling penting, ilmunya dimana-mana sama aja kan?
Senin, 18 Mei 2009
Merindu
Musim liburan kayak ini yang bikin sakit. Pisah dari sekolah. Lepas dari seragam. Jauh dari teman-temanku nan imbisil. Belum juga seminggu, udah bikinku gagu.
Mungkin ini terdengar cemen, tapi AKU KANGEN !!
Mungkin ini terdengar cemen, tapi AKU KANGEN !!
Selasa, 12 Mei 2009
Hahaha.. Huhuhu..
Akankah tertawa berlebihan hari ini membuatmu menangis keesokkan harinya?
Aku harap tidak. Karna itulah yang aku lakukan hari ini, ketawa sampe kram mulut dan perut melilit.
Aku berharap setiap hari aku lewati dengan begini. Dengan ketawa tiada henti. Tanpa ada kepusingan. Sungguh bodoh, Mona! Gak cuma kamu, satu duniapun menginginkan itu..
Aku harap tidak. Karna itulah yang aku lakukan hari ini, ketawa sampe kram mulut dan perut melilit.
Aku berharap setiap hari aku lewati dengan begini. Dengan ketawa tiada henti. Tanpa ada kepusingan. Sungguh bodoh, Mona! Gak cuma kamu, satu duniapun menginginkan itu..
Senin, 11 Mei 2009
Tapi, Apa? (Part 2)
Tapi aku tidak peduli..
Apa tidak peduli namanya kalo masih mencari bayangnya?
Tapi aku boss..
Apa boss namanya kalo masih dianakbuahi oleh mata, otak, dan rasa?
Tapi aku ikhlas..
Apa ikhlas namanya kalo masih ada keinginan untuk menjambak Jubaedah?
Tapi rasa telah jatuh..
Apa bodoh?
Tapi rasa telah jatuh..
Apa salah?
Tapi rasa telah jatuh..
Apa mundur?
Apa tidak peduli namanya kalo masih mencari bayangnya?
Tapi aku boss..
Apa boss namanya kalo masih dianakbuahi oleh mata, otak, dan rasa?
Tapi aku ikhlas..
Apa ikhlas namanya kalo masih ada keinginan untuk menjambak Jubaedah?
Tapi rasa telah jatuh..
Apa bodoh?
Tapi rasa telah jatuh..
Apa salah?
Tapi rasa telah jatuh..
Apa mundur?
Tapi, Apa?
Tapi aku sudah melupakannya..
Apa melupakan namanya kalo selalu mengingat yang sudah basi?
Tapi aku bangun..
Apa bangun namanya kalo masih selalu memimpikannya?
Tapi aku waras..
Apa waras namanya kalo masih selalu tertawa tanpa sebab?
Tapi aku pintar..
Apa pintar namanya kalo terus membodohi diri sendiri?
Tapi aku sembuh..
Apa sudah sembuh namanya kalo sakitnya masih terasa?
Apa melupakan namanya kalo selalu mengingat yang sudah basi?
Tapi aku bangun..
Apa bangun namanya kalo masih selalu memimpikannya?
Tapi aku waras..
Apa waras namanya kalo masih selalu tertawa tanpa sebab?
Tapi aku pintar..
Apa pintar namanya kalo terus membodohi diri sendiri?
Tapi aku sembuh..
Apa sudah sembuh namanya kalo sakitnya masih terasa?
REMUK REDAM
Aku remuk,
tanpa bentuk
Aku redam,
tanpa dendam
Berawal kelam,
berakhir lebam
dan kram..
Pertama kau ketuk,
kedua kau keruk
Terasa seperti garam, yang diperas asam
Lalu kau tinggal sampai lapuk dan terpuruk..
tanpa bentuk
Aku redam,
tanpa dendam
Berawal kelam,
berakhir lebam
dan kram..
Pertama kau ketuk,
kedua kau keruk
Terasa seperti garam, yang diperas asam
Lalu kau tinggal sampai lapuk dan terpuruk..
Sakit Kepala
Ujian yang bederet-deret, belum nyari kampus di mana anak-anak seangkatan udah semua, jantung senut-senut nungguin pengumuman, kerjaan yang jalan di tempat, Jubaedah keliaran, dan segambreng kepusingan lainnya. Jujur, yang bikin aku bertahan cuma teman-temanku, SADIS3, yang slalu sukses buatku ngakak. Gak kebayang pisah sama kalian. Terlalu banyak hal yang kita lewatin bareng, teman..
Hiks..
Hiks..
Jumat, 24 April 2009
Kalah, TELAK!
Iya, aku kalah dengan keadaan. Kalah dengan otak dan hatiku. Aku nyerah! Kali ini mereka yang menang karna mereka udah bener-bener liar, ga bisa dikendaliin lagi.
Kamu boleh senyum bahagia..
Kamu pantas teriakin yel-yel kemenangan..
Aku kalah sama kamu, TELAK!!
Pasti kalian udah besekutu untuk melawanku. Aku udah gak bisa apa-apa lagi, aku cuma bisa ngikutin mau kalian semua, dengan pasrah..
Kamu boleh senyum bahagia..
Kamu pantas teriakin yel-yel kemenangan..
Aku kalah sama kamu, TELAK!!
Pasti kalian udah besekutu untuk melawanku. Aku udah gak bisa apa-apa lagi, aku cuma bisa ngikutin mau kalian semua, dengan pasrah..
Surat Untuk Pepet
Tolong, Pet..
Ada copet. Bukan maling dompet. Bukan juga maling karpet. Dia nyuri aset. Bikin lahan segede kebun karet. Bahagia yang jadi target, ternyata meleset.
Waktunya udah mepet. Bikin aku lari dan jatuh lecet-lecet. Eh.. Dia malah cuma ngunyah permen karet. Rasanya pengen aku lempar pake ceret.
Eh, ternyata dia Kedongpret. Gak akan tega aku bikin jadi kornet. Dasar monyet! Bikin sakeet..
Ada copet. Bukan maling dompet. Bukan juga maling karpet. Dia nyuri aset. Bikin lahan segede kebun karet. Bahagia yang jadi target, ternyata meleset.
Waktunya udah mepet. Bikin aku lari dan jatuh lecet-lecet. Eh.. Dia malah cuma ngunyah permen karet. Rasanya pengen aku lempar pake ceret.
Eh, ternyata dia Kedongpret. Gak akan tega aku bikin jadi kornet. Dasar monyet! Bikin sakeet..
Senin, 13 April 2009
Ralat
Oya, kemaren temanku, ChaCha nanya 'Mon, yakin nama panti asuhannya KALAWA ATEI?' Aku ngotot bilang kalo emang itu namanya, pas aku kroscek ternyata.. Aku yang salah! Bego!!
Dengan penuh maaf aku mau ralat kalo nama panti asuhan yang SADIS3 datangi itu adalah KALAWA ASIE, bukan KALAWA ATEI seperti yang aku sebutkan dengan percaya diri, karna ternyata KALAWA ATEI adalah Rumah Sakit Jiwa..
Dengan penuh maaf aku mau ralat kalo nama panti asuhan yang SADIS3 datangi itu adalah KALAWA ASIE, bukan KALAWA ATEI seperti yang aku sebutkan dengan percaya diri, karna ternyata KALAWA ATEI adalah Rumah Sakit Jiwa..
Karma Sebuah Dilema, Dilema Sebuah Karma.
Tolong Mama..
Aku lagi dilema. Mungkin ini karma. Akan perbuatanku di waktu lama. Hal kaya ginilah yang selalu bikin asma. Seperti tersiram magma. Menyesakkan diafragma. Hanya karna sebuah nama.
Kini semua tak akan pernah sama..
Tak akan pernah kembali seperti pertama. Akan kujalani dengan seksama. Melewatinya dengan prima. Agar rasa tak terbuang percuma. Agar berakhir dengan rasa kurma..
Aku lagi dilema. Mungkin ini karma. Akan perbuatanku di waktu lama. Hal kaya ginilah yang selalu bikin asma. Seperti tersiram magma. Menyesakkan diafragma. Hanya karna sebuah nama.
Kini semua tak akan pernah sama..
Tak akan pernah kembali seperti pertama. Akan kujalani dengan seksama. Melewatinya dengan prima. Agar rasa tak terbuang percuma. Agar berakhir dengan rasa kurma..
Jumat, 03 April 2009
Hujan Dengar Aku
Hujan kayaknya selalu tau hatiku. Dia datang lagi malam ini, disaat aku memang lagi butuh waktu buat sendiri. Hujan hadir buat temani aku. Dikala aku dilema. Bimbang. Disaat aku benar-benar mengharapkan ia hadir di sini
Mari hujan, kita bersama rasakan ini. Resapi ini. Tuntun aku mencari jawabannya yang mungkin tersembunyi di balik dinginmu. Bantu aku menghadapi ini. Melewati semua dengan indah..
Mari hujan, kita bersama rasakan ini. Resapi ini. Tuntun aku mencari jawabannya yang mungkin tersembunyi di balik dinginmu. Bantu aku menghadapi ini. Melewati semua dengan indah..
SADIS3 Goes to Panti
Liburan Nyepi kemaren, anak SADIS3 (Sekumpulan Anak Dalam Ilmu Sosial 3) sepakat pergi ke panti asuhan. Bermodalkan niat mulia nan tulus tiada tara kami pergi ke Panti Asuhan KALAWA ATEI di Tangkiling dengan nyewa truk polisi. Kenapa truk polisi? Karna kami takut pantat tepos kalo ngesot sampe Tangkiling dan karna kami gak rela betis jadi segede konde gara-gara jalan kaki. Hehe.. Acara ke panti ini sebenernya berawal dari kemenangan SADIS3 dalam Lomba Bazaar Ulang Tahun Sekolah kemaren. SADIS3 dengan sadisnya merebut juara satu dengan keuntunggan paling besar. Huaa.. Kebayar deh capeknya jualan es gong. Nah, jadi ceritanya sebagai bentuk rasa syukur kami karna menang bazzar itulah kami berniat untuk ngasi sedikit bantuan ke ade-ade di panti asuhan.
Sebenernya untuk keberangkatan kali ini cuma dibentuk dua halte. Rumah Mando dan rumah Satrio. Tapi jangan sebut Mona kalo gak licik. Dengan alasan 'rumah aye sejalur dengan Tangkiling', daku dan beberapa prajurit membentuk kubu baru di rumahku. Haha.. Jadi, dirumahku kumpul lah beberapa anggota kayak Ari (sang kepala suku), Tri Ayu, Risa, Mery, Ria, Nopit sepaket imbisil dengan Andi. Sepanjang jalan kerjaan kita (ato lebih tetatnya aku)cuma foto-foto sama ngegosip sambil tak lupa ngemil untuk menambah daya tahan (berat badan) tubuh. Aku juga jaga jarak sama Cinduy yang emang mabokan orangnya. Gak lucu kan kalo hem ane kena muntahannya? Hehe.. Ya gak lah, nduy! Peace!
Akhirnya kita nyampe juga di Panti Asuhan KALAWA ATEI. Begitu liat pantinya, deg! Ke-pause saya, serius! Pantinya cuma terbuat dari kayu gitu dan ukurannya juga ga besar-besar amat. Padahal anak-anaknya banyak mampus. Asli, gak kebayang gimana mereka tidur. Pas masuk aku juga gak liat ada kamar di sana. Gak ada ruang makan juga. Bikin saya monangis.
Trus, kita main-main sama ade-ade panti itu. Main nyalurin karet gelang pake sedotan lah, pesan berantai lah, dll. Bagian terparah dari permainan ini adalah kalo kalah, hukumannya adalah.. Nyanyi! Suer, nyanyi adalah hal terburuk kedua yang aku hindari jauh-jauh setelah lari. Ampun saya! Karna itulah, aku bersekutu dengna ade di sebelahku untuk berjuang mati-matian agar tak dihukum. Untunglah Ricky (nama si ade) udah terlatih dalam hal-hal kayak gini. Hufh.. Selamat saya, eh.. Kami!
Pokoknya hari itu sangat menyenangkan. Capek emang, tapi seru. Puas ketawa. Sepulang dari panti aku dapat banyak hal baru. Pelajaran baru. Aku gak boleh kalah sama mereka yang tetep kuat walau hidup pas-pasan, yang tetap senyum walau udah gak ada orang tua. Aku, seorang MOna, yang hidup cukup yang punya Papi Mami seharusnya jauh lebih bahagia dan bersyukur daripada mereka..
Sebenernya untuk keberangkatan kali ini cuma dibentuk dua halte. Rumah Mando dan rumah Satrio. Tapi jangan sebut Mona kalo gak licik. Dengan alasan 'rumah aye sejalur dengan Tangkiling', daku dan beberapa prajurit membentuk kubu baru di rumahku. Haha.. Jadi, dirumahku kumpul lah beberapa anggota kayak Ari (sang kepala suku), Tri Ayu, Risa, Mery, Ria, Nopit sepaket imbisil dengan Andi. Sepanjang jalan kerjaan kita (ato lebih tetatnya aku)cuma foto-foto sama ngegosip sambil tak lupa ngemil untuk menambah daya tahan (berat badan) tubuh. Aku juga jaga jarak sama Cinduy yang emang mabokan orangnya. Gak lucu kan kalo hem ane kena muntahannya? Hehe.. Ya gak lah, nduy! Peace!
Akhirnya kita nyampe juga di Panti Asuhan KALAWA ATEI. Begitu liat pantinya, deg! Ke-pause saya, serius! Pantinya cuma terbuat dari kayu gitu dan ukurannya juga ga besar-besar amat. Padahal anak-anaknya banyak mampus. Asli, gak kebayang gimana mereka tidur. Pas masuk aku juga gak liat ada kamar di sana. Gak ada ruang makan juga. Bikin saya monangis.
Trus, kita main-main sama ade-ade panti itu. Main nyalurin karet gelang pake sedotan lah, pesan berantai lah, dll. Bagian terparah dari permainan ini adalah kalo kalah, hukumannya adalah.. Nyanyi! Suer, nyanyi adalah hal terburuk kedua yang aku hindari jauh-jauh setelah lari. Ampun saya! Karna itulah, aku bersekutu dengna ade di sebelahku untuk berjuang mati-matian agar tak dihukum. Untunglah Ricky (nama si ade) udah terlatih dalam hal-hal kayak gini. Hufh.. Selamat saya, eh.. Kami!
Pokoknya hari itu sangat menyenangkan. Capek emang, tapi seru. Puas ketawa. Sepulang dari panti aku dapat banyak hal baru. Pelajaran baru. Aku gak boleh kalah sama mereka yang tetep kuat walau hidup pas-pasan, yang tetap senyum walau udah gak ada orang tua. Aku, seorang MOna, yang hidup cukup yang punya Papi Mami seharusnya jauh lebih bahagia dan bersyukur daripada mereka..
Mau Apa?
Hujan kali ini membiarkanku bermain dengan hatiku. Merenungkan segalanya. Sendiri. Tanpa teriakan toa Cinduy, tanpa rambut keriting Sun, tanpa virus bolot Nopit. Semuanya keputar lagi sekarang. Keingat akan yang sudah lewat. Terlambat. Sudah basi. Kadaluarsa. Gak ada guna sebenernya untuk mengingat itu semua. Cuma bikin sesak, lagi. Cuma bikin nyeri, lagi. Padahal aku mau keluar dan main hujan. Basah-basahan mungkin akan melegakan sedikit sesakku. Menyembuhkan sedikit nyeriku. Biar berlalu bersama hujan. Mengalir dan mengendap. Tapi Mami gak pernah setuju dengan usulku ini. Nanti sakit, selalu jadi senjata ampuh Mami. Jadi ya di sinilah aku. Duduk bersila di kamar. Menatap hujan dari jendela. Dengan ditemani suara Oom Keith Martin tentunya.
Kadang aku marah dengna diriku sendiri. Otakku. Terlebih hatiku yang gak bisa diajak kerja sama. Gak bisa kompromi. Gak mau nurutin apa kataku. Padahal akulah bos mereka yang berhak mengatur dan memerintah mereka sesuka hati. Tapi entah kenapa belakangan ini malah mereka yang mengaturku. Menentukan jalanku. Aku bilang stop, otak bilang jangan, hati bilang lanjut. Aku bilang buang, otak teriak jangan, hati teriak simpan.
Oh.. Kalian mau apa sih sebenernya?
Bersekutu melawanku?
Kita lihat saja siapa yang menang..
Kadang aku marah dengna diriku sendiri. Otakku. Terlebih hatiku yang gak bisa diajak kerja sama. Gak bisa kompromi. Gak mau nurutin apa kataku. Padahal akulah bos mereka yang berhak mengatur dan memerintah mereka sesuka hati. Tapi entah kenapa belakangan ini malah mereka yang mengaturku. Menentukan jalanku. Aku bilang stop, otak bilang jangan, hati bilang lanjut. Aku bilang buang, otak teriak jangan, hati teriak simpan.
Oh.. Kalian mau apa sih sebenernya?
Bersekutu melawanku?
Kita lihat saja siapa yang menang..
Jumat, 20 Maret 2009
Menyerah
Rasa yang salah
Otakku diperah
Sampe bedarah-darah
Pipi basah
Tanpa bisa dicegah
Mencoba gagah
Meskipun susah
Tambah parah
Dan akhirnya..
Menyerah..
Otakku diperah
Sampe bedarah-darah
Pipi basah
Tanpa bisa dicegah
Mencoba gagah
Meskipun susah
Tambah parah
Dan akhirnya..
Menyerah..
Peluang Untuk Belajar
Aku selalu suka belajar dari masalah orang lain. Mungkin terdengar licik. Tapi bagiku, aku menganggap diriku cukup pintar. Menggunakan peluang ini untuk belajar. Bercermin dari masalah orang lain untuk memperbaiki diri sendiri. Di saat mendengar curhat teman tentang masalahnya, bukan cuma kupingku yang bekerja. Tapi otak dan hati pun ikut ambil bagian. Dari sinilah aku belajar. Belajar untuk selalu bersyukur. Belajar untuk berpikir. Belajar untuk melihat. Belajar untuk mendengar. Belajar untuk merasa. Belajar untuk belajar.
Sebenernya di saat 'mereka' cerita masalahnya adalah bagian terjujur dari diri mereka. Semua emosi keluar tanpa ada yang ditutupi. Sedih, marah, kecewa tumpah. Dari sini juga kita bisa menilai bagaimana cara dia mengontrol hati dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Akan keliatan mana yang tenang mana yang cengeng mana yang emosian. Inilah yang menjadi modul pembelajaranku untuk bisa melihat sebuah masalah dari berjuta sudut pandang.
Ketika salah seorang teman cerita tentang masalahnya dan keluarganya, dalam hati aku jerit 'thanks God sudah ngasih aku keluarga terbaik yang bisa aku punya'. Mendengar ceritanya membuatku bertekad untuk 1000 kali lebih sayang lagi sama keluargaku. Lebih nurut, gak nakal. Sungguh, keluargaku (Papi, Mami, Bang Do, Bang Rio) adalah orang terbaik yang pernah aku punya. Pendorong semangatku, pendukung pilihanku, pengontrol hidupku, penghibur sedihku. Spirit dalam hidup. Muachh-lah pokoknya.. Tuhan terlalu baik mengirimkan empat orang baik sekaligus hadir dalam hidupku karena itulah aku gak akan menyia-nyiakannya dan berjuang sekuatnya untuk menjaga, menyayangi, dan membahagikan mereka.
Lalu, untuk temanku yang merasa 'bermasalah' dengan keluarganya, apa yang harus dia lakukan? Bersyukurlah. Untuk apa? Setidaknya kamu masih punya keluarga..
Sebenernya di saat 'mereka' cerita masalahnya adalah bagian terjujur dari diri mereka. Semua emosi keluar tanpa ada yang ditutupi. Sedih, marah, kecewa tumpah. Dari sini juga kita bisa menilai bagaimana cara dia mengontrol hati dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Akan keliatan mana yang tenang mana yang cengeng mana yang emosian. Inilah yang menjadi modul pembelajaranku untuk bisa melihat sebuah masalah dari berjuta sudut pandang.
Ketika salah seorang teman cerita tentang masalahnya dan keluarganya, dalam hati aku jerit 'thanks God sudah ngasih aku keluarga terbaik yang bisa aku punya'. Mendengar ceritanya membuatku bertekad untuk 1000 kali lebih sayang lagi sama keluargaku. Lebih nurut, gak nakal. Sungguh, keluargaku (Papi, Mami, Bang Do, Bang Rio) adalah orang terbaik yang pernah aku punya. Pendorong semangatku, pendukung pilihanku, pengontrol hidupku, penghibur sedihku. Spirit dalam hidup. Muachh-lah pokoknya.. Tuhan terlalu baik mengirimkan empat orang baik sekaligus hadir dalam hidupku karena itulah aku gak akan menyia-nyiakannya dan berjuang sekuatnya untuk menjaga, menyayangi, dan membahagikan mereka.
Lalu, untuk temanku yang merasa 'bermasalah' dengan keluarganya, apa yang harus dia lakukan? Bersyukurlah. Untuk apa? Setidaknya kamu masih punya keluarga..
Ini Disebut Keputusan
Sudah kuputuskan saja untuk tidak membunuh rasa ini. Mengikhlaskan, tidak melupakan. Merelakan, bukan menghapus. Menyimpan, bukan membuang. Membiarkan berlalu tanpa berusaha menguburnya.
Mudah memang membentuk teori. Tapi realita selalu berkata lain. Sangat susah untuk dibunuh. Sangat susah untuk diikhlaskan. Ketika semakin keras mengusirnya begitu kuat juga untuk kembali. Karna sesungguhnya aku tau ini tak akan mungkin untuk dibunuh. Berat memang. Dilanda nyeri. Perih. Dilema. Walaupun setengah berdarah, ini sudah kuputuskan.
Mudah memang membentuk teori. Tapi realita selalu berkata lain. Sangat susah untuk dibunuh. Sangat susah untuk diikhlaskan. Ketika semakin keras mengusirnya begitu kuat juga untuk kembali. Karna sesungguhnya aku tau ini tak akan mungkin untuk dibunuh. Berat memang. Dilanda nyeri. Perih. Dilema. Walaupun setengah berdarah, ini sudah kuputuskan.
Minggu, 01 Maret 2009
Penuh
Ketika kepalamu sakit dan muncul niat untuk membenturkannya ke dinding atau menjambak-jambak rambutmu, itu artinya otakmu kepenuhan. Penuh akan segala hal. Rasanya semua hal berebutan masuk ke sana. Tak berurutan. Tanpa nunggu giliran. Sesak jadinya. Disaat-saat seperti inilah aku merasa demiian. Di saat otak luber, hati nyeri,hari seketika berubah jadi musuh. Jadi pengen nyakar-nyakar diri sendiri. Atau yang paling parah, menyusun rencana untuk terjun ke sumur terdekat. Aku adalah orang yang dihancurkan oleh mood. Terdengar bodoh memang karna seharusnya kita yang mengontrol mereka. Tapi inilah kenyataannya. Ketika mendengar sesuatu yang menyakitkan, melihat segalanya tak sesuai rencana, moodku akan langsung turun ke titik terendah berganti dengan emosi yang tinggi. Jadi diem dan ketika ada yang ngajak ngobrol rasanya aku pengen cekek mereka. Aku tau ini buruk, menimpakan kekesalan pada orang lain yang jelas-jelas gak ada salah sama kita. Dan terparah, kejadian moodku ambruk hampir terjadi setiap hari.
Keadaan seperti inilah yang menyebalan. Di saat kamu ingin menunjuk keadaan, neriakin keadaan, nylahin keadaan, tapi akhirnya terduduk lemas adan sadar bahwa yang salah bukan keadaan, yng bodoh bukan keadaan, tapitapi ketololan murni yang datang dari diri sendiri.
Keadaan seperti inilah yang menyebalan. Di saat kamu ingin menunjuk keadaan, neriakin keadaan, nylahin keadaan, tapi akhirnya terduduk lemas adan sadar bahwa yang salah bukan keadaan, yng bodoh bukan keadaan, tapitapi ketololan murni yang datang dari diri sendiri.
Senin, 02 Februari 2009
Perkenalkan.. Boss Kita, Novita
Kepala gank kita bernama Nopit. Dia boss kita, tiap hari kita nyetor uang keamanan ke dia, kalo gak jangan harap hidup aman di sekolah. Ya gak lah! Diantara kita berempat, Nopit yang paling banyak julukannya. Nopit keriting juga, sama kayak Sun dan Cin. Suaranya nge-bass. Hobinya menganalisis semua orang.
Super hero. Yups, karna dia yang terkuat diantara kita berempat. Mau buka botol, ngangkat meja, sampe pindah rumah, panggil saja Nopit! Caranya, duduk bersila, tangan seperti bertapa tapi lakukan gerakan memutar, susah dijelaskan, beitulah pokoknya. Lalu nyanyikan lagu ‘Nopit.. Nopit.. Nopit.. Datanglah kau Nopit.. Suaranya riang.. Datanglah oh Nopit.. Kedalam hatiku’ (dinyanyikan dengan nada Ost. P-Man) Maka dijamin, semua masalah anda akan teratasi.
Pak Bondan. Nenek yang ini juga yang paling ahli dalam menilai makanan. Dia akan tau ini pisang ambon ato pisang maluku (mang ada?) hanya dari mencium baunya. Dia yang paling tau makanan mana yang enak atao gak. Jajannya paling banyak, karna semua makanan yang masuk ke tubuhnya harus seimbang. Ada air putih, brati harus ada teh kotak. ada asin brati harus ada manis. Ada tahu brati harus ada tempe. Begitulah, karna dia ngaku pusing kalo makanannya gak seimbang. Porsi makan jumbo, tapi gak seimbang dengan badan.
Ketua peduli poni. Percaya ato gak kalo tas dia selalu lebih berat tiga kilo dari tas-tas pelajar pada umumnya? Tasnya selalu menggelembung kaya orang mau liburan ke Eskimo. Kalian tau apa isi tasnya? Sisir, kaca, bedak, jepir rambut beraneka ragam, sisir lagi, parfum, kaca lagi, gel rambut, dan entah-apa-lagi. Ini serius. Sisir aja dia bawa dua puluh tiga biji. Oke, mungkin gak seekstrim itu tapi yang jelas lebih dari satu. Sisir poni beda dengan bagian rambut yang lainnya, belum lagi sisir rol. Kaca mulai dari seukuran jempol sampe seukuran seluruh jempol di dunia juga dia bawa. Karena itulah dia sangat lelet. Mau ke kantin, nyisir. Arisan, ngaca. Ke WC, bedakan. Yang paling parah, main tengkong-yang-tentunya-akan-keringatanpun dia dandan. Ohh…
Boli-boli. Ini adalah kata yang kuperhalus dari bolot sangat. Ya, teman-teman dia agak lambret. Mungkin sebagian otaknya kesedot kaca *ampun, Pit* Ngomong sama dia harus panjang sabar dan yang paling penting, jangan lebih dari tujuh kata karna kalo gak dia akan pasang tampang cengo, garuk-garuk pala dan dengn polosnya nanya ‘kalian ngomong apa?’
Baiknya, Nopit orang yang sangat sangat sangat tidak pelit. Walopun tiap hari stok permennya kami rampas. Dia juga penyedia cemilan-cemilan kita. Kalo aku lupa bawa duit, dia juga yang minjemin. Kalo aku gak ada yang jemput ato les dia yang nganter aku. Dia gak pernah ngeluh (entahlah kalo dalam hati) boncengin aku walopun aku bukanlah orang yang ringan untuk dibonceng.
Memorable Moment with Nopit :
Waktu les Inggris, dia nanya ‘kenapa bawang putih warnanya putih padahal dari tanah’ dengan tampang polos (kalo gak mau dibilang imbisil), setelah kami ketawa sampe kram mulut, dia malah lanjutin dengan ekspresi tersiksa, ‘selama ini aku pendam aja rasa penasaranku’. Ohh..
Intinya , kita berdua itu beda sangat. Tiap hari kerjaanya ngebahas sesuatu yang gak penting, sampe ujung-ujungnya berantem. Aku hobi makan, dia hobi boker. Aku cinta Ahmad Dhani, dia Irwansyah. Aku suka keju, dia anti. Tapi aku rasa perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya bikin kita berteman baik dan belajar untuk ngerti kalo setiap orang punya pemikiran dan selera yang beda yang gak bisa dipaksain dan pada akhirnya, kesimpulannya teman adalah kontrol yang buat hidup kita seimbang, kompas yang nentuin arah kita, dan spirit dalam hidup.
Super hero. Yups, karna dia yang terkuat diantara kita berempat. Mau buka botol, ngangkat meja, sampe pindah rumah, panggil saja Nopit! Caranya, duduk bersila, tangan seperti bertapa tapi lakukan gerakan memutar, susah dijelaskan, beitulah pokoknya. Lalu nyanyikan lagu ‘Nopit.. Nopit.. Nopit.. Datanglah kau Nopit.. Suaranya riang.. Datanglah oh Nopit.. Kedalam hatiku’ (dinyanyikan dengan nada Ost. P-Man) Maka dijamin, semua masalah anda akan teratasi.
Pak Bondan. Nenek yang ini juga yang paling ahli dalam menilai makanan. Dia akan tau ini pisang ambon ato pisang maluku (mang ada?) hanya dari mencium baunya. Dia yang paling tau makanan mana yang enak atao gak. Jajannya paling banyak, karna semua makanan yang masuk ke tubuhnya harus seimbang. Ada air putih, brati harus ada teh kotak. ada asin brati harus ada manis. Ada tahu brati harus ada tempe. Begitulah, karna dia ngaku pusing kalo makanannya gak seimbang. Porsi makan jumbo, tapi gak seimbang dengan badan.
Ketua peduli poni. Percaya ato gak kalo tas dia selalu lebih berat tiga kilo dari tas-tas pelajar pada umumnya? Tasnya selalu menggelembung kaya orang mau liburan ke Eskimo. Kalian tau apa isi tasnya? Sisir, kaca, bedak, jepir rambut beraneka ragam, sisir lagi, parfum, kaca lagi, gel rambut, dan entah-apa-lagi. Ini serius. Sisir aja dia bawa dua puluh tiga biji. Oke, mungkin gak seekstrim itu tapi yang jelas lebih dari satu. Sisir poni beda dengan bagian rambut yang lainnya, belum lagi sisir rol. Kaca mulai dari seukuran jempol sampe seukuran seluruh jempol di dunia juga dia bawa. Karena itulah dia sangat lelet. Mau ke kantin, nyisir. Arisan, ngaca. Ke WC, bedakan. Yang paling parah, main tengkong-yang-tentunya-akan-keringatanpun dia dandan. Ohh…
Boli-boli. Ini adalah kata yang kuperhalus dari bolot sangat. Ya, teman-teman dia agak lambret. Mungkin sebagian otaknya kesedot kaca *ampun, Pit* Ngomong sama dia harus panjang sabar dan yang paling penting, jangan lebih dari tujuh kata karna kalo gak dia akan pasang tampang cengo, garuk-garuk pala dan dengn polosnya nanya ‘kalian ngomong apa?’
Baiknya, Nopit orang yang sangat sangat sangat tidak pelit. Walopun tiap hari stok permennya kami rampas. Dia juga penyedia cemilan-cemilan kita. Kalo aku lupa bawa duit, dia juga yang minjemin. Kalo aku gak ada yang jemput ato les dia yang nganter aku. Dia gak pernah ngeluh (entahlah kalo dalam hati) boncengin aku walopun aku bukanlah orang yang ringan untuk dibonceng.
Memorable Moment with Nopit :
Waktu les Inggris, dia nanya ‘kenapa bawang putih warnanya putih padahal dari tanah’ dengan tampang polos (kalo gak mau dibilang imbisil), setelah kami ketawa sampe kram mulut, dia malah lanjutin dengan ekspresi tersiksa, ‘selama ini aku pendam aja rasa penasaranku’. Ohh..
Intinya , kita berdua itu beda sangat. Tiap hari kerjaanya ngebahas sesuatu yang gak penting, sampe ujung-ujungnya berantem. Aku hobi makan, dia hobi boker. Aku cinta Ahmad Dhani, dia Irwansyah. Aku suka keju, dia anti. Tapi aku rasa perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya bikin kita berteman baik dan belajar untuk ngerti kalo setiap orang punya pemikiran dan selera yang beda yang gak bisa dipaksain dan pada akhirnya, kesimpulannya teman adalah kontrol yang buat hidup kita seimbang, kompas yang nentuin arah kita, dan spirit dalam hidup.
Si Sunsantet
Satu lagi makhluk aneh yang (malangnya) jadi temanku dan duduknya tepat di depanku. Sebangku sama Nopit. Nama sebenernya Susan, tapi aku lebih suka meyebutnya Sunsantet dan akhirnya dipanggil Sun. Sun itu tinngi kurus (cungkring, lebih tepatnya) dan berambut keriting. Yup, kayanya di geng kita hampir semua anggotanya berambut keriting. Sun sama kaya Cin, toa! Tapi suara Sun jauh lebih ganggu dan nusuk telinga. Cempreng-cempreng gak jelas gitu. Kalo kalian pernah nonton Janji Joni, denger deh suara istrinya Indra Birowo waktu di bioskop ngomong ‘Lho, kok mati?’ Suara Sun persis kayak gitu. Sun punya hobi yang jelek sangat. Suka mukul. Gak peduli dia lagi marah, bete, atau senang, penyakit mukulnya kambuh. Pengakuannya sih, refleks. Makanya jauh lebih bagus kalo kita jaga jarak sama dia.
Diantara kita semua, yang paling kejam adalah nenek yang satu ini. Ngomel aja. Tiap hari musuhnya bukannya berkurang malah nambah. Aku jadi punya kata-kata favorit setiap dia nyela orang ‘Siapa sih orang yang waras di mata Sun?’ Lebih parah, setiap cowok dimatanya adalah bencong. Rapi dikit dia bilang banci, apalagi nyisir atau ngaca. Bikin penasaran, gimana sih tampang suaminya nanti. Awas aja kalo lakinya tipe renda-renda gitu! Tapi dia antara kita-kita yang absurd ini, dialah otak bagi kita. Kalo pelajaran matematika, dia aku suruh balik badan biar dikira ibu guru kerja kelompok karna seperrti yang seperti kalian tau, otak ngitungku kurang se-ons. Tapi cita-citanya sebagai guru, kita tentang habis-habisan. Gimana gak kalo ngajarin kita aja emosian. Gak sabaran. Teriak-teriak. Lebih parahnya, dengan muka tanpa dosa dia bilang ‘anak kalian nanti sekolah sama aku aja’ Aku (dan aku yakin Cin dan Nopit punya pendapat yang sama) lebih memilih duo Richieku putus sekolah daripada punya guru stress kayak Sun.
Rumah Sun yang jadi markas kami. Tempat nunggu jemputan, ngegosip, masak, ngerjain tugas, sampe dikala sakit perut melanda, rumah Sun yang paling deket dari sekolahlah yang jadi solusinya. Hehe.. Di rumah Sun juga kita bisa belajar jadi Bolang, Bocah Petualang. Kita bisa ngasih makan bebek, metik jambu, metik kedondong, yang akhirnya jelas bentol-bentol digigit nyamuk. Yang lebih asoy adalah orang rumahnya gak pernah keberatan seribut apapun kita. Makananya kita gerogotipun Mama-Papa Sun cuma bisa pasrah. Maaf yah, Om-Tante tiap hari makanannya saya habisin..
Oya, ini yang terpenting! Si Dadang, karna poni Sun mirip drummernya The Changcuters, adalah wanita idaman pria. Di kelas ada tiga pria yang sedang perang memperebutkan hatinya. Woow.. Ini kayanya pengaruh poni Dadangnya deh. Karna setiap dia nyisir poni Dadangnya, dia sambil komat-kamit, kayak ngebacain sesuatu ayat gitu. Ini dia para calon pangeran cinta Sun, ada yang rela berdarah-darah demi metikin mawar buat Sun. Ohh.. so sweet! Besoknya ada yang gak terima dan bawain sun lebih banyak mawar. Ada juga cowok berkacamata yang tiap hari rela dipukulin Sun. Wah, Sun sepertinya bener-benar harus memilih sekarang. Mawar merah 1, mawar merah 2, atau Afgan? Kalo aku pribadi sih, lebih dukung Sun jadi sama Afgan, dinyanyiin tiap hari gitu loh.. Hehe..
Memorable Moment With Sun :
Waktu kita pura-pura ngefans sama seorang ‘prince charming’ sekolah kita. Tentu aja prince charming bohongan. Sampe pake adegan jambak-jambakan segala. Trus pura-pura nyerang pacarnya prince charming, aku pake helm, Sun bawa batu. Geli mampus..
Intinya , kita berdua itu beda sangat. Tiap hari kerjaanya ngebahas sesuatu yang gak penting, sampe ujung-ujungnya berantem. Aku suka jazz, dia dangdut. Aku suka cowok cakep, dia suka cowok kilum. Aku suka pedas, dia anti. Tapi aku rasa perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya bikin kita berteman baik dan belajar untuk ngerti kalo setiap orang punya pemikiran dan selera yang beda yang gak bisa dipaksain dan pada akhirnya, kesimpulannya teman adalah kontrol yang buat hidup kita seimbang, kompas yang nentuin arah kita, dan spirit dalam hidup.
Diantara kita semua, yang paling kejam adalah nenek yang satu ini. Ngomel aja. Tiap hari musuhnya bukannya berkurang malah nambah. Aku jadi punya kata-kata favorit setiap dia nyela orang ‘Siapa sih orang yang waras di mata Sun?’ Lebih parah, setiap cowok dimatanya adalah bencong. Rapi dikit dia bilang banci, apalagi nyisir atau ngaca. Bikin penasaran, gimana sih tampang suaminya nanti. Awas aja kalo lakinya tipe renda-renda gitu! Tapi dia antara kita-kita yang absurd ini, dialah otak bagi kita. Kalo pelajaran matematika, dia aku suruh balik badan biar dikira ibu guru kerja kelompok karna seperrti yang seperti kalian tau, otak ngitungku kurang se-ons. Tapi cita-citanya sebagai guru, kita tentang habis-habisan. Gimana gak kalo ngajarin kita aja emosian. Gak sabaran. Teriak-teriak. Lebih parahnya, dengan muka tanpa dosa dia bilang ‘anak kalian nanti sekolah sama aku aja’ Aku (dan aku yakin Cin dan Nopit punya pendapat yang sama) lebih memilih duo Richieku putus sekolah daripada punya guru stress kayak Sun.
Rumah Sun yang jadi markas kami. Tempat nunggu jemputan, ngegosip, masak, ngerjain tugas, sampe dikala sakit perut melanda, rumah Sun yang paling deket dari sekolahlah yang jadi solusinya. Hehe.. Di rumah Sun juga kita bisa belajar jadi Bolang, Bocah Petualang. Kita bisa ngasih makan bebek, metik jambu, metik kedondong, yang akhirnya jelas bentol-bentol digigit nyamuk. Yang lebih asoy adalah orang rumahnya gak pernah keberatan seribut apapun kita. Makananya kita gerogotipun Mama-Papa Sun cuma bisa pasrah. Maaf yah, Om-Tante tiap hari makanannya saya habisin..
Oya, ini yang terpenting! Si Dadang, karna poni Sun mirip drummernya The Changcuters, adalah wanita idaman pria. Di kelas ada tiga pria yang sedang perang memperebutkan hatinya. Woow.. Ini kayanya pengaruh poni Dadangnya deh. Karna setiap dia nyisir poni Dadangnya, dia sambil komat-kamit, kayak ngebacain sesuatu ayat gitu. Ini dia para calon pangeran cinta Sun, ada yang rela berdarah-darah demi metikin mawar buat Sun. Ohh.. so sweet! Besoknya ada yang gak terima dan bawain sun lebih banyak mawar. Ada juga cowok berkacamata yang tiap hari rela dipukulin Sun. Wah, Sun sepertinya bener-benar harus memilih sekarang. Mawar merah 1, mawar merah 2, atau Afgan? Kalo aku pribadi sih, lebih dukung Sun jadi sama Afgan, dinyanyiin tiap hari gitu loh.. Hehe..
Memorable Moment With Sun :
Waktu kita pura-pura ngefans sama seorang ‘prince charming’ sekolah kita. Tentu aja prince charming bohongan. Sampe pake adegan jambak-jambakan segala. Trus pura-pura nyerang pacarnya prince charming, aku pake helm, Sun bawa batu. Geli mampus..
Intinya , kita berdua itu beda sangat. Tiap hari kerjaanya ngebahas sesuatu yang gak penting, sampe ujung-ujungnya berantem. Aku suka jazz, dia dangdut. Aku suka cowok cakep, dia suka cowok kilum. Aku suka pedas, dia anti. Tapi aku rasa perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya bikin kita berteman baik dan belajar untuk ngerti kalo setiap orang punya pemikiran dan selera yang beda yang gak bisa dipaksain dan pada akhirnya, kesimpulannya teman adalah kontrol yang buat hidup kita seimbang, kompas yang nentuin arah kita, dan spirit dalam hidup.
Tentang Cinduy Clarissuy
Cinduy (bukan nama sebenarnya), adalah teman sebangkuku. Kita udah sekelas dari kelas sepuluh dan baru sebangku di kelas sebelas, ditambah sekarang berarti udah hampir tiga tahun aku bergaul dengan makhluk keriting seperti dia. Oke, akan aku deskripsikan. Orangnya kecil. Kurus mampus. Apalagi kalo sebelahan sama aku, alamat ketutupan deh dia. Keriting. Matanya gede. Bahkan matanya lebih gede dari kepalanya. Tapi kalian jangan tertipu dengan badan kecilnya. Karena suaranya super duper petasan banting. Kayak kaleng yang digatung di belakang mobil orang baru nikah. Tau kan? Berisik dan ganggu! Setiap hari dia adalah sasaran penyiksaanku. Dicubit, ditoyor, diejek. Kalo suara toanya kumat, aku cubit. Kalo sotoynya yang kumat, toyor. Kalo gak ada kerjaan, ya nyela dia. Hehe..
Rasa ingin taunya itu lebih besar daripada badannya. Bukan dalam arti positif, karna rasa ingin taunya adalah terhadap sesuatu yang gak penting. Misalnya ada orang lagi ngobrol, dia akan nimbrung pengen tau ato yang lebih parah.. nguping! Dia juga orang yang sangat penuh dengan pikiran legatif bin lebay. Setiap ada kejadian pasti dibumbu-bumbuin sama dia. Suudjonnya itu loh, gak nahan. Orang bener-bener niat baik, dia nyangka buruk. Aku tampang lugu, dia bilang licik. Aku nada ramah, dia bilang marah.Yang paling aku gak ngerti dari dia adalah Cinduy bilang kalo film TITANIC itu romantis dan bikin nangis. Cin, please, kayanya lebaynya kumat deh. TITANIC apanya yang romantis? Najis iya kali. Kasi tau aku di mana bagian romantisnya. Adegan lomba ngeludah? Ato yang lari-lari di balik pohon? Emang ada ya adegan gitu? Eh, ketuker sama film India deng! Entahlah yang mana, karna aku gak pernah nonton TITANIC secara utuh, cuma sepotong-potong. Gak minat, bu! Film ini sudah jadi topik perdebatan kami dari kelas sepuluh dan sampe sekarang belum ada kata sepakat. Cinduy juga makhluk ogi sangat, ogah rugi maksudnya. Itung-itungan sangat, ampun dah, sama temen juga hitungnnya detail banget.
Dari tadi kok ngomongin jeleknya dia ya? Hehe.. Okelah, kasian Cinduy kalo yang bagus-bagusnya gak diceritain. Ya, walopun agak susah juga nyari sifat baiknya dia. Hmm.. Sebenernya dia baik kok. Bolehlah kalo diajak curhat walopun kalo soal megang rahasia, masih diragukan. Cinduy juga yang selalu nyemangatin aku kalo lagi bete belajar, sampe bukain bukuku plus nyiapin pulpennya. Walopun ujung-ujungnya Cin malah nantangin lomba gambar Spongebob. Hehe.. Dia juga rela kalo tiap hari sampahku aku buang ke lacinya. Jadi laciku terjaga kebersihannya dan lacinya penuh sampah. Entahlah itu disebut baik ato lembon. Dia sebenernya pujangga. Suka nulis puisi waktu jaman kelas sepuluh, tapi gak tau kenapa sekarang gak pernah lagi, inspiratornya udah pergi kali yah? Cin juga yang biasanya ngeredamin rencana licikku. Kalo kumat, aku bisanya suka bikin anak orang nangis atau tega buat neriakin anak yang nyebelin, dan dengan pelototannya biasanya aku udah ngerti, artinya ini gak boleh. Pelototannya serem sih, kayak emak-emak.
Memorable Moment With Cinduy :
Waktu aku iseng nelpon cem-cemannya karna kupingku pengeng tiap hari diceritaain orang itu terus, gak taunya waktu uda diangkat sama cem-cemannya, dia bengek. Kaya kucing dilelepin. Gak bisa ngomong apa-apa. Asli, malu-maluin..
Intinya , kita berdua itu beda sangat. Tiap hari kerjaanya ngebahas sesuatu yang gak penting, sampe ujung-ujungnya berantem. Aku anti cowok asia, dia cinta mati. Aku suka novel, dia komik. Aku suka makan nasi, dia suka makan beling. Aku fans setianya Paris Hilton, nah dia Marshanda. Tapi aku rasa perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya bikin kita berteman baik dan belajar untuk ngerti kalo setiap orang punya pemikiran dan selera yang beda yang gak bisa dipaksain dan pada akhirnya, kesimpulannya teman adalah kontrol yang buat hidup kita seimbang, kompas yang nentuin arah kita, dan spirit dalam hidup.
Rasa ingin taunya itu lebih besar daripada badannya. Bukan dalam arti positif, karna rasa ingin taunya adalah terhadap sesuatu yang gak penting. Misalnya ada orang lagi ngobrol, dia akan nimbrung pengen tau ato yang lebih parah.. nguping! Dia juga orang yang sangat penuh dengan pikiran legatif bin lebay. Setiap ada kejadian pasti dibumbu-bumbuin sama dia. Suudjonnya itu loh, gak nahan. Orang bener-bener niat baik, dia nyangka buruk. Aku tampang lugu, dia bilang licik. Aku nada ramah, dia bilang marah.Yang paling aku gak ngerti dari dia adalah Cinduy bilang kalo film TITANIC itu romantis dan bikin nangis. Cin, please, kayanya lebaynya kumat deh. TITANIC apanya yang romantis? Najis iya kali. Kasi tau aku di mana bagian romantisnya. Adegan lomba ngeludah? Ato yang lari-lari di balik pohon? Emang ada ya adegan gitu? Eh, ketuker sama film India deng! Entahlah yang mana, karna aku gak pernah nonton TITANIC secara utuh, cuma sepotong-potong. Gak minat, bu! Film ini sudah jadi topik perdebatan kami dari kelas sepuluh dan sampe sekarang belum ada kata sepakat. Cinduy juga makhluk ogi sangat, ogah rugi maksudnya. Itung-itungan sangat, ampun dah, sama temen juga hitungnnya detail banget.
Dari tadi kok ngomongin jeleknya dia ya? Hehe.. Okelah, kasian Cinduy kalo yang bagus-bagusnya gak diceritain. Ya, walopun agak susah juga nyari sifat baiknya dia. Hmm.. Sebenernya dia baik kok. Bolehlah kalo diajak curhat walopun kalo soal megang rahasia, masih diragukan. Cinduy juga yang selalu nyemangatin aku kalo lagi bete belajar, sampe bukain bukuku plus nyiapin pulpennya. Walopun ujung-ujungnya Cin malah nantangin lomba gambar Spongebob. Hehe.. Dia juga rela kalo tiap hari sampahku aku buang ke lacinya. Jadi laciku terjaga kebersihannya dan lacinya penuh sampah. Entahlah itu disebut baik ato lembon. Dia sebenernya pujangga. Suka nulis puisi waktu jaman kelas sepuluh, tapi gak tau kenapa sekarang gak pernah lagi, inspiratornya udah pergi kali yah? Cin juga yang biasanya ngeredamin rencana licikku. Kalo kumat, aku bisanya suka bikin anak orang nangis atau tega buat neriakin anak yang nyebelin, dan dengan pelototannya biasanya aku udah ngerti, artinya ini gak boleh. Pelototannya serem sih, kayak emak-emak.
Memorable Moment With Cinduy :
Waktu aku iseng nelpon cem-cemannya karna kupingku pengeng tiap hari diceritaain orang itu terus, gak taunya waktu uda diangkat sama cem-cemannya, dia bengek. Kaya kucing dilelepin. Gak bisa ngomong apa-apa. Asli, malu-maluin..
Intinya , kita berdua itu beda sangat. Tiap hari kerjaanya ngebahas sesuatu yang gak penting, sampe ujung-ujungnya berantem. Aku anti cowok asia, dia cinta mati. Aku suka novel, dia komik. Aku suka makan nasi, dia suka makan beling. Aku fans setianya Paris Hilton, nah dia Marshanda. Tapi aku rasa perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya bikin kita berteman baik dan belajar untuk ngerti kalo setiap orang punya pemikiran dan selera yang beda yang gak bisa dipaksain dan pada akhirnya, kesimpulannya teman adalah kontrol yang buat hidup kita seimbang, kompas yang nentuin arah kita, dan spirit dalam hidup.
Salam Buat Cowokmu, Dong!
Geng kita punya kerjaan baru. Permainan yang baru aja kita temukan. Bukan kartu remi, atau tengkong, apalagi nongkrong di kantin. Kita ngejailin orang. Okelah, sebenarnya ini bukan barang baru buat kita karna tiap hari ada aja keusilan yang kita buat. Tapi kali ini beda, lebih ekstrim. Lebih menantang ketenangan jiwa raga. Ya, kita ngegodain cowok yang udah ada pacarnya. Hehe.. Tapi ngegodainnya bukan centil-centil perek gitu ya, cuma salam-salam doang.
Langkah pertama adalah kita cari target operasi yang 'ganteng banget' (kalian ngertilah dengan arti tanda petik itu). Trus kita pilih ceweknya yang kayak sipir penjara, galak maksudnya. Udah deh, kita pura-pura salam buat cowoknya dan itu ditriakin di... depan ceweknya! Berharap taring ceweknya keluar dan si cowok akan diborgol ceweknya. Hahaha..
Hmm, aku tau ini sangat jahat tapi coba aja kalian praktekin, dan suer, kamu akan merasakan efek nagih yang memabukan, waktu liat mata ceweknya melotot ke si cowok. Eh, gak deh! Jangan ditiru ya! Seperti biasa, Sun kami jadikan korban, karna di antara kita-kita yang paling 'putus' adalah dia. Di sini bagian terbaiknya. Sun akan akting malu-malu kalo kami nyalamin dia buat cowok yang (malangnya) jadi target kita. Ekspresi Sun itulah yang bikin kita ketawa sampe mules.
Tapi bu-negara-nan-bijak-dan-lembut-hati, Nop, menyadarkan kami untuk berhenti main kayak gini dengan wejangannya. Karma, katanya! Kalo dipikir-pikir bener juga sih, kalo kena karma gimana? Trus juga, udah pasti nambah musuh karna sekarang ceweknya jadi ngeliat kami dengan tatapan medusa. Tapi salah sendiri punya pacar 'ganteng nian'. Well, jadi sekarang kita udah mule stop mainan ini, walopun kalo boleh jujur sangat menyegarkan mata dan otak. Maaf buat pasangan yang telah kami ganggu ketenangan hidupnya selama beberapa hari ini. Kami janji gak gangguin cowokmu lagi. Peace! Saatnya berburu mainan baru..
Langkah pertama adalah kita cari target operasi yang 'ganteng banget' (kalian ngertilah dengan arti tanda petik itu). Trus kita pilih ceweknya yang kayak sipir penjara, galak maksudnya. Udah deh, kita pura-pura salam buat cowoknya dan itu ditriakin di... depan ceweknya! Berharap taring ceweknya keluar dan si cowok akan diborgol ceweknya. Hahaha..
Hmm, aku tau ini sangat jahat tapi coba aja kalian praktekin, dan suer, kamu akan merasakan efek nagih yang memabukan, waktu liat mata ceweknya melotot ke si cowok. Eh, gak deh! Jangan ditiru ya! Seperti biasa, Sun kami jadikan korban, karna di antara kita-kita yang paling 'putus' adalah dia. Di sini bagian terbaiknya. Sun akan akting malu-malu kalo kami nyalamin dia buat cowok yang (malangnya) jadi target kita. Ekspresi Sun itulah yang bikin kita ketawa sampe mules.
Tapi bu-negara-nan-bijak-dan-lembut-hati, Nop, menyadarkan kami untuk berhenti main kayak gini dengan wejangannya. Karma, katanya! Kalo dipikir-pikir bener juga sih, kalo kena karma gimana? Trus juga, udah pasti nambah musuh karna sekarang ceweknya jadi ngeliat kami dengan tatapan medusa. Tapi salah sendiri punya pacar 'ganteng nian'. Well, jadi sekarang kita udah mule stop mainan ini, walopun kalo boleh jujur sangat menyegarkan mata dan otak. Maaf buat pasangan yang telah kami ganggu ketenangan hidupnya selama beberapa hari ini. Kami janji gak gangguin cowokmu lagi. Peace! Saatnya berburu mainan baru..
Kesembuhan Yang Makin Jauh
Bahagia itu datang lagi, kawan! Padahal cuma karna jalan dibelakangnya, menjadi bayang-bayangnya. Jarak gerbang dan kelas yang tiap hari kukeluhkan, mendadak ingin kutambah sampe satu mil lagi.
Hasilnya.. jelas, nyaris gila karna senyum-senyum sendiri. Aku tau ini ga boleh. Aku sadar ini salah. Ini bikin kesembuhanku semakin jauh. Tapi ketika bibir berbentuk senyum tanpa perintah, aku bisa apa?
Hasilnya.. jelas, nyaris gila karna senyum-senyum sendiri. Aku tau ini ga boleh. Aku sadar ini salah. Ini bikin kesembuhanku semakin jauh. Tapi ketika bibir berbentuk senyum tanpa perintah, aku bisa apa?
Minggu, 25 Januari 2009
Membunuh Rasa Yang Salah
Kalo salah nulis, ada penghapus..
Kalo salah liad, pake kacamata..
Kalo salah dua, dapat delapan..
Kalo salah kata, ada maaf..
Kalo salah tingkah, berarti malu..
Kalo salah nonjok orang, khilaf..
Kalo salah ambil duit orang, sengaja..
Kalo salah-salahan, gak mau salah..
Kalo salah rasa, um.. um..
Kalo salah rasa, kenapa bisa salah?
Kalo salah rasa, haruskah rasanya dibunuh?
Kalo salah liad, pake kacamata..
Kalo salah dua, dapat delapan..
Kalo salah kata, ada maaf..
Kalo salah tingkah, berarti malu..
Kalo salah nonjok orang, khilaf..
Kalo salah ambil duit orang, sengaja..
Kalo salah-salahan, gak mau salah..
Kalo salah rasa, um.. um..
Kalo salah rasa, kenapa bisa salah?
Kalo salah rasa, haruskah rasanya dibunuh?
Kamis, 22 Januari 2009
I'm Gonna Be Auntie Soon
Eh, aku udah cerita belum kalo aku akan jadi tante? Yap, jadi kakak sepupuku sekarang lagi hamil. Yipiee.. I'm gonna be auntie soon! Bukan ponakan pertama sebenernya, tapi dia akan menjadi ponakan pertama yang memangilku dengan sebutan auntie. Catet ya, auntie Mona, bukan tante Mona! Sengaja emaknya aku wanti-wanti supaya anaknya manggil aku auntie, biar berasa bule gimana gitu. Hehe..
Kamis, 15 Januari 2009
Untitled
Akhir-akhir ini lagi seneng denger Jikustik yang judulnya Aku Pasti Mencarimu. Lagunya keren. Nampar banget. Ini sebagian liriknya..
Bila saja kau tak pernah bersamanya
Tentu tak sesukar ini jadinya
Bila ku tak mengingat masa lalumu
Tentu kau sudah menjadi milikku
Sungguh kuakui masih perlu waktu
Untuk bersama denganmu
Horor. Bikin merinding. Mudah-mudahan ga pernah ngalamin kaya gini..
Bila saja kau tak pernah bersamanya
Tentu tak sesukar ini jadinya
Bila ku tak mengingat masa lalumu
Tentu kau sudah menjadi milikku
Sungguh kuakui masih perlu waktu
Untuk bersama denganmu
Horor. Bikin merinding. Mudah-mudahan ga pernah ngalamin kaya gini..
Senin, 12 Januari 2009
Invasi Fashion Magazine
Tahun 2009 yang baru datang ini sudah mulai tidak bersahabat bagi diriku.
Bagi mataku..
Terutama dompetku..
Terlebih jiwaku..
Semua majalah berebut menampilkan gaya apa yang akan in tahun 2009. Lace, oxford shoes, edgy legging, transparency, assymetrical cutting, leather look, pastel colour, etc. Melihat ini biji mataku meleleh. Jiwaku terbakar api kecemburuan. Kesirikan. Gimana gak kalo gak satu pun dari yang mereka sebutin ada di lemariku!Urgent!!
Aku gak bisa tinggal diam. Karena itu aku angkat telpon buat mesen sebuah oxford shoes two tone yang keren edan. Tapi untungnya Tuhan membukakan mataku untuk melihat harganya terlebih dahulu. Sejuta lebih! Glek, sepatu butut gitu doang sejuta?? Dikasih juga nolah deh! Cuuihh.. Ini bohong. Kalo ada yang mau beliin aku bakal ngangguk-ngangguk sampe leherku bengkok. Ada yang mau beliin? Cling.. Cling.. *mataku kedip-kedip*
Padahal aku ngiler sangat. Ini bikin tidurku tak tenang, badan letih lesu dan bikin badan gendut (belakangan baru nyadar kalo ini udah dari sononya). Beneran, sepatunya sungguh lucu. Mana ditambahain kata-kata 'must have item 2009. Arrggh.. Majalah sesat! Tapi kayanya aku harus bersabar sampe 'orang pinter Indonesia' membuatkan tiruannya di Mangga Dua. Hehe.. Hei, aku tau beli barang bajakan itu gak bagus, tapi kantong tak bisa berbohong, say! Liat aja Adinda Bakrie, emang pernah gitu dia pake barang aspal ato minimal unbranded deh? Itis kupingku kalo sampe pernah.Karena itulah untuk orang-orang (tak mampu) seperti diriku, diperlukan kelicikan-kelicikan terselubung untuk bisa tetep up to date. Ya itu tadi, beli barang bajakan yang sudah pasti jauuuhh lebih murah. Hehe..
Tapi ada untungnya juga Papiku bukan orang kaya seperti papanya Adinda, karna melihat dari begitu mudahnya aku terjebak mode mungkin dalam tempo satu bulan Papiku akan jatuh bangkrut. Bill Gates juga pasti bangkrut kalo aku jadi anaknya. Berani taruhan. Aku jelas akan pergi ke Paris seminggu sekali buat belanja dan gak akan ngelewatin fashion week di Paris, Milan, dan London. Berarti, kesimpulannya cuma satu, Tuhan terlalu sayang sama aku sehinng menyelamatkan aku dari shopaholic akut.
Bagi mataku..
Terutama dompetku..
Terlebih jiwaku..
Semua majalah berebut menampilkan gaya apa yang akan in tahun 2009. Lace, oxford shoes, edgy legging, transparency, assymetrical cutting, leather look, pastel colour, etc. Melihat ini biji mataku meleleh. Jiwaku terbakar api kecemburuan. Kesirikan. Gimana gak kalo gak satu pun dari yang mereka sebutin ada di lemariku!Urgent!!
Aku gak bisa tinggal diam. Karena itu aku angkat telpon buat mesen sebuah oxford shoes two tone yang keren edan. Tapi untungnya Tuhan membukakan mataku untuk melihat harganya terlebih dahulu. Sejuta lebih! Glek, sepatu butut gitu doang sejuta?? Dikasih juga nolah deh! Cuuihh.. Ini bohong. Kalo ada yang mau beliin aku bakal ngangguk-ngangguk sampe leherku bengkok. Ada yang mau beliin? Cling.. Cling.. *mataku kedip-kedip*
Padahal aku ngiler sangat. Ini bikin tidurku tak tenang, badan letih lesu dan bikin badan gendut (belakangan baru nyadar kalo ini udah dari sononya). Beneran, sepatunya sungguh lucu. Mana ditambahain kata-kata 'must have item 2009. Arrggh.. Majalah sesat! Tapi kayanya aku harus bersabar sampe 'orang pinter Indonesia' membuatkan tiruannya di Mangga Dua. Hehe.. Hei, aku tau beli barang bajakan itu gak bagus, tapi kantong tak bisa berbohong, say! Liat aja Adinda Bakrie, emang pernah gitu dia pake barang aspal ato minimal unbranded deh? Itis kupingku kalo sampe pernah.Karena itulah untuk orang-orang (tak mampu) seperti diriku, diperlukan kelicikan-kelicikan terselubung untuk bisa tetep up to date. Ya itu tadi, beli barang bajakan yang sudah pasti jauuuhh lebih murah. Hehe..
Tapi ada untungnya juga Papiku bukan orang kaya seperti papanya Adinda, karna melihat dari begitu mudahnya aku terjebak mode mungkin dalam tempo satu bulan Papiku akan jatuh bangkrut. Bill Gates juga pasti bangkrut kalo aku jadi anaknya. Berani taruhan. Aku jelas akan pergi ke Paris seminggu sekali buat belanja dan gak akan ngelewatin fashion week di Paris, Milan, dan London. Berarti, kesimpulannya cuma satu, Tuhan terlalu sayang sama aku sehinng menyelamatkan aku dari shopaholic akut.
Khayalan Khayangan
Setiap sebelum tidur, berkhayal jadi agenda favoritku selain ngedengerin lagu-lagu jadul. Aku mengkhayalkan apa saja. Semua kejadian yang gak mungkin. Dan ketika Cin nantangin buat posting 'Skenario Masa Depan' di blog masing-masing antara aku, Cin, dan Sun (kok jadi mirip Jin dan Jun ya? Hohoho) aku langsung ngangguk-ngangguk setuju karna itulah yang slalu ada di otakku.
Ini dia..
Tahun 2021, umur 30, udah nikah, mantu Aburizal Bakrie, ade iparnya Adinda, yang artinya bini Ardie Bakri seorang pengusaha nan kaya slash empunya TV One slash pewaris tunggal Kerajaan Usaha Bakrie slash kaya nian tiada tara. Sounds soo marte yah? Hehe.. Ini juga artinya aku diteror sama Nia Ramadhani yang notabene mantannya Ardie dan masih ngarep sangat jadi Ny. Bakrie dan dua hari kemudian ditemukan tewas dengan bekas cakaran Nia di leher. Gak lah. Aku gak mungkin merusak persahabatanku dengan Nia yang sudah dari orok berbagi popok. Becanda lagi! Partner hidupku bukan Ardie Bakrie, Junior Liem, ataupun David Beckham, tapi dia adalah orang yang kayak Papiku. Bukan umurnya, tapi sifatnya. Baiknya minta ampun, bijaksana tiada tara, sabarnya luar biasa, cool pula. Jujur, siapa orangnya gak pernah aku bayangin. Lebih jujur, teh kotak dulu pernah mengisi peran ini. Norak, bukan?
Punya dua anak, Edmundcello Richie dan Ednabella Richie (Richie sudah menjadi nama favoritku sejak SMP). Kenapa Richie? Kata orang nama adalah doa dan Richie diambil dari kata Rich yang artinya kaya. Aku mengharapkan ‘mereka’ kelak jadi anak yang kaya, baik harta ataupun hati. Dalem kan? Emang pinter aku ini. Nama panggilan mereka nantinya Eet 1 dan Eet 2. Ya gak lah, panggilannya Abang Cell dan Ade Bell, lucu kan? Aku tinggal di rumah bata bercerobong asap (tempat buat Santa Clause mendarat) dan ada balkon yang bikin aku puas liat hujan dan bintang tiap malam. Aku yang ngantar jemput sekolah atopun les duo Richie, nyiapin bekal, sampe bacain dongeng sebelum mereka tidur.
Aku juga punya karir di NADA Boutique, sebuah butik dengan baju-baju hasil design aku dan Nan plus coffee shop berlantai dua. Konsep butik dan coffee shop yang digabung adalah supaya para pembeli dalam keadaan segar dan rileks dalam berbelanja. Di lantai dua adalah ruang kerja aku, Nan, karyawan, dan gudang kain. Inilah kerjaanku tiap hari sebagai owner sekaligus fashion buyernya. Ketemu klien, meeting sama karyawan, perang ide sama Nan, nonton fashion show di Paris buat nambah referensi fashion dan belanja kain. Buatku, gak perlu jadi direktur perusahaan besar ato punya pabrik dimana-mana, sebuah butik sudah lebih dari cukup buatku selalu merasa berumur 12 tahun.
Ini hanya sebuah imajinasi gila yang bikin liur menetes setiap kali membayangkannya. Jadi mohon ampun jika terdengar sangat jijay lebay. Tapi segila-gilanya atau setidakmungkin-mungkinnya terjadi, aku tetap berharap akan kejadian..
Ini dia..
Tahun 2021, umur 30, udah nikah, mantu Aburizal Bakrie, ade iparnya Adinda, yang artinya bini Ardie Bakri seorang pengusaha nan kaya slash empunya TV One slash pewaris tunggal Kerajaan Usaha Bakrie slash kaya nian tiada tara. Sounds soo marte yah? Hehe.. Ini juga artinya aku diteror sama Nia Ramadhani yang notabene mantannya Ardie dan masih ngarep sangat jadi Ny. Bakrie dan dua hari kemudian ditemukan tewas dengan bekas cakaran Nia di leher. Gak lah. Aku gak mungkin merusak persahabatanku dengan Nia yang sudah dari orok berbagi popok. Becanda lagi! Partner hidupku bukan Ardie Bakrie, Junior Liem, ataupun David Beckham, tapi dia adalah orang yang kayak Papiku. Bukan umurnya, tapi sifatnya. Baiknya minta ampun, bijaksana tiada tara, sabarnya luar biasa, cool pula. Jujur, siapa orangnya gak pernah aku bayangin. Lebih jujur, teh kotak dulu pernah mengisi peran ini. Norak, bukan?
Punya dua anak, Edmundcello Richie dan Ednabella Richie (Richie sudah menjadi nama favoritku sejak SMP). Kenapa Richie? Kata orang nama adalah doa dan Richie diambil dari kata Rich yang artinya kaya. Aku mengharapkan ‘mereka’ kelak jadi anak yang kaya, baik harta ataupun hati. Dalem kan? Emang pinter aku ini. Nama panggilan mereka nantinya Eet 1 dan Eet 2. Ya gak lah, panggilannya Abang Cell dan Ade Bell, lucu kan? Aku tinggal di rumah bata bercerobong asap (tempat buat Santa Clause mendarat) dan ada balkon yang bikin aku puas liat hujan dan bintang tiap malam. Aku yang ngantar jemput sekolah atopun les duo Richie, nyiapin bekal, sampe bacain dongeng sebelum mereka tidur.
Aku juga punya karir di NADA Boutique, sebuah butik dengan baju-baju hasil design aku dan Nan plus coffee shop berlantai dua. Konsep butik dan coffee shop yang digabung adalah supaya para pembeli dalam keadaan segar dan rileks dalam berbelanja. Di lantai dua adalah ruang kerja aku, Nan, karyawan, dan gudang kain. Inilah kerjaanku tiap hari sebagai owner sekaligus fashion buyernya. Ketemu klien, meeting sama karyawan, perang ide sama Nan, nonton fashion show di Paris buat nambah referensi fashion dan belanja kain. Buatku, gak perlu jadi direktur perusahaan besar ato punya pabrik dimana-mana, sebuah butik sudah lebih dari cukup buatku selalu merasa berumur 12 tahun.
Ini hanya sebuah imajinasi gila yang bikin liur menetes setiap kali membayangkannya. Jadi mohon ampun jika terdengar sangat jijay lebay. Tapi segila-gilanya atau setidakmungkin-mungkinnya terjadi, aku tetap berharap akan kejadian..
Gak Semudah Itu
Ternyata untuk menjadi ikhlas tidak semudah ngedipin om-om yah?
Yang cuma modal menor doang..
Dua bulan lewat,
Gak merubah apapun..
Tetep dilema..
Tetep sesak napas..
Tetep migrain..
Keadaan kaya gini sama susahnya kaya ngedipin om-om homo..
Susah sekali ngerubahnya
Perlu daya upaya extra,
Gak cukup cuma menor,
Sasak ato rok mini tapi juga perlu bantuan psikolog..
Pertanyaannya sekarang,
Apa aku perlu ke psikolog cuma buat ngikhlasin ini?
Yang cuma modal menor doang..
Dua bulan lewat,
Gak merubah apapun..
Tetep dilema..
Tetep sesak napas..
Tetep migrain..
Keadaan kaya gini sama susahnya kaya ngedipin om-om homo..
Susah sekali ngerubahnya
Perlu daya upaya extra,
Gak cukup cuma menor,
Sasak ato rok mini tapi juga perlu bantuan psikolog..
Pertanyaannya sekarang,
Apa aku perlu ke psikolog cuma buat ngikhlasin ini?
Selasa, 06 Januari 2009
Postingan Darurat
Maafkan diriku (lagi). Lama sangat daku tidak update. Berhubung libur dan beberapa hari ini lagi K.O makanya belum sempat update.
Tulisan tentang skenario masa depan dan resolusi tahun baruku tinggal naik cetak aja.
Oya, Natal kemaren Thanks God NADA dapat kerjaan buat bikinin baju buat Fiki and Family. Guys, satu keluarga mempercayakan kostum Natalnya dirusak oleh NADA! Hehe..
Well, c u soon..
Tulisan tentang skenario masa depan dan resolusi tahun baruku tinggal naik cetak aja.
Oya, Natal kemaren Thanks God NADA dapat kerjaan buat bikinin baju buat Fiki and Family. Guys, satu keluarga mempercayakan kostum Natalnya dirusak oleh NADA! Hehe..
Well, c u soon..
Langganan:
Postingan (Atom)
