Minggu kemaren aku naik kereta sama Ua, buat belajar pake mesin jahit. Aku yang emang hobi naik kereta setuju-setuju aja. Lagian, masa aku harus nenteng-nenteng mesin jahit turun naik angkot? Walaupun portable tapi lumayan juga beratnya. Untungnya, pilihan buat naik kereta ternyata gak salah.
Di dalam kereta aku bisa liat semua orang. Cewek-cowok, tua-muda, kaya-miskin, perpangkat pinggi-pegawai biasa, ada semua. Mulai dari pengamen tuna netra yang aku gak habis pikir gimana cara dia naik kereta, penjual koran dan majalah (harga koran di kereta cuma Rp1000), pedagang makanan (gorengan, snack, kue-kue), anak sekolahan, mahasiswa, pegawai negeri, sampe bapak-bapak berseragam lengkap dengan pangkatnya. Harga karcis kereta yang murah (ekonomi Rp1500, ekonomi AC Rp5500), bebas macet( ya ialah!),bikin kereta masih jadi pilihan utama buat alat transportasi sehari-hari. Walaupun jelas, banyak juga negatifnya, kalo gak ada tempat duduk harus nyiapin kaki buat bediri desak-desakan, panas, banyak copet, belum lagi dengan lalu lalangnya pengamen dan pedagang yang bikin kuping pengeng.
Di dalam kereta aku juga bisa mengamati kegiatan orang-orang selama di dalam kereta. Ada yang tidur, ada anak yang jerit-jerit minta diturunin di Monas, ada yang baca koran/majalah, dan yang paling parah.. Ada yang Facebook-an di kereta. Hello.. Sambil berdiri dengan satu tangan peganng gantungan di kereta, tangan yang satunya mijit-mijit handphone (yang belakangan diketahui dia sedang Facebook-an) Asli ya, aku gak ngerti dengan tujuan mbak itu. Mungkin dia lagi update statusnya gini "Gue lagee d kreta nich, pyenuh bangetd dech, pucink jadi na!" Gitulah kira-kira, aku gak ngerti tulisan gaul jaman sekarang soalnya.
Jakarta, September '09
Rabu, 07 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar