Tampilkan postingan dengan label hmm... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hmm... Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2011

Kenapa Bahagia Selalu?

Saya lebih menyukai kalimat 'bahagia selalu yaa' dalam setiap ucapan selamat ulang tahun daripada 'semoga panjang umur' atau 'sehat selalu' dan sebagainya. Bukannya gak mau panjang umur, sehat atau pun sukses. Semua orang pasti mau itu, bego kalo enggak.

Kalo gitu trus kenapa saya kurang suka? Bagi saya bahagia itu sempurna. Pembungkus semua ucapan sehat sukses dan sebagainya itu. Panjang umur, sehat dan sukses tentu tak akan seindah itu bukan jika tanpa dibungkus bahagia? Sekarang gini deh lo panjang umur sampe usia 237 tapi sepanjang hidup lo isinya nangis mulu gak ada seneng-senengnya, seperti disiksa majikan dalam sinetron kejar tayang. Mungkin lo sukses besar, duit dijadiin bantal, kasur dari berlian (umm.. agak sakit kayaknya ya) tapi hidup lo datar aja gitu, kosong. Bahagia gak? Mau gak? Atau kalo kata urang Banjar 'hakun lah?'.

Jadi maksudnya gini, 'bahagia selalu' inilah yang menjadi doa saya bagia siapa saja yang berulang tahun, dalam kondisi apapun. Tak peduli apapun. Mau sehat atau sakit mau nangis atau ketawa mau sukses atau belum sukses yang saya mau mereka bahagia. Saya yakin dengan setidaknya merasa 'bahagia' semua perkara hidup jadi tak terasa sebesar dan seberat itu. Ya, karna itulah saya lebih memilih kalimat 'bahagia selalu yaa' daripada kalimat lainnya karna saya gak mau kalian lupa caranya tertawa bahagia.

Sabtu, 20 November 2010

Berteman-an

Saya selalu menikmati saat pergi bersama teman-teman. Saya selalu mencintai tiap detiknya. Setiap tawanya. Setiap leluconnya (terlepas dari jayus ataupun tidaknya). Saya akan bahagia. Entah kita harus berdebat mau pergi kemana dan ngapain. Entah kita harus tersesat ke ujung Jakarta mana. Entah kita saling mencela satu sama lain. Entah kita berdebat karna perbedaan pendapat (yang seringnya terjadi di tiap topik pembicaraan).


Tapi kadang saya benci. Benci ketika kita terlalu bahagia. Terlalu banyak tertawa. Terlalu banyak bersama. Sebenarnya yang saya benci bukan mereka. Tapi ketika membayangkan bahwa kita harus pisah. Dipaksa keadaan. Saya benci perasaan sedihnya. Saya selalu benci membayangkan bahwa suatu hari kita (pasti) pisah. Bukan cuma dengan teman baru saya di Jakarta saja, tapi juga dengan teman-teman jaman SMA saya. Teman-teman yang selalu membuat hidup terasa lebih seimbang.

Kamis, 14 Oktober 2010

Hujan Sepuluh Ribu

Hari ini saya dan Ua pergi ke Tanah Abang. Tidak penting apa yang saya beli di sana karna yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagian ketika kita mau pulang dari Tanah Abang. Waktu kita keluar dari sana hujan sangat lebat. Entah kenapa hujan di Jakarta akhir-akhir ini suka lebay. Suka pake petir gede. Angin kencang dan sebagainya. Kita harus nyebrang jalan untuk bisa pulang. Di saat-saat seperti inilah ojek payung sangat diperlukan. Saya memilih seorang anak muda yang membawa payung cukup besar untuk kita berdua. "Kalo ke seberang berapa?" Tanya Ua. "Terserah aja, Bu" Katanya. Lalu dengan diikuti mas ojek payung kita berjuang untuk menerobos hujan. Seperti yang saya bilang tadi kalo hujannya lebay, makanya saya harus memegang payung sekuat mungkin kalo gak mau payungnya terbang dan kita basah kuyub. Begitu sampai di seberang saya dan Ua sampai dengan badan kering walaupun sepatu banjir haha. Sedangkan mas-nya udah kuyub dan sedikit menggigil. Lalu saya mengeluarkan selembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepada si mas ojek payung. Mas ojek payung bertanya "Ini semuanya buat saya?" Tanyanya dengan ekspresi heran "Iya mas, makasih ya" Saya jawab sambil menepuk pundaknya. Entah kenapa saya merinding. Bukan! saya bukan jatuh cinta kepada mas itu ataupun kedinginan. Tapi saya merasa betapa sepuluh ribu saya bisa membuatnya tersenyum. Bukan bermaksud pamer atau apa tapi yang ingin saya bagi kali ini adalah perasaannya. Perasaan bahagia dan terharu ketika melihat seseorang begitu bahagia menerima pemberian kita (yang mungkin menurut kita tak seberapa) diterima dengan baik itu membuat bahagia kita berlipat-lipat ganda.

Rabu, 07 April 2010

Si Kelingking

Badannya boleh cuma sebesar kelingking saya,
tapi besar hatinya dua kali lipat lebih besar dari badan saya

Badannya boleh serapuh lidi,
tapi dia kuat menghadapi masalah sekuat-kuatnya

Badannya boleh terlihat sehat,
tapi saya tau dia sedang sakit parah

Badannya boleh sebesar kelingking,
tapi bagian menghadapi perkara, saya hanya sebesar kelingkingnya

Selasa, 05 Januari 2010

Agama

Agama. Suatu hal yang sangat sensitif dan pribadi. Hanya hubungan antara kita sebagai individu dengan Tuhan. Cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Pemikiran inilah yang membuat saya kurang mengerti dengan betapa hebohnya reaksi orang-orang sekitar jika mengetahui ada seorang individu memutuskan untuk berpindah agama. Saya rasa itu keputusan pribadi tiap orang yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun karna pastinya dia sudah memikirkan segalanya dan pada akhirnya menjadi tanggung jawabnya kepada Tuhan. Bukankah sesungguhnya memilih agama sesuai dengan apa yang kita yakini adalah hak setiap orang? Kita sebagi orang di luar dia tidak berhak menghakimi keputusan yang dibuatnya. Saya gak pernah menyalahkan keputusan seseorang untuk berpindah agama (apapun alasannya) karna sesungguhnya kita tidak pernah memilih agama kita sendiri.

Buktinya sejak lahir orangtua kitalah yang secara otomatis menurunkan agamanya kepada kita. Dengan kata lain, agama yang kita anut sekarang ini pada awalnya adalah pilihan orangtua kita masing-masing. Jadi, sangat wajar jika dalam perkembangan usianya dia jatuh cinta pada agama lain dan memilih agamanya sendiri sesuai dengan pemikirannya. Atau memutuskan untuk tetap pada agama yang dia anut sejak lahir. Sekali lagi, hanya antara anda dan Tuhan.

Saya juga bukan orang yang setuju dengan orang-orang yang bilang 'maafin aja, biar dapat pahala' atau 'berdoa ah, biar dapar pahala' atau apapun itu yang berhubungan dengan pahala dan surga. Hello.. Jadi hidup anda di dunia ini cuma buat ngejar pahala? Supaya bisa masuk surga? Saya rasa tidak. Saya pikir buat apa kita berdoa setiap menit, berbuat baik selalu kalau hanya untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya? Rasa-rasanya kok doa dan berbuat baiknya hanya untuk mengincar surga semata ya? Gak ikhlas. Gak dari hati. Maksudnya begini, buat apa kita nolongin orang lain tapi dengan pikiran 'gue harus bantu dia biar dilihat Tuhan dan akhirnya masuk surga deh' kenapa bukan pikiran ini yang muncul 'gue harus bantu dia, ya karna emang saya harus nolong dia' Sekarang bayangin deh kalo istilah pahala dan surga gak ada? Mungkin gak kita selalu berbuat baik? Mungkin gak kita gak pernah lupa menyebut nama Tuhan? Saya ragu. Tapi ini bukan berarti saya mempengaruhi anda untuk berbuat bejat setiap hari lho ya, hanya saya saya rasa seharusnya setiap prilaku pribadi harus didasari oleh imannya dan dilakukan dengan ikhlas. Ya, ikhlas. Tanpa ada pikiran surga-neraka. Berbuat baiklah karna itu sudah seharusnya bukan karna diiming-imingi pahala. Saya rasa ketika anda melakukannya pun akan lebih enteng karna tanpa ada pikiran 'berapa banyakah pahala saya sekarang?'

Jadi menurut saya kesimpulannya adalah berlakulah sesuai yang diajarkan Tuhan kepada kita (karna semuanya pasti baik)dengan ikhlas, tanpa ada pikiran untuk mengejar pahala semata. Perkara dosa dan pahala, surga dan neraka bukan bagian kita. Bukan urusan kita. Kita terlalu kecil untuk ikut-ikutan memikirkan itu semua. Biarkan Tuhan yang menimbang semua pada akhirnya nanti.

PS : Tulisan ini sama sekali tidak ada maksud buat merendahkan agama manapun, serius. Saya hanya ingin berbagi pendapat saya saja, tanpa ada maksud menggurui apalagi sok alim. Bagi yang tidak setuju dengan tulisan ini sekali lagi, ini hanya pendapat sok tau saya.

Rabu, 16 Desember 2009

Perkara Aku - Mengakui

Baru denger berita dari Nopit tentang seorang temen kita yang ternyata bukan tunggal. Lebih jelasnya begini, jadi kita punya temen (sebut saja dia Boy) yang kita tau selama ini dia anak tunggal. Tapi ternyata tidak, kawan! Sungguh mengejutkan karena selama ini Boy mengklaim diriya sebagai anak tunggal sejati. Malangnya sang kakak ternyata agak 'berbeda'. Inilah yang membuat si kakak seperti tidak diakui oleh keluarganya. Apapun perbedaannya saya rasa tidak perlu kita bahas di sini.

Sebenernya ini bukan bagian saya untuk berkomentar mengenai keluarga mereka. Hanya saja kejadian ini setidaknya membuat saya berpikir ulang, bagaimana jika kejadian ini menimpa keluargamu? Apa yang akan kamu lakukan? Menerima dengan ikhlas atau malah menolak kehadirannya? Memiliki seorang angota keluarga yang 'berbeda' pasti sesuatu yang sulit untuk diterima. Peraan malu, kecewa, marah pastilah menghampiri. Tapi apakah menghindarkannya dari dunia luar adalah jawaban? Entahlah, saya gak bisa sok malaikat dengan mengatakan bahwa tindakan mereka salah. Hanya saja rasanya kok terlalu tega ya jika kita sampai mengindahkan kehadirannya. Betapa kecilnya kita jika menjadikan perbedaan itu alasan untuk menyembunyikannya. Memang saya akui sangat mudah untuk menulis kata-kata seperti ini di blog, bukan mengalami dalam realita seperti yang Boy alami. Tetapi sekali lagi ini hanya pemikiran saya sebagai pribadi di luar keluarga mereka.

Dan jawaban saya jika pertanyaan di atas dikembalikan kepada saya(dengan tidak ada niat untuk menjadi anak suci seperti Lala di sinetron Bidadari) adalah bagaimanapun keadaan saudara saya tidak akan pernah mengubah posisinya di hati saya, sungguh.

Rabu, 07 Oktober 2009

Di Dalam Kereta

Minggu kemaren aku naik kereta sama Ua, buat belajar pake mesin jahit. Aku yang emang hobi naik kereta setuju-setuju aja. Lagian, masa aku harus nenteng-nenteng mesin jahit turun naik angkot? Walaupun portable tapi lumayan juga beratnya. Untungnya, pilihan buat naik kereta ternyata gak salah.

Di dalam kereta aku bisa liat semua orang. Cewek-cowok, tua-muda, kaya-miskin, perpangkat pinggi-pegawai biasa, ada semua. Mulai dari pengamen tuna netra yang aku gak habis pikir gimana cara dia naik kereta, penjual koran dan majalah (harga koran di kereta cuma Rp1000), pedagang makanan (gorengan, snack, kue-kue), anak sekolahan, mahasiswa, pegawai negeri, sampe bapak-bapak berseragam lengkap dengan pangkatnya. Harga karcis kereta yang murah (ekonomi Rp1500, ekonomi AC Rp5500), bebas macet( ya ialah!),bikin kereta masih jadi pilihan utama buat alat transportasi sehari-hari. Walaupun jelas, banyak juga negatifnya, kalo gak ada tempat duduk harus nyiapin kaki buat bediri desak-desakan, panas, banyak copet, belum lagi dengan lalu lalangnya pengamen dan pedagang yang bikin kuping pengeng.

Di dalam kereta aku juga bisa mengamati kegiatan orang-orang selama di dalam kereta. Ada yang tidur, ada anak yang jerit-jerit minta diturunin di Monas, ada yang baca koran/majalah, dan yang paling parah.. Ada yang Facebook-an di kereta. Hello.. Sambil berdiri dengan satu tangan peganng gantungan di kereta, tangan yang satunya mijit-mijit handphone (yang belakangan diketahui dia sedang Facebook-an) Asli ya, aku gak ngerti dengan tujuan mbak itu. Mungkin dia lagi update statusnya gini "Gue lagee d kreta nich, pyenuh bangetd dech, pucink jadi na!" Gitulah kira-kira, aku gak ngerti tulisan gaul jaman sekarang soalnya.

Jakarta, September '09

Sabtu, 19 September 2009

Plus - Minus

Selama berapa minggu di sini jelas terasa berbeda. Semuanya berubah. Setiap hal punya sisi negatif dan positifnya. Ada enak gak enaknya. Ada plus minusnya. Bisa juga bikin loncat-loncat kegirangan atau nangis sampe guling-guling. Karna itulah aku mencoba membuat daftar enak dan gak enaknya selama berada di sini..

Gak enaknya:
1. Jauh dari keluarga. Kangen sangat dengan Papi, Mami, Bang Rio. Hari-hari dulu, tiap hari ketemu. Tiap hari ngobrol bareng di meja makan. Jadi inget kalo dulu setiap habis bangun tidur siang, pasti meluk Mami. Trus ditepok-tepok pantatnya, sok bayi lah aku (bayi bengkak). Kalo lagi nonton TV rebutan sama Bang Rio buat rebahan di paha Mami. Tiap hari juga kelahi sama Bang Rio. Ejek-ejekan. Mami selalu di kubu aku, jadi Bang Rio kalah telak. Atau ketawa sampe sakit perut karna ngeliatain Mami niruin gaya Tukul (Bukan Empat Mata) atau BCL (Pernah Muda). Hahaha.. Juga kangen dengan sikap cool papi yang ternyata sangat care. I love them soo much..

2. Tak ada mereka. Ya, di sini gak ada mereka. Gak ada Pepet, Cinduy, Sunsan, Nopitandi, semuanya. Gak bisa neror Pepet dengan telpon berjam-jam, gak ada noyor kepala Cinduy, gak ada narik rambut Sun, gak ada ngetawain Nopitandi. Berharap waktu ketemu meraka nanti, apapun keadan kita, kita tetap bisa main kartu, menjadi Si Bolang dan jajan di SMP2. Hahaha..

3. Mas Pur. Di sini juga gak ada Mas Pur. Gak usah Mas Pur deh, mas-mas yang lain juga boleh. Tapi beneran, selama ini aku gak ada nemu satu pun. Gila, selama ini udah aku puasa pentol. Ngiler banget kalo keinget bawang gorengnya, pop mienya, waaaa.. Coba Mas Pur buka cabang di sini, minimal ada delivery service deh..

Enaknya..
1. Ada Bangdo di sini. Jadi aku gak terlalu sepi. Gak berasa sendiri. Kita bisa jalan bareng, becandaan, dan bahu-membahu membersihkan kamar kos. Tiap hari jalan kaki ke warung depan buat beli makan, trus makannya di rumah Ua (kakak Mami, yang rumahnya ga jauh dari kosan). Ua juga udah kita anggap kayak Mami sendiri saking sayangnya Ua sama kita juga kita ke Ua. Ua yang selalu nemenin kita belanja keperluan kos, nyari mesin jahit, sampe beli baju.

2. Di sini ada LPTB Susan Budiharjo. Inilah alasan utama aku datang ke sini. Demi sekolah ini. Yang pada akhirnya demi cita-citaku. Walaupun harus kjedot angkot tiap hari, walaupun gambarku terjelek di kelas, otakku paling autis di kelas, aku harus tetap berjuang. Doakan saya yaa..

3. Belajar. Ya, di sini aku banyak belajar. Belajar segalanya. Yang paling jelas, belajar design. Menggambar, membuat pola, dan menjahit. Tapi aku juga belajar hal lain. belajar untuk mandiri,belajar ngatur uang, belajar melihat sekitar, belajar untuk berbaur. Dengan belajar inilah aku sadar kalo hariku bukan cuma sekedar ngerjain PR di sekolah, ngegosip di selasar, main ke rumah Sun, dan tidur. Bukan berati itu gak penting. Jujur, hari-hari itu menyenangkan, cuma ketika aku lebih melek akan sekitar, ternyata masih banyak hal lain yang bisa aku lakukan. Hal yang bisa aku eksplor dan pada akhirnya aku sadar bahwa dunia gak dibatasi oleh pagar hijau rumahku..

Jumat, 11 September 2009

Perubahan, Adaptasi, atau Hal-Hal Baru?

Banyak sangat perubahan yang terjadi akhir-akhir ini. Terlebih karna aku sudah delapan belas dan sekolah jauh dari orang rumah. Entahlah ini disebut perubahan baik atau buruk. Seperti inilah contohnya..

Aku sekarang merasa seperti kran bocor. Kerjaannya nangis trus. Kangen sama temen-temen, orang rumah, semuanyalah. Dikit-dikit nangis. Ditelpon Mami, nangis. sendirian di kosan, keinget orang rumah, nangis lagi. Haha.. Sungguh memalukan.

Bangun pagi. Jam setengah tujuh-an aku sudah dibangunin Bang Do. Bang Do berangkat ke kampus, aku mandi trus berangkat kursus. Ini pengalaman yang sangat baru karna aku mulai kursus jam setengah sepuluh tapi harus bangun tiga jam sebelumnya. Biasanya, aku kan bangun sejam sebelum berangkat sekolah. Jadi ini juga termasuk cobaan.

Masalah transportasi. Kalo biasanya dengan manjanya aku diantar Bang Rio ke sekolah, kali ini aku harus naik angkot dua kali, trus disambung naik metromini sekali lagi. Angkot sih lumayan. Nah metromini, parah. Lari-lari ngejar metromini, hampir jatuh, sampe kepala kejedot. Halah. Baru deh nyampe dengan keadan kaki keseleo, dahi memar, ngos-ngosan, serta badan bau asem.

Dengan bangganya aku mau bilang kalo aku selama di sini menjadi lebih rajin. Haha.. Bangun tidur nih ya, aku ngerebus air buat minum teh. Trus beresin tempat tidur. Kamar kotor, ane nyapu. Piring kotor, ane nyuci. Jangan lupa, bagian paling gak asoy, nyuci baju. Karna setiap hari ada PR, yah ngerjain PR juga jadi kegiatan rutin. Gak ada lagi deh cerita jaman SMA, datang ke sekolah pagi-pagi buat nyontek PR temen. Haha.

Baru kali ini Gogirl dianggurin. Ini bener! Baru kali ini aku gak selera buka Gogirl. Kalo dulu, dengan buasnya aku baca Gogirl dan khatam dalam sehari. Percaya atau ga, seminggu ynag lalu aku beli Gogirl, dan baru weekend ini dibuka.

Dari sekian banyaknya perubahan-perubahan yang terjadi, cuma satu yang gak berubah. Badanku. Tetep aja gitu segede bagong. Padahal tugas dari sekolah bikin rok dengan ukuran sendiri, kayaknya rok aku nantinya megang rekor "Rok Terbesar Angkatan Sept 09"

Minggu, 02 Agustus 2009

SELFISH

Setelah setua ini aku baru sadar akan satu hal. Aku adalah manusia yang egois. Jauh lebih egois dari orang yang dijuluki Cinduy "Selfish". Ketika menyadari hal ini aku jadi jijik dengan diri sendiri. Najis. Banyak kejadian yang nunjukin ke egoisanku ini. Sebenernya Cinduy udah lama mendengung-dengungkan hal ini. Tapi dulu aku tuli. Gak denger yang Cinduy bilang. Tapi sekarang, setelah aku liat ke belakang, aku baru ngeh. Terlambat.

Aku mengajak Jubaedah untuk bekerja sama.
Rencana ini aku buat karna aku mau nunjukin kalo aku sudah ikhlas. Aku sudah gak sakit lagi. Aku kuat bediri di dekat dia tanpa ada keinginan buat menjambak rambutnya. Pepet yang kuberitau rencana ini cuma bisa biang 'Kamu yakin? Kalo yakin mah sok atuh jalanin. Tapi kasian Jubaedah lho!' Bukan Mona namanya kalo gak ngeyel dengan apapun yang Pepet bilang. Karna aku selalu beda pendapat sama dia. Tapi kayaknya emang bener dengan ungkapan 'Kalo niat jahat, gak bakal ada jalan' Eh.. Beneran! Selalu ada aja hal yang bikin aku gak jadi kerja sama dengan dia. Sampe aku sadar kalo ini kayaknya jalan dari Tuhan buat nunjukin kalo aku jadi kerja sama dengan dia, mungkin aja hal buruk terjadi.

Menjadikan si permen sebagai pengukur lupa.
Akhirnya aku menjadikan si permen sebagai alat pengukur lupa. Sejauh mana sih aku melepaskannya? Mengikhlaskannya? Jahat memang. Sangat malah! Tapi aku punya pembelaan diri. Aku memerlukan tes pengukur rasa lupaku dan sayangnya dia kurang beruntung ada di saat yang kurang tepat. Pembenaran yang ngaco memang, tapi seenggaknya aku pintar ngeles kan? Hehe.. Hampir aku melakukan hal yang lebih jahat dengan sempat memikirkan untuk menjadikannya tameng. Tapi untungnya, setelah aku masukin kepala ke baskom penuh es aku sadar dan berhasil meloloskan diri. Hufh..

Membiarkan aku tau dan dia tidak.
Ini lebih parah. Aku membiarkan aku tau segala hal tapi dia gak tau sedikitpun. Licik kan? Dengan hanya memikirkan 'malu bukan kepalang' Idiot.

See, aku memang hanya selalu memikirkan diriku. Hidupku. Rasaku.

Minggu, 07 Juni 2009

Aku Sembuh

Aku sembuh!!
Dan seharusnya gak akan 'sakit' lagi..

Aku ikhlas!!
Dan seharusnya gak akan 'nyeri' lagi..

Aku bahagia!!
Dan seharusnya gak akan pernah berhenti..

Senin, 11 Mei 2009

REMUK REDAM

Aku remuk,
tanpa bentuk

Aku redam,
tanpa dendam
Berawal kelam,
berakhir lebam
dan kram..

Pertama kau ketuk,
kedua kau keruk

Terasa seperti garam, yang diperas asam

Lalu kau tinggal sampai lapuk dan terpuruk..

Jumat, 24 April 2009

Surat Untuk Pepet

Tolong, Pet..
Ada copet. Bukan maling dompet. Bukan juga maling karpet. Dia nyuri aset. Bikin lahan segede kebun karet. Bahagia yang jadi target, ternyata meleset.

Waktunya udah mepet. Bikin aku lari dan jatuh lecet-lecet. Eh.. Dia malah cuma ngunyah permen karet. Rasanya pengen aku lempar pake ceret.

Eh, ternyata dia Kedongpret. Gak akan tega aku bikin jadi kornet. Dasar monyet! Bikin sakeet..

Senin, 13 April 2009

Karma Sebuah Dilema, Dilema Sebuah Karma.

Tolong Mama..

Aku lagi dilema. Mungkin ini karma. Akan perbuatanku di waktu lama. Hal kaya ginilah yang selalu bikin asma. Seperti tersiram magma. Menyesakkan diafragma. Hanya karna sebuah nama.


Kini semua tak akan pernah sama..

Tak akan pernah kembali seperti pertama. Akan kujalani dengan seksama. Melewatinya dengan prima. Agar rasa tak terbuang percuma. Agar berakhir dengan rasa kurma..

Jumat, 03 April 2009

Hujan Dengar Aku

Hujan kayaknya selalu tau hatiku. Dia datang lagi malam ini, disaat aku memang lagi butuh waktu buat sendiri. Hujan hadir buat temani aku. Dikala aku dilema. Bimbang. Disaat aku benar-benar mengharapkan ia hadir di sini

Mari hujan, kita bersama rasakan ini. Resapi ini. Tuntun aku mencari jawabannya yang mungkin tersembunyi di balik dinginmu. Bantu aku menghadapi ini. Melewati semua dengan indah..

Mau Apa?

Hujan kali ini membiarkanku bermain dengan hatiku. Merenungkan segalanya. Sendiri. Tanpa teriakan toa Cinduy, tanpa rambut keriting Sun, tanpa virus bolot Nopit. Semuanya keputar lagi sekarang. Keingat akan yang sudah lewat. Terlambat. Sudah basi. Kadaluarsa. Gak ada guna sebenernya untuk mengingat itu semua. Cuma bikin sesak, lagi. Cuma bikin nyeri, lagi. Padahal aku mau keluar dan main hujan. Basah-basahan mungkin akan melegakan sedikit sesakku. Menyembuhkan sedikit nyeriku. Biar berlalu bersama hujan. Mengalir dan mengendap. Tapi Mami gak pernah setuju dengan usulku ini. Nanti sakit, selalu jadi senjata ampuh Mami. Jadi ya di sinilah aku. Duduk bersila di kamar. Menatap hujan dari jendela. Dengan ditemani suara Oom Keith Martin tentunya.

Kadang aku marah dengna diriku sendiri. Otakku. Terlebih hatiku yang gak bisa diajak kerja sama. Gak bisa kompromi. Gak mau nurutin apa kataku. Padahal akulah bos mereka yang berhak mengatur dan memerintah mereka sesuka hati. Tapi entah kenapa belakangan ini malah mereka yang mengaturku. Menentukan jalanku. Aku bilang stop, otak bilang jangan, hati bilang lanjut. Aku bilang buang, otak teriak jangan, hati teriak simpan.

Oh.. Kalian mau apa sih sebenernya?
Bersekutu melawanku?
Kita lihat saja siapa yang menang..

Jumat, 20 Maret 2009

Menyerah

Rasa yang salah
Otakku diperah
Sampe bedarah-darah
Pipi basah
Tanpa bisa dicegah
Mencoba gagah
Meskipun susah
Tambah parah
Dan akhirnya..
Menyerah..

Peluang Untuk Belajar

Aku selalu suka belajar dari masalah orang lain. Mungkin terdengar licik. Tapi bagiku, aku menganggap diriku cukup pintar. Menggunakan peluang ini untuk belajar. Bercermin dari masalah orang lain untuk memperbaiki diri sendiri. Di saat mendengar curhat teman tentang masalahnya, bukan cuma kupingku yang bekerja. Tapi otak dan hati pun ikut ambil bagian. Dari sinilah aku belajar. Belajar untuk selalu bersyukur. Belajar untuk berpikir. Belajar untuk melihat. Belajar untuk mendengar. Belajar untuk merasa. Belajar untuk belajar.

Sebenernya di saat 'mereka' cerita masalahnya adalah bagian terjujur dari diri mereka. Semua emosi keluar tanpa ada yang ditutupi. Sedih, marah, kecewa tumpah. Dari sini juga kita bisa menilai bagaimana cara dia mengontrol hati dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Akan keliatan mana yang tenang mana yang cengeng mana yang emosian. Inilah yang menjadi modul pembelajaranku untuk bisa melihat sebuah masalah dari berjuta sudut pandang.

Ketika salah seorang teman cerita tentang masalahnya dan keluarganya, dalam hati aku jerit 'thanks God sudah ngasih aku keluarga terbaik yang bisa aku punya'. Mendengar ceritanya membuatku bertekad untuk 1000 kali lebih sayang lagi sama keluargaku. Lebih nurut, gak nakal. Sungguh, keluargaku (Papi, Mami, Bang Do, Bang Rio) adalah orang terbaik yang pernah aku punya. Pendorong semangatku, pendukung pilihanku, pengontrol hidupku, penghibur sedihku. Spirit dalam hidup. Muachh-lah pokoknya.. Tuhan terlalu baik mengirimkan empat orang baik sekaligus hadir dalam hidupku karena itulah aku gak akan menyia-nyiakannya dan berjuang sekuatnya untuk menjaga, menyayangi, dan membahagikan mereka.

Lalu, untuk temanku yang merasa 'bermasalah' dengan keluarganya, apa yang harus dia lakukan? Bersyukurlah. Untuk apa? Setidaknya kamu masih punya keluarga..

Ini Disebut Keputusan

Sudah kuputuskan saja untuk tidak membunuh rasa ini. Mengikhlaskan, tidak melupakan. Merelakan, bukan menghapus. Menyimpan, bukan membuang. Membiarkan berlalu tanpa berusaha menguburnya.

Mudah memang membentuk teori. Tapi realita selalu berkata lain. Sangat susah untuk dibunuh. Sangat susah untuk diikhlaskan. Ketika semakin keras mengusirnya begitu kuat juga untuk kembali. Karna sesungguhnya aku tau ini tak akan mungkin untuk dibunuh. Berat memang. Dilanda nyeri. Perih. Dilema. Walaupun setengah berdarah, ini sudah kuputuskan.

Minggu, 01 Maret 2009

Penuh

Ketika kepalamu sakit dan muncul niat untuk membenturkannya ke dinding atau menjambak-jambak rambutmu, itu artinya otakmu kepenuhan. Penuh akan segala hal. Rasanya semua hal berebutan masuk ke sana. Tak berurutan. Tanpa nunggu giliran. Sesak jadinya. Disaat-saat seperti inilah aku merasa demiian. Di saat otak luber, hati nyeri,hari seketika berubah jadi musuh. Jadi pengen nyakar-nyakar diri sendiri. Atau yang paling parah, menyusun rencana untuk terjun ke sumur terdekat. Aku adalah orang yang dihancurkan oleh mood. Terdengar bodoh memang karna seharusnya kita yang mengontrol mereka. Tapi inilah kenyataannya. Ketika mendengar sesuatu yang menyakitkan, melihat segalanya tak sesuai rencana, moodku akan langsung turun ke titik terendah berganti dengan emosi yang tinggi. Jadi diem dan ketika ada yang ngajak ngobrol rasanya aku pengen cekek mereka. Aku tau ini buruk, menimpakan kekesalan pada orang lain yang jelas-jelas gak ada salah sama kita. Dan terparah, kejadian moodku ambruk hampir terjadi setiap hari.

Keadaan seperti inilah yang menyebalan. Di saat kamu ingin menunjuk keadaan, neriakin keadaan, nylahin keadaan, tapi akhirnya terduduk lemas adan sadar bahwa yang salah bukan keadaan, yng bodoh bukan keadaan, tapitapi ketololan murni yang datang dari diri sendiri.