Agama. Suatu hal yang sangat sensitif dan pribadi. Hanya hubungan antara kita sebagai individu dengan Tuhan. Cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Pemikiran inilah yang membuat saya kurang mengerti dengan betapa hebohnya reaksi orang-orang sekitar jika mengetahui ada seorang individu memutuskan untuk berpindah agama. Saya rasa itu keputusan pribadi tiap orang yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun karna pastinya dia sudah memikirkan segalanya dan pada akhirnya menjadi tanggung jawabnya kepada Tuhan. Bukankah sesungguhnya memilih agama sesuai dengan apa yang kita yakini adalah hak setiap orang? Kita sebagi orang di luar dia tidak berhak menghakimi keputusan yang dibuatnya. Saya gak pernah menyalahkan keputusan seseorang untuk berpindah agama (apapun alasannya) karna sesungguhnya kita tidak pernah memilih agama kita sendiri.
Buktinya sejak lahir orangtua kitalah yang secara otomatis menurunkan agamanya kepada kita. Dengan kata lain, agama yang kita anut sekarang ini pada awalnya adalah pilihan orangtua kita masing-masing. Jadi, sangat wajar jika dalam perkembangan usianya dia jatuh cinta pada agama lain dan memilih agamanya sendiri sesuai dengan pemikirannya. Atau memutuskan untuk tetap pada agama yang dia anut sejak lahir. Sekali lagi, hanya antara anda dan Tuhan.
Saya juga bukan orang yang setuju dengan orang-orang yang bilang 'maafin aja, biar dapat pahala' atau 'berdoa ah, biar dapar pahala' atau apapun itu yang berhubungan dengan pahala dan surga. Hello.. Jadi hidup anda di dunia ini cuma buat ngejar pahala? Supaya bisa masuk surga? Saya rasa tidak. Saya pikir buat apa kita berdoa setiap menit, berbuat baik selalu kalau hanya untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya? Rasa-rasanya kok doa dan berbuat baiknya hanya untuk mengincar surga semata ya? Gak ikhlas. Gak dari hati. Maksudnya begini, buat apa kita nolongin orang lain tapi dengan pikiran 'gue harus bantu dia biar dilihat Tuhan dan akhirnya masuk surga deh' kenapa bukan pikiran ini yang muncul 'gue harus bantu dia, ya karna emang saya harus nolong dia' Sekarang bayangin deh kalo istilah pahala dan surga gak ada? Mungkin gak kita selalu berbuat baik? Mungkin gak kita gak pernah lupa menyebut nama Tuhan? Saya ragu. Tapi ini bukan berarti saya mempengaruhi anda untuk berbuat bejat setiap hari lho ya, hanya saya saya rasa seharusnya setiap prilaku pribadi harus didasari oleh imannya dan dilakukan dengan ikhlas. Ya, ikhlas. Tanpa ada pikiran surga-neraka. Berbuat baiklah karna itu sudah seharusnya bukan karna diiming-imingi pahala. Saya rasa ketika anda melakukannya pun akan lebih enteng karna tanpa ada pikiran 'berapa banyakah pahala saya sekarang?'
Jadi menurut saya kesimpulannya adalah berlakulah sesuai yang diajarkan Tuhan kepada kita (karna semuanya pasti baik)dengan ikhlas, tanpa ada pikiran untuk mengejar pahala semata. Perkara dosa dan pahala, surga dan neraka bukan bagian kita. Bukan urusan kita. Kita terlalu kecil untuk ikut-ikutan memikirkan itu semua. Biarkan Tuhan yang menimbang semua pada akhirnya nanti.
PS : Tulisan ini sama sekali tidak ada maksud buat merendahkan agama manapun, serius. Saya hanya ingin berbagi pendapat saya saja, tanpa ada maksud menggurui apalagi sok alim. Bagi yang tidak setuju dengan tulisan ini sekali lagi, ini hanya pendapat sok tau saya.
Selasa, 05 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 komentar:
jika surga dan neraka tak pernah ada,, masihkah kau tunduk padanya?
terobsesi ahmad dani ni anak!
kayak dosen ku km ni mon,, bahas masalah agama mulu!
bukan cuma Ahmad Dhani neng, sama Oom Chrisye juga..
haha, kalo gtu salam 'cupcupmuach' dariku buat dosen km..
ada yg mo pindah agama kah?
Posting Komentar