Jumat, 20 Maret 2009

Menyerah

Rasa yang salah
Otakku diperah
Sampe bedarah-darah
Pipi basah
Tanpa bisa dicegah
Mencoba gagah
Meskipun susah
Tambah parah
Dan akhirnya..
Menyerah..

Peluang Untuk Belajar

Aku selalu suka belajar dari masalah orang lain. Mungkin terdengar licik. Tapi bagiku, aku menganggap diriku cukup pintar. Menggunakan peluang ini untuk belajar. Bercermin dari masalah orang lain untuk memperbaiki diri sendiri. Di saat mendengar curhat teman tentang masalahnya, bukan cuma kupingku yang bekerja. Tapi otak dan hati pun ikut ambil bagian. Dari sinilah aku belajar. Belajar untuk selalu bersyukur. Belajar untuk berpikir. Belajar untuk melihat. Belajar untuk mendengar. Belajar untuk merasa. Belajar untuk belajar.

Sebenernya di saat 'mereka' cerita masalahnya adalah bagian terjujur dari diri mereka. Semua emosi keluar tanpa ada yang ditutupi. Sedih, marah, kecewa tumpah. Dari sini juga kita bisa menilai bagaimana cara dia mengontrol hati dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Akan keliatan mana yang tenang mana yang cengeng mana yang emosian. Inilah yang menjadi modul pembelajaranku untuk bisa melihat sebuah masalah dari berjuta sudut pandang.

Ketika salah seorang teman cerita tentang masalahnya dan keluarganya, dalam hati aku jerit 'thanks God sudah ngasih aku keluarga terbaik yang bisa aku punya'. Mendengar ceritanya membuatku bertekad untuk 1000 kali lebih sayang lagi sama keluargaku. Lebih nurut, gak nakal. Sungguh, keluargaku (Papi, Mami, Bang Do, Bang Rio) adalah orang terbaik yang pernah aku punya. Pendorong semangatku, pendukung pilihanku, pengontrol hidupku, penghibur sedihku. Spirit dalam hidup. Muachh-lah pokoknya.. Tuhan terlalu baik mengirimkan empat orang baik sekaligus hadir dalam hidupku karena itulah aku gak akan menyia-nyiakannya dan berjuang sekuatnya untuk menjaga, menyayangi, dan membahagikan mereka.

Lalu, untuk temanku yang merasa 'bermasalah' dengan keluarganya, apa yang harus dia lakukan? Bersyukurlah. Untuk apa? Setidaknya kamu masih punya keluarga..

Ini Disebut Keputusan

Sudah kuputuskan saja untuk tidak membunuh rasa ini. Mengikhlaskan, tidak melupakan. Merelakan, bukan menghapus. Menyimpan, bukan membuang. Membiarkan berlalu tanpa berusaha menguburnya.

Mudah memang membentuk teori. Tapi realita selalu berkata lain. Sangat susah untuk dibunuh. Sangat susah untuk diikhlaskan. Ketika semakin keras mengusirnya begitu kuat juga untuk kembali. Karna sesungguhnya aku tau ini tak akan mungkin untuk dibunuh. Berat memang. Dilanda nyeri. Perih. Dilema. Walaupun setengah berdarah, ini sudah kuputuskan.

Minggu, 01 Maret 2009

Penuh

Ketika kepalamu sakit dan muncul niat untuk membenturkannya ke dinding atau menjambak-jambak rambutmu, itu artinya otakmu kepenuhan. Penuh akan segala hal. Rasanya semua hal berebutan masuk ke sana. Tak berurutan. Tanpa nunggu giliran. Sesak jadinya. Disaat-saat seperti inilah aku merasa demiian. Di saat otak luber, hati nyeri,hari seketika berubah jadi musuh. Jadi pengen nyakar-nyakar diri sendiri. Atau yang paling parah, menyusun rencana untuk terjun ke sumur terdekat. Aku adalah orang yang dihancurkan oleh mood. Terdengar bodoh memang karna seharusnya kita yang mengontrol mereka. Tapi inilah kenyataannya. Ketika mendengar sesuatu yang menyakitkan, melihat segalanya tak sesuai rencana, moodku akan langsung turun ke titik terendah berganti dengan emosi yang tinggi. Jadi diem dan ketika ada yang ngajak ngobrol rasanya aku pengen cekek mereka. Aku tau ini buruk, menimpakan kekesalan pada orang lain yang jelas-jelas gak ada salah sama kita. Dan terparah, kejadian moodku ambruk hampir terjadi setiap hari.

Keadaan seperti inilah yang menyebalan. Di saat kamu ingin menunjuk keadaan, neriakin keadaan, nylahin keadaan, tapi akhirnya terduduk lemas adan sadar bahwa yang salah bukan keadaan, yng bodoh bukan keadaan, tapitapi ketololan murni yang datang dari diri sendiri.