Aku selalu suka belajar dari masalah orang lain. Mungkin terdengar licik. Tapi bagiku, aku menganggap diriku cukup pintar. Menggunakan peluang ini untuk belajar. Bercermin dari masalah orang lain untuk memperbaiki diri sendiri. Di saat mendengar curhat teman tentang masalahnya, bukan cuma kupingku yang bekerja. Tapi otak dan hati pun ikut ambil bagian. Dari sinilah aku belajar. Belajar untuk selalu bersyukur. Belajar untuk berpikir. Belajar untuk melihat. Belajar untuk mendengar. Belajar untuk merasa. Belajar untuk belajar.
Sebenernya di saat 'mereka' cerita masalahnya adalah bagian terjujur dari diri mereka. Semua emosi keluar tanpa ada yang ditutupi. Sedih, marah, kecewa tumpah. Dari sini juga kita bisa menilai bagaimana cara dia mengontrol hati dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Akan keliatan mana yang tenang mana yang cengeng mana yang emosian. Inilah yang menjadi modul pembelajaranku untuk bisa melihat sebuah masalah dari berjuta sudut pandang.
Ketika salah seorang teman cerita tentang masalahnya dan keluarganya, dalam hati aku jerit 'thanks God sudah ngasih aku keluarga terbaik yang bisa aku punya'. Mendengar ceritanya membuatku bertekad untuk 1000 kali lebih sayang lagi sama keluargaku. Lebih nurut, gak nakal. Sungguh, keluargaku (Papi, Mami, Bang Do, Bang Rio) adalah orang terbaik yang pernah aku punya. Pendorong semangatku, pendukung pilihanku, pengontrol hidupku, penghibur sedihku. Spirit dalam hidup. Muachh-lah pokoknya.. Tuhan terlalu baik mengirimkan empat orang baik sekaligus hadir dalam hidupku karena itulah aku gak akan menyia-nyiakannya dan berjuang sekuatnya untuk menjaga, menyayangi, dan membahagikan mereka.
Lalu, untuk temanku yang merasa 'bermasalah' dengan keluarganya, apa yang harus dia lakukan? Bersyukurlah. Untuk apa? Setidaknya kamu masih punya keluarga..
Jumat, 20 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar