Tampilkan postingan dengan label Norak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Norak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2009

Menulis Surat Cinta

Kak,

Kita sudah ditakdirkan bersama. Engkau dan aku adalah satu. Kita serasi dan selaras. Engkau hanya diciptakan untukku, begitu pula sebaliknya. Ibarat kata aku adalah bunga dan kakak kumbangnya (sangat dangdut). Aku pohon dan kakak hujannya (nah, kalo yang ini ala Bollywood). Ibarat dongeng, kita adalah Jasmine dan Alladin. Ibarat roman percintaan legendaris kita adalah Romeo dan Juliet. Ibarat lagu, Galih dan ratna. Ibarat selebritis, Dewi Perssik dan Bang Ipul. Ibarat bahasa cinta, kita adalah upil dan ingus. Ini sungguhan, Kak! Serius! Baiklah, jika Kakak belum mengerti, dengan penuh kesabaran akan Adik jelaskan. Begini..

Upil : padat, kokoh, lezat
Ingus : kental, mengalir, lezat (juga)

Nampak serasi, bukan?
Rumah cinta kita adalah sebuah hidung megah yang melindungi kita dari terik matahari ataupun hujan badai.
Bagaimana, Kak? Kita jadian, yah? Saya harap Kakak setuju.

PS : Jika kita jadian kelak, Kakak boleh memilih untuk ingin menjadi upil atau ingus.
***

Awalnya surat inilah yang ingin aku kasih ke Sun waktu dia minta tolong dibuatin surat cinta untuk tuga OSPEKnya. Tapi karna aku masih mempertimbangkan keselamatan jiwanya di kampus, maka aku urungkan niat baikku ini. Akhirnya aku bikin satu surat cinta lagi, yang sesuai dengan permintaan sun, harus LEBAY! Oho, ini mah gancil. Inilah yang disebut dengan bakat. Pengalaman dicekokin telenovela waktu TK, film India jaman SD, ditambah penonton setia konser dangdutan bikin aku jadi berkpribadian geli nin norak. Malahan waktu masih di pertengahan surat Sun minta ampun nyuruh aku berhenti karna kadar lebaynya terlalu lebay. Halah!

Senin, 18 Mei 2009

Merindu

Musim liburan kayak ini yang bikin sakit. Pisah dari sekolah. Lepas dari seragam. Jauh dari teman-temanku nan imbisil. Belum juga seminggu, udah bikinku gagu.
Mungkin ini terdengar cemen, tapi AKU KANGEN !!

Jumat, 20 Maret 2009

Menyerah

Rasa yang salah
Otakku diperah
Sampe bedarah-darah
Pipi basah
Tanpa bisa dicegah
Mencoba gagah
Meskipun susah
Tambah parah
Dan akhirnya..
Menyerah..

Minggu, 23 November 2008

Sebuah Pertanyaan Untuk Teh Sosro

Aku gak ngerti teh sosro terbuat dari apa..
Kok rasanya beda dengan teh yang lain?
Manis sih, tapi bikin nerpes..
dan hopeless..

Rabu, 12 November 2008

PURAK Part 2

Gelisah..
Ngeliat di depan gak ada arah..
Gak punya denah..
Gak ada panah..
Parah..
Pasti kalah..
Bikin bedarah.. Akhirnya aku pasrah..
Smoga besok lebih cerah..
Biar ada celah..
Biar aku gak meranah..

Minggu, 19 Oktober 2008

PURAK : Puisi Norak

Lagi panas nih, kemaren ditantangin Cin buat bikin puisi..
Nih hasilnya.. Puas, Cin?

Heh,
Bayangin deh,
Kalo kamu itu sepiring sayur lodeh,
Ditambah cengkeh,
Dikasi cuka juga boleh,
Memang aneh,
Tapi bikin nageh..

Jumat, 01 Agustus 2008

Tawon dan Mas Pur

Kata orang umur 17 tahun sudah dianggap dewasa. Lantas, sudah cukup dewasakah kami?
Mari kita buktikan bersama..

Minggu-minggu pertama ajaran baru kayak sekarang belajar di sekolah belum terlalu aktif. Guru-guru banyak yang belum masuk sekolah, begitu juga dengan murid-muridnya yang lebih memilih untuk menambah libur mereka sendiri. Tapi tidak denganku dan teman-teman sepermainanku. Kami sudah memiliki tekad mulia sejak jauh-jauh hari. Keinginan yang sangat menggebu-gebu dan sakral. Walaupun hujan badai, jurang terjal kami lewati (haah?). Keinginan itu adalah "Main Monopoli" & "Main Hide and Seek". Yap, saudaraku kami hanya ingin bermain.. Kami ingin mengulang masa-masa dahulu kala disaat masih balita.

Permainan ini sukses membuatku merasa fresh dan luka karena disengat tawon (salah sendiri sembunyi di semak) serta mendapat kecaman dari berbagai pihak. Nah lho? Oke, yang pertama dari guru-guru yang pasti terganggu dengan suara ribut yang kami timbulkan. Trus, waktu aku lagi sembunyi di belakang Mas Pur(kapok di semak), paman pentol di sekolahku, pentolnya enak lho, rasa daging sapinya terasa banget, murah lagi, karena itu segeralah datang ke Pentol Mas Pur! Lho kok jadi promosi? Pokoknya seperti itulah.. Balik ke topik! Disaat aku lagi khusyuknya sembunyi, tiba-tiba ada ade kelas yang nyelutuk "Masa kecil kurang bahagia." Sesaat aku tersentak. Rasanya mau aku jambak rambut ade itu tapi sadar kalo dia botak. Lalu akau mencoba berpikir positif "Ah, dia cuma sirik karena gak diajakin main.'' Yups, pasti itu sebabnya.

Main monopoli juga seru sih walaupun kurang bebas lari-larian yang notabene membuatku sedikiiiiit kurus dan yang paling menyebalkan adalah aku SELALU kalah. Aku paling bolot deh dalam permainan kayak gini. Dibegoin juga gak tau. Beda dengan Nopit yang selalu jadi juragan rumah dan jutawan. Padahal dalam keseharian dia yang paling bolot diantara kami-kami yang bolot. Aku curiga juga, jangan-jangan dia nilep uang bank. Hiyaa, u r busted, Nopit!

Udah ah, gak tau mau nulis apa.
Cuma mohon doanya supaya lain kali aku menang!

Senin, 21 Juli 2008

Jadi Apa?

Cita-cita?
Ngomongin cita-cita mungkin gak ada ujungnya..
Tapi kalo ngomongin cita-cita sama aku malah gak ada awalnya..
Temen-temen yang lain kalo ditanya 'Mau jadi apa nanti?' Pasti pada rebutan jawab. Ada yang mau jadi dokter( paling banyak), pegawai bank, design grafis, pengacara, pilot, dan lainnya..
sedang aku, 'Mau jadi apa nanti?' Aku cuma jawab 'Hmm.. Hmm.. Apa yah?'

Aku kok gatau mau jadi apa?
Jadi akuntan?
Simpel, Gak minat..

Jadi politikus?
apalagi itu..

Jadi dokter? Boro-boro..
Dulu sempet sih punya cita2 jadi dokter gigi cuma setelah Papi ngeliat nilai ulangan harian matematikaku yang dapet 4, Papi cuma bilang 'Mona mau jadi dokter gigi apa dengan nilai matematika sgini?' Aku seakan tertampar ( hiperbol) dan sejak itu menyadari bahwa otak aku gak bisa akur dengan pelajaran2 seperti matematika dan kawan-kawannya. Sejak itu 'Selamat tinggal dokter gigi'

Jadi pramugari?
Waktu itu sih masih kecil, masih kurus jadi oke aja jadi pramugari. Nah sekarang, dengan badan seberat babon gini yang ada pesawatnya gak bisa terbang..

Jadi pengacara?
Kata Papi, Mami, Abang2 berat. Bukan berat badanku tapi berat resiko dan tanggung jawabnya. Musti kuat ngapal pasal-pasal, harus jujur dan gak ngebelain yang salah. Belum lagi Mami takut aku kena kasus2 pembunuhan pengacara gitu yang dulu lagi rame-ramenya. Kebanyakan nonton infotainment tuh mami (hubungannya apa coba?)

Gak adail sih kalo nyalahin orang-orang terdekat dengan penyakit ketidatakpunyaan cita-citaku ini. Salahnya emang di aku yang buntu banget pelajaran ngitung, berbadan lebar, dan sok pinter. Tapi bukan berarti aku gak punya keinginan sama sekali dalam hidup, lho..
Aku tertarik, ingat hanya tertarik bukan merasa punya bakat, di bidang fashion kaya jagi owner butik, fashion editor, fashion stylist, atau dibagian PR sebuah majalah/stasiuntv/radio.
Tapi keinginan yang paling mendalam sih jadi istrinya dubes atau kalo gak kesampean ya minimal istrinya pengusaha lah. Hehe..

Kok kayanya postingannya gak penting yah?
Ya sutralah..