Setiap sebelum tidur, berkhayal jadi agenda favoritku selain ngedengerin lagu-lagu jadul. Aku mengkhayalkan apa saja. Semua kejadian yang gak mungkin. Dan ketika Cin nantangin buat posting 'Skenario Masa Depan' di blog masing-masing antara aku, Cin, dan Sun (kok jadi mirip Jin dan Jun ya? Hohoho) aku langsung ngangguk-ngangguk setuju karna itulah yang slalu ada di otakku.
Ini dia..
Tahun 2021, umur 30, udah nikah, mantu Aburizal Bakrie, ade iparnya Adinda, yang artinya bini Ardie Bakri seorang pengusaha nan kaya slash empunya TV One slash pewaris tunggal Kerajaan Usaha Bakrie slash kaya nian tiada tara. Sounds soo marte yah? Hehe.. Ini juga artinya aku diteror sama Nia Ramadhani yang notabene mantannya Ardie dan masih ngarep sangat jadi Ny. Bakrie dan dua hari kemudian ditemukan tewas dengan bekas cakaran Nia di leher. Gak lah. Aku gak mungkin merusak persahabatanku dengan Nia yang sudah dari orok berbagi popok. Becanda lagi! Partner hidupku bukan Ardie Bakrie, Junior Liem, ataupun David Beckham, tapi dia adalah orang yang kayak Papiku. Bukan umurnya, tapi sifatnya. Baiknya minta ampun, bijaksana tiada tara, sabarnya luar biasa, cool pula. Jujur, siapa orangnya gak pernah aku bayangin. Lebih jujur, teh kotak dulu pernah mengisi peran ini. Norak, bukan?
Punya dua anak, Edmundcello Richie dan Ednabella Richie (Richie sudah menjadi nama favoritku sejak SMP). Kenapa Richie? Kata orang nama adalah doa dan Richie diambil dari kata Rich yang artinya kaya. Aku mengharapkan ‘mereka’ kelak jadi anak yang kaya, baik harta ataupun hati. Dalem kan? Emang pinter aku ini. Nama panggilan mereka nantinya Eet 1 dan Eet 2. Ya gak lah, panggilannya Abang Cell dan Ade Bell, lucu kan? Aku tinggal di rumah bata bercerobong asap (tempat buat Santa Clause mendarat) dan ada balkon yang bikin aku puas liat hujan dan bintang tiap malam. Aku yang ngantar jemput sekolah atopun les duo Richie, nyiapin bekal, sampe bacain dongeng sebelum mereka tidur.
Aku juga punya karir di NADA Boutique, sebuah butik dengan baju-baju hasil design aku dan Nan plus coffee shop berlantai dua. Konsep butik dan coffee shop yang digabung adalah supaya para pembeli dalam keadaan segar dan rileks dalam berbelanja. Di lantai dua adalah ruang kerja aku, Nan, karyawan, dan gudang kain. Inilah kerjaanku tiap hari sebagai owner sekaligus fashion buyernya. Ketemu klien, meeting sama karyawan, perang ide sama Nan, nonton fashion show di Paris buat nambah referensi fashion dan belanja kain. Buatku, gak perlu jadi direktur perusahaan besar ato punya pabrik dimana-mana, sebuah butik sudah lebih dari cukup buatku selalu merasa berumur 12 tahun.
Ini hanya sebuah imajinasi gila yang bikin liur menetes setiap kali membayangkannya. Jadi mohon ampun jika terdengar sangat jijay lebay. Tapi segila-gilanya atau setidakmungkin-mungkinnya terjadi, aku tetap berharap akan kejadian..
Senin, 12 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
boleh juga bakat ngehayalnya mona!
q aminkan aj.asal ntar klu jd kenyataan jangan lupa temen lama.hahaha..
*mank qta temen???hehe.. becanda cuyy*
Posting Komentar