Minggu, 17 April 2011

Kenapa Bahagia Selalu?

Saya lebih menyukai kalimat 'bahagia selalu yaa' dalam setiap ucapan selamat ulang tahun daripada 'semoga panjang umur' atau 'sehat selalu' dan sebagainya. Bukannya gak mau panjang umur, sehat atau pun sukses. Semua orang pasti mau itu, bego kalo enggak.

Kalo gitu trus kenapa saya kurang suka? Bagi saya bahagia itu sempurna. Pembungkus semua ucapan sehat sukses dan sebagainya itu. Panjang umur, sehat dan sukses tentu tak akan seindah itu bukan jika tanpa dibungkus bahagia? Sekarang gini deh lo panjang umur sampe usia 237 tapi sepanjang hidup lo isinya nangis mulu gak ada seneng-senengnya, seperti disiksa majikan dalam sinetron kejar tayang. Mungkin lo sukses besar, duit dijadiin bantal, kasur dari berlian (umm.. agak sakit kayaknya ya) tapi hidup lo datar aja gitu, kosong. Bahagia gak? Mau gak? Atau kalo kata urang Banjar 'hakun lah?'.

Jadi maksudnya gini, 'bahagia selalu' inilah yang menjadi doa saya bagia siapa saja yang berulang tahun, dalam kondisi apapun. Tak peduli apapun. Mau sehat atau sakit mau nangis atau ketawa mau sukses atau belum sukses yang saya mau mereka bahagia. Saya yakin dengan setidaknya merasa 'bahagia' semua perkara hidup jadi tak terasa sebesar dan seberat itu. Ya, karna itulah saya lebih memilih kalimat 'bahagia selalu yaa' daripada kalimat lainnya karna saya gak mau kalian lupa caranya tertawa bahagia.

Sabtu, 20 November 2010

Berteman-an

Saya selalu menikmati saat pergi bersama teman-teman. Saya selalu mencintai tiap detiknya. Setiap tawanya. Setiap leluconnya (terlepas dari jayus ataupun tidaknya). Saya akan bahagia. Entah kita harus berdebat mau pergi kemana dan ngapain. Entah kita harus tersesat ke ujung Jakarta mana. Entah kita saling mencela satu sama lain. Entah kita berdebat karna perbedaan pendapat (yang seringnya terjadi di tiap topik pembicaraan).


Tapi kadang saya benci. Benci ketika kita terlalu bahagia. Terlalu banyak tertawa. Terlalu banyak bersama. Sebenarnya yang saya benci bukan mereka. Tapi ketika membayangkan bahwa kita harus pisah. Dipaksa keadaan. Saya benci perasaan sedihnya. Saya selalu benci membayangkan bahwa suatu hari kita (pasti) pisah. Bukan cuma dengan teman baru saya di Jakarta saja, tapi juga dengan teman-teman jaman SMA saya. Teman-teman yang selalu membuat hidup terasa lebih seimbang.

Kamis, 14 Oktober 2010

Menyesal

Semakin dibilang 'Ya udahlah. Gak apa-apa'
Semakin membuat saya mau nangis jejeritan
Semakin membuat saya tak henti-hentinya mengutuki diri 'tolol'
Semakin membuat saya merasa bersalah
Semakin membuat saya ingin bilang 'maaf' 'maaf' 'maaf'
Semakin membuat saya ingin mengulang segalanya

Semakin membuat saya menyesal..
Semakin membuat saya sungguh menyesal..

Hujan Sepuluh Ribu

Hari ini saya dan Ua pergi ke Tanah Abang. Tidak penting apa yang saya beli di sana karna yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagian ketika kita mau pulang dari Tanah Abang. Waktu kita keluar dari sana hujan sangat lebat. Entah kenapa hujan di Jakarta akhir-akhir ini suka lebay. Suka pake petir gede. Angin kencang dan sebagainya. Kita harus nyebrang jalan untuk bisa pulang. Di saat-saat seperti inilah ojek payung sangat diperlukan. Saya memilih seorang anak muda yang membawa payung cukup besar untuk kita berdua. "Kalo ke seberang berapa?" Tanya Ua. "Terserah aja, Bu" Katanya. Lalu dengan diikuti mas ojek payung kita berjuang untuk menerobos hujan. Seperti yang saya bilang tadi kalo hujannya lebay, makanya saya harus memegang payung sekuat mungkin kalo gak mau payungnya terbang dan kita basah kuyub. Begitu sampai di seberang saya dan Ua sampai dengan badan kering walaupun sepatu banjir haha. Sedangkan mas-nya udah kuyub dan sedikit menggigil. Lalu saya mengeluarkan selembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepada si mas ojek payung. Mas ojek payung bertanya "Ini semuanya buat saya?" Tanyanya dengan ekspresi heran "Iya mas, makasih ya" Saya jawab sambil menepuk pundaknya. Entah kenapa saya merinding. Bukan! saya bukan jatuh cinta kepada mas itu ataupun kedinginan. Tapi saya merasa betapa sepuluh ribu saya bisa membuatnya tersenyum. Bukan bermaksud pamer atau apa tapi yang ingin saya bagi kali ini adalah perasaannya. Perasaan bahagia dan terharu ketika melihat seseorang begitu bahagia menerima pemberian kita (yang mungkin menurut kita tak seberapa) diterima dengan baik itu membuat bahagia kita berlipat-lipat ganda.

Selasa, 31 Agustus 2010

Menurut Anda?

Paling sebel kalo ada yang nanya 'Gak kangen Palangka, Mon?' 'Gak kangen Papi Mami?' Kalo pertanyaannya kayak gini, saya bisa jawab apa? Gak perlu dijawab saya rasa. Come on, logika anda dimana? *ketok2 pelipis* Saya udah hampir setahun ga ketemu keluarga dan teman-teman di sana (walaupun Papi beberapa kali dateng ke sini). Nah, jadi menurut anda mungkinkah saya gak kangen sampe ke ubun-ubun?

Minggu, 15 Agustus 2010

Bukannya Saya Gak Mau Pulang

Bukannya saya gak mau pulang tapi tugas saya (termasuk baju buat ujian) yang banyak ini ngantri untuk diselesaikan. Saya rasa gak mungkin juga saya pulang dengan membawa segenap kain, kertas pola dan mesin jahit ini.
Bukannya saya gak mau pulang tapi mana mungkin saya bisa leyeh-leyeh dengan tenang di rumah tapi otak mikirin perkara ujian ini. Saya belum ikut ujian, belum graduation belum apa-apa.
Bukannya saya gak mau pulang tapi saya gak tahan dengan ekspektasi orang-orang sekitar yang selalu berharap lebih dari saya. Ini alasan paling utama sebenernya.

Kamis, 22 April 2010

Papiku Pa Mona

Tanggal 20 kemarin, Papi saya nan tampan ulang tahun ke 56. Dua anaknya (saya dan Bang Doan)yang terpisah pulau hanya bisa mengucapkan selamat dan doa-doanya lewat telepon. Kata Papi, ulang tahun Papi kali ini dirayakan dengan makan malam dengan keluarga terdekat. Dalam hati saya iri. Bukan perkara makanannya tapi karana saya tahun ini belum bisa mengucapkan selamat ulang tahun dan memeluk Papi secara langsung ;(. Tak apa, Mona! Tahun depan kita rayakan bareng!

Tidak seperti tahun lalu, Bang doan, Bang Rio dan saya memberikan surprise party kecil-kecilan buat Papi. Jadi ceritanya, kita bertiga patungan buat beli kue tart. Trus kita bagi-bagi tugas, Bang Doan sebagai siakangan (anak tertua) berfungsi sebagai pemimpin barisan yang bawa kue, Bang Rio bawa gitar buat nyanyi bareng, dan saya memiliki profesi terpenting, yaitu.. fotografer! Haha.. Setiap momen menjadi tanggung jawab saya untuk diabadikan. Semua perlengkapan kita sembunyiin di kamar saya yang emang selalu jadi base camp buat kami bertiga. Jam dua belas malem teng, rombongan berangkat dari kamar saya menuju ke ruang makan karna Papi Mami lagi ngobrol disitu dan jeng.. jeng.. Bernyanyilah kami walau nada sumbang. Bernyanyilah kami walau tengah malam. Bernyayilah kami walau tetangga ngamuk. Setelah kami mengucapkan selamat ulang tahun, cipika-cipiki, berpelukan dan berdoa bersama, Papi potong kue (kalian taulah potongan pertama untuk siapa)dan akhirnya.. ngobrol deh sampe pagi..

Saya sungguh bersyukur diberikan Tuhan empat orang (Papi, Mami, Bang Doan, Bang Rio) terbaik sekaligus dalam hidup. Saya bahagia karna diberikan Tuhan seorang Papi yang seperti Papi dan dengan bangganya saya nobatkan sebagai The Coolest Daddy In The World. Ya, Papi adalah ayah ter-cool sedunia. Bukan berarti Papi gak care sama keluarganya tapi Papi punya cara tersendiri buat nunjukin rasa sayangnya dan seringkali caranya ajaib. Kesehariaannya Papi memang terkesan cuek sama anak-anaknya tapi saya tahu Papi sayang kita karna gitu juga yang kita rasain ke Papi. Papi akan sesegera mungkin pulang dari kerja di luar kotanya begitu tau salah satu anaknya sakit. Membawa kita ke dokter, memeriksa keadaan kita tiap jam, mengingatkan jadwal minum obat kita dan segalanya.

Papi selalu membiarkan kita (anak-anaknya) untuk memilih sendiri cita-citanya. Walaupu selalu siap sedia ketika kita bertanya pendapat dan minta pertimbangan. Buktinya Papi ga keberatan dengan pilihan saya untuk ambil juruan fashion design justru menguatkan ketika saya sempat ragu dengan pilihan ini. Papi entah punya seberapa banyak sabar. Papi entah punya berapa hektar lahan maaf di hatinya. Papi entah punya seberapa penuh keikhlasannya.

Saya sangat mengidolakan Papi. Sangat menjadikan panutan. Bahkan berniat untuk mencari lelaki seperti Papi. Ya sabarnya, ya baiknya, ya carenya, ya tulusnya, ya ikhlasnya, ya segalanya.

Berdoa kepada Tuhan semoga Papi sehat selalu. Berdoa kepada Tuhan semoga Papi panjang umur. Berdoa kepada Tuhan semoga Papi dimurahkan rezekinya. Berdoa kepada Tuhan semoga Papi dijauhkan dari segala yang jahat. AMIN.

Rabu, 07 April 2010

Si Kelingking

Badannya boleh cuma sebesar kelingking saya,
tapi besar hatinya dua kali lipat lebih besar dari badan saya

Badannya boleh serapuh lidi,
tapi dia kuat menghadapi masalah sekuat-kuatnya

Badannya boleh terlihat sehat,
tapi saya tau dia sedang sakit parah

Badannya boleh sebesar kelingking,
tapi bagian menghadapi perkara, saya hanya sebesar kelingkingnya

Jumat, 05 Februari 2010

Malikh Al Aqil








Lelaki tampan di foto ini bernama Malikh Al Aqil. Malikh (atau saya lebih suka memanggilnya Abang Malikh) adalah anaknya Kakak sepupu perempuan dari pihak Mami yang paling dekat dengan saya. Sedih memang ketika Kakak saya nelpon dan bilang "Mon, Kakak dilamar!" Saya merasa kehilangan partner buat ngegosip, nyalon dan belanja. Setelah nikah Kakak diboyong suaminya ke Batam dan ngelahirin disana. Jadi saya belum liat wujud asli Si Abang ini. Kata Kakak ekspresi Si Abang kalo difoto selalu gitu, meletin lidah..Semenjak nikah dan pindah ke Batam kita jadi jarang telpon-telponan kalopun sekali nelpon ga bisa lama, kenapa? Si Abang Malikh jawabannya. Waktu Auntie sama Mamahnya lagi asik-asinya ngegosip eh.. Kakak saya bilang 'Udahan Mon ya, Malikhnya bangun" atau Malikhnya teriak-terik dengan bahasa yang cuma dia yang ngerti karna pengen ikutan gosip, yahhh..

Selasa, 19 Januari 2010

SILHOUETTE

Inilah tema buat ujian saya di LPTB Susan Budihardjo untuk tahun 2010. Atau biar lebih gampang mari kita jadikan Indonesia, Siluet. Semenjak print outnya dibagi, perut saya bergejolak. Gugup. Ujian akhirnya berupa fashion show yang isinya merealisasikan tiga design kita, termasuk sepatu dan aksesoris. Satu saja saya sudah cukup pusing, bagaimana dengan tiga?

Pengararah ujian akan dimulai bulan depan, walaupun fashion shownya sendiri diadain Oktober. Tentang tema saya belum bisa cerita banyak karna belum ada pengarahan formalnya. Cuma yang jelas setiap baju pasti ada siluetnya, mulai dari siluet A-Z. Nah, siluet-siluet inilah yang harus kita wujudkan secara avant garde ke dalam bahan velt. Ya, satu koleksi ditentukan harus menggunakan bahan velt (lebih tebel dari flanel, yang biasa buat meja biliard) sedangkan dua koleksi lainnya bebas. Jujur, untuk design baju saya belum mendapatkan ide, :(

Book of idea. Ini merupakan salah satu syarat untuk ikut ujian. Yah boleh dibilang semacam portofolio lah. Isinya mulai dari sepuluh design kita (beserta technical drawingnya), inspirasi, iklan, benang merah, price tag, paper bag, name card, segalanya lah. Hufh.. Memang akan sangat banyak yang harus diurus tapi saya rasa ini pasti menyenangkan. Dan kemudian semuanya itu akan dipresentasikan di depan semua guru-guru dan Bu Susan Budihardjonya sendiri! Ya, pada akhirnya kita dituntut untuk mengerti dan mengerjakan semuanya sendiri, muali dari cari inspirasi, design, pemotretan, background musik, bikin book of idea, sampai presentasi.

Menjadi 20 besar apalagi the best student bukan obsesi saya (walaupun ngarep dalam hati) Saya ikhlaskan saya posisi itu kepada yang lebih berhak karna yang menjadi pertanyaan terpentingnya sekarang adalah 'akankah saya ikut ujian tahun ini?' Harus dan pasti jawabannya! Go Mona!

Jumat, 15 Januari 2010

Negara Idaman

Untuk tinggal :
Entah kenapa saya saya selalu terbayang Belanda. Seperti ada magnet yang menarik saya untuk pergi ke sana. Namun sayangnya 'hanya' magnet yang menarik saya, uangnya tak ada. Saya selalu suka melihat kincir anginnya Belanda, menenangkan. Bunga tulipnya juga. Saya bukan tipe orang pecinta bunga, tapi cuma tulip lah yang berhasil membuat saya jatuh hati. Bentuknya yang sederhana dan warnanya yang cerah lebih menarik dibandingkan mawar yang berkesan feminin. Inilah yang selalu saya bayangkan, makan keju hangat di depan rumah sambil memandang taman bunga tulip dan kincir angin. Mauu.. Mauu.. Mauu..

Untuk Liburan :
Apalagi untuk liburan akhir tahun saya sangat mengidam-idamkan Amerika Serikat, New York lebih tepatnya untuk merasakan indahnya white Christmas. Serba putih dan dingin. Ada Snowman, Santa Claus, Rudolph, Christmas Tree, Mistletoe, dan teman-temanya.

Untuk Belanja :
Sudah banyak saksi yang bilang kalo Hong-Kong surganya belanja. Segalanya murah. Boots cuma 70ribuan (bisa dibayangin kalo nyampe Indonesia bisa jadi ratusan) Hanya saya kurang percaya jika belum membuktikannya sendiri. Haha..

Untuk Tobat :
Saya rasa semua umat kristiani mengidam-idamkan pergi ke Israel. Saya yang murtad inipun demikian.

Kamis, 14 Januari 2010

Jajanan Penggoda Iman

Menuruti kata-kata Sunsan, maka saya membuat postingan tentang jajanan maut yang menggoyahkan iman versi saya. Berikut daftarnya :
Jajanan di SMP 2 Palangkaraya. Mulai dari pentol goreng, tempe bakar, dadar guling, dan teman-temannya. Asli ya, SMP ini bikin saya nagih. semua jajanannya maut dan murah. Jdi pengen, :P
Kue kacang. Kue kacang maut ini beneran enak. Kacangnya terasa sekali, gak kaya kue kacang di sini yang rasanya lebih mirip bakwan.
Dan yang merebut posisi satu adalah.. Jeng.. Jeng.. Donatnya J. Co. Ngebayanginnya aja bikin liur saya menetes. Bener-bener enak dan bikin iman saya goyah. Setiap ke mall dan ngelewatin gerai J. Co donat-donatnya itu seakan-akan membundarkan matanya, memelas dan minta dibawa pulang. Aaaaarggghh! Ga cukup satu, harus setengah lusin, hahaha..

Si Sun emang banyak mau. Kemarin minta jajanan favorit, sekarang minuman. Saya gabung aja yaa..
Teh manis panas. Maafkan selera saya yang agak tua ini. Tapi ini bukan salah saya sepenuhnya, tapi karna penyakit pilek menahun inilah yang menuntut saya untuk selalu minum air hangat.
Guava juice. Apapun merknya saya suka. Mulai dari Buavita, Jungle Juice sampe yang baru saya temukan.. Pome Juice Rasa Guava. Entahlah merknya benar atau tidak yang pasti iklannya Titi Kamal itu lho.
Dan yang merebut posisi satu dan takan mungkin terganti adalah.. Milo 3 in 1 buatan Mami. Love it! Love it! Love it! Apalagi dibikinin milo ini setelah perjuangan dengan merayu dan gelendotan sama Mami, tambah enakk..

Selasa, 05 Januari 2010

Agama

Agama. Suatu hal yang sangat sensitif dan pribadi. Hanya hubungan antara kita sebagai individu dengan Tuhan. Cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Pemikiran inilah yang membuat saya kurang mengerti dengan betapa hebohnya reaksi orang-orang sekitar jika mengetahui ada seorang individu memutuskan untuk berpindah agama. Saya rasa itu keputusan pribadi tiap orang yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun karna pastinya dia sudah memikirkan segalanya dan pada akhirnya menjadi tanggung jawabnya kepada Tuhan. Bukankah sesungguhnya memilih agama sesuai dengan apa yang kita yakini adalah hak setiap orang? Kita sebagi orang di luar dia tidak berhak menghakimi keputusan yang dibuatnya. Saya gak pernah menyalahkan keputusan seseorang untuk berpindah agama (apapun alasannya) karna sesungguhnya kita tidak pernah memilih agama kita sendiri.

Buktinya sejak lahir orangtua kitalah yang secara otomatis menurunkan agamanya kepada kita. Dengan kata lain, agama yang kita anut sekarang ini pada awalnya adalah pilihan orangtua kita masing-masing. Jadi, sangat wajar jika dalam perkembangan usianya dia jatuh cinta pada agama lain dan memilih agamanya sendiri sesuai dengan pemikirannya. Atau memutuskan untuk tetap pada agama yang dia anut sejak lahir. Sekali lagi, hanya antara anda dan Tuhan.

Saya juga bukan orang yang setuju dengan orang-orang yang bilang 'maafin aja, biar dapat pahala' atau 'berdoa ah, biar dapar pahala' atau apapun itu yang berhubungan dengan pahala dan surga. Hello.. Jadi hidup anda di dunia ini cuma buat ngejar pahala? Supaya bisa masuk surga? Saya rasa tidak. Saya pikir buat apa kita berdoa setiap menit, berbuat baik selalu kalau hanya untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya? Rasa-rasanya kok doa dan berbuat baiknya hanya untuk mengincar surga semata ya? Gak ikhlas. Gak dari hati. Maksudnya begini, buat apa kita nolongin orang lain tapi dengan pikiran 'gue harus bantu dia biar dilihat Tuhan dan akhirnya masuk surga deh' kenapa bukan pikiran ini yang muncul 'gue harus bantu dia, ya karna emang saya harus nolong dia' Sekarang bayangin deh kalo istilah pahala dan surga gak ada? Mungkin gak kita selalu berbuat baik? Mungkin gak kita gak pernah lupa menyebut nama Tuhan? Saya ragu. Tapi ini bukan berarti saya mempengaruhi anda untuk berbuat bejat setiap hari lho ya, hanya saya saya rasa seharusnya setiap prilaku pribadi harus didasari oleh imannya dan dilakukan dengan ikhlas. Ya, ikhlas. Tanpa ada pikiran surga-neraka. Berbuat baiklah karna itu sudah seharusnya bukan karna diiming-imingi pahala. Saya rasa ketika anda melakukannya pun akan lebih enteng karna tanpa ada pikiran 'berapa banyakah pahala saya sekarang?'

Jadi menurut saya kesimpulannya adalah berlakulah sesuai yang diajarkan Tuhan kepada kita (karna semuanya pasti baik)dengan ikhlas, tanpa ada pikiran untuk mengejar pahala semata. Perkara dosa dan pahala, surga dan neraka bukan bagian kita. Bukan urusan kita. Kita terlalu kecil untuk ikut-ikutan memikirkan itu semua. Biarkan Tuhan yang menimbang semua pada akhirnya nanti.

PS : Tulisan ini sama sekali tidak ada maksud buat merendahkan agama manapun, serius. Saya hanya ingin berbagi pendapat saya saja, tanpa ada maksud menggurui apalagi sok alim. Bagi yang tidak setuju dengan tulisan ini sekali lagi, ini hanya pendapat sok tau saya.

Rabu, 16 Desember 2009

Perkara Aku - Mengakui

Baru denger berita dari Nopit tentang seorang temen kita yang ternyata bukan tunggal. Lebih jelasnya begini, jadi kita punya temen (sebut saja dia Boy) yang kita tau selama ini dia anak tunggal. Tapi ternyata tidak, kawan! Sungguh mengejutkan karena selama ini Boy mengklaim diriya sebagai anak tunggal sejati. Malangnya sang kakak ternyata agak 'berbeda'. Inilah yang membuat si kakak seperti tidak diakui oleh keluarganya. Apapun perbedaannya saya rasa tidak perlu kita bahas di sini.

Sebenernya ini bukan bagian saya untuk berkomentar mengenai keluarga mereka. Hanya saja kejadian ini setidaknya membuat saya berpikir ulang, bagaimana jika kejadian ini menimpa keluargamu? Apa yang akan kamu lakukan? Menerima dengan ikhlas atau malah menolak kehadirannya? Memiliki seorang angota keluarga yang 'berbeda' pasti sesuatu yang sulit untuk diterima. Peraan malu, kecewa, marah pastilah menghampiri. Tapi apakah menghindarkannya dari dunia luar adalah jawaban? Entahlah, saya gak bisa sok malaikat dengan mengatakan bahwa tindakan mereka salah. Hanya saja rasanya kok terlalu tega ya jika kita sampai mengindahkan kehadirannya. Betapa kecilnya kita jika menjadikan perbedaan itu alasan untuk menyembunyikannya. Memang saya akui sangat mudah untuk menulis kata-kata seperti ini di blog, bukan mengalami dalam realita seperti yang Boy alami. Tetapi sekali lagi ini hanya pemikiran saya sebagai pribadi di luar keluarga mereka.

Dan jawaban saya jika pertanyaan di atas dikembalikan kepada saya(dengan tidak ada niat untuk menjadi anak suci seperti Lala di sinetron Bidadari) adalah bagaimanapun keadaan saudara saya tidak akan pernah mengubah posisinya di hati saya, sungguh.

Senin, 07 Desember 2009

SayaSekarangSamaSaja

Udah lama gak ngisi blog. Sebenernya banyak yang mau ditulis. Tapi untuk menulis perlu banyak waktu, secara aku bukan penulis profesional yang cuma perlu semenit buat nulis satu postingan. Nah, waktu inilah yang akhir-akhir ini jarang saya punya. Bukannya sok sibuk, hanya saja saya terlalu cetek perkara mengatur waktu. Senin, Selasa, Rabu, Jumat full buat sekolah. Hari-hari lainnya cuma aku isi buat leyeh-leyeh karna sungguh berat untuk sekolah di Jakarta ini. Pantat tipis kekikis bangku jebot metromini. Badan bau asap. Rambut merah kaya habis seharian main layangan. Tugas yang bikin pengen jambak rambut. Kulit hitam, tapi yang ini emang udah dari lahir. Paling kerasa, stamina drop. Darah rendah kambuh lagi. Pilek lagi. Pusing lagi. Malahan kemaren sempat kena cacar. Paling parah, tenggorokan saya ada jamurnya. Iya, teman-teman. Tenggorokan saya berjamur. Terdengar menyeraman, tapi sebenernya ini menguntungkan. Kalo akhir bulan gak punya duit aku cuma perlu beli nasi, kasi kecap, pake sambel terasi trus petik deh jamur dari tenggorokan. Hemat dan cermat, bukan? Atau kalo jamurnya tambah banyak, tinggal buka pengembangbiakan jamur aja, itung-itung bisnis buat bayar uang sekolah.
Cacar. Penyakit ini yang lumayan mengganggu. Gatalnya itu lho, bikin emosi. Bawaanya pengen ngegaruk-garuk aja. Tapi kata Ua jangan digaruk. Jujur, ini cukup menyiksa. Cukup sekali deh aku kena cacar, ampun..

Sebenernya yang aku bilang di hari-hari lain di luar sekolah aku pake buat leyeh-leyeh gak sepenuhnya benar. Ternyata aku masih punya waktu buat beli J. Co di Sency, nyari baju di Senen, bikin sepatu di Perbanas, beli kain di Cipadu, beli bahan aksesoris di Mayestik, nonton di PS, karokean di Plangi, nonton fashion show, segalanyalah. Jadi mungkin yang sebener-benernya terjadi, aku leyeh-leyeh karna kecapean jaan-jalan, bukan kecapean belajar. Haha

Oya, perkembangan pelajaran di sekolah. Rok aku (akhirnya) jadi, Thanks God. Sekarang lagi jahit celana. Mau mulai masuk pelajaran blouse. Gambar aku yahh.. Udah mulai membaiklah. Tekstil? Menganyam sampe tangan aku ikut keanyam, hapalan tekstil, gak usah dibahas..

Kamis, 22 Oktober 2009

Ketika Kamu Jatuh Cinta

Ketika kamu jatuh cinta kepada seorang Slankers.
Artinya dia adalah seorang cowok yang 'cowok banget', cowok yang gak akan mungkin pake baju Hello Kitty atau sebangsanya. Gak banyak omong dan apa adanya. Beruntunglah! Mungkin kamu akan menjadi seorang yang lebih nyeni dan mulai rajin menghapal lirik-lirik lagu Slank. Selama kamu belum memutuskan utuk menggimbal rambutmu dan menato badanmu, aku rasa wajar..

Ketika kamu jatuh cinta kepada seorang anak basket.
Artinya dia adalah seorang cowok yang sehat, yang gak mungkin ngerokok dan yang pasti tingginya memadai. Beruntunglah! Mungkin kamu akan rajin olahraga dan jadi rajin nonton pertandingan basket. Selama kamu belum memutuskan untuk menjadi handuk kecilnya dia (yang pasti kena keringat tiap hari, hoek..)aku rasa wajar..

Ketika kamu jatuh cinta kepada seorang instruktur fitness.
Artinya dia adalah seorang cowok yang peduli penampilan, jaga badan, yang gak akan jarang mandi. Beruntunglah! Mungkin kamu akan menjadi seorang yang jaga makanan dan rajin fitness. Selama kamu belum memutuskan untuk membuat badanmu sekekar ade Ray aku rasa wajar..

Ketika kamu jatuh cinta kepada ...





PS : Ini tulisan lama sanagat yang gak sengaja nemu waktu bongkar2 tas,
daripada sayang, mending aku pajang. Walaupun jelas,
dengan proses edit terlebih dahulu..

Selasa, 13 Oktober 2009

Perang Itu..

Aku selalu gak habis pikir sama mereka semua. Gak tau juga apa maksudnya. Gak ngerti apa tujuannya. Seharusnya mereka berjalan beriringan dengan mesra, malah memecah diri dan membentuk dua kubu. Seharusnya yang jadi kepala adalah orang paling netral, malah menghasut anak buahnya untuk berjalan berlawanan arah cuma karna hal yang 'kelewat' sepele, sirik..

Rabu, 07 Oktober 2009

Di Dalam Kereta

Minggu kemaren aku naik kereta sama Ua, buat belajar pake mesin jahit. Aku yang emang hobi naik kereta setuju-setuju aja. Lagian, masa aku harus nenteng-nenteng mesin jahit turun naik angkot? Walaupun portable tapi lumayan juga beratnya. Untungnya, pilihan buat naik kereta ternyata gak salah.

Di dalam kereta aku bisa liat semua orang. Cewek-cowok, tua-muda, kaya-miskin, perpangkat pinggi-pegawai biasa, ada semua. Mulai dari pengamen tuna netra yang aku gak habis pikir gimana cara dia naik kereta, penjual koran dan majalah (harga koran di kereta cuma Rp1000), pedagang makanan (gorengan, snack, kue-kue), anak sekolahan, mahasiswa, pegawai negeri, sampe bapak-bapak berseragam lengkap dengan pangkatnya. Harga karcis kereta yang murah (ekonomi Rp1500, ekonomi AC Rp5500), bebas macet( ya ialah!),bikin kereta masih jadi pilihan utama buat alat transportasi sehari-hari. Walaupun jelas, banyak juga negatifnya, kalo gak ada tempat duduk harus nyiapin kaki buat bediri desak-desakan, panas, banyak copet, belum lagi dengan lalu lalangnya pengamen dan pedagang yang bikin kuping pengeng.

Di dalam kereta aku juga bisa mengamati kegiatan orang-orang selama di dalam kereta. Ada yang tidur, ada anak yang jerit-jerit minta diturunin di Monas, ada yang baca koran/majalah, dan yang paling parah.. Ada yang Facebook-an di kereta. Hello.. Sambil berdiri dengan satu tangan peganng gantungan di kereta, tangan yang satunya mijit-mijit handphone (yang belakangan diketahui dia sedang Facebook-an) Asli ya, aku gak ngerti dengan tujuan mbak itu. Mungkin dia lagi update statusnya gini "Gue lagee d kreta nich, pyenuh bangetd dech, pucink jadi na!" Gitulah kira-kira, aku gak ngerti tulisan gaul jaman sekarang soalnya.

Jakarta, September '09

Nyasar

Libur Lebaran kemaren, Pikod dan Wanda (temen-temenku yang sekarang kuliah di Jogja) pada datang ke sini. Kita janjian ketemuan dan inilah ringkasan ceritanya :

1. Janjian ketemuan pertama di Plaza Semanggi, makan siang menjelang sore, makan bebek (yang enak banget) di samping Trans TV. Balik ke kosan dianterin calon abang iparnya Pikod. Baik banget tu abang, makasih ya bang!

2. Besokannya ketemuan di Atrium, makan siang, nyebrang ke Pasar Senen dan aku berhasil dapat dua sweater rajut seharga tiga puluh ribu berkat bantuan Pikod. Trus perjalanan dilanjutkan ke Ancol. Nyampe Ancol, kerjaan utama kita cuma foto-foto. Haha..

Nah, pulang dari Ancol kan kita ke Atrium lagi, baru misah di sana. Nah aku, yang belum ngerti jalan, dengan sotoynya naik angkot yang aku rasa bakal nyampe kosan. Ternyata, tebakan aku salah, kawan. Aku nyasar. Entah di mana. Akhirnya, dfi tengah keputusasaan yang melanda (agak berlebihan)aku nanya sama ibu-ibu yang jualan di pinggir jalan buat arah pulang.

Aku : Bu, kalo mau ke Tongtek kemana ya?
(Aku pasang ekspresi sok tenang, padahal dalam hati takut plus panik)
Ibu : Waduhh.. Kelewatan neng. Tongtek mah disono.
(Kata si ibu sambil nunjuk berlawanan arah)
Aku : Arah mana, Bu?
(Mulai panik)
Ibu : Lurus ke sana sampe nemu kantor pos trus belok kiri.
(si ibu tetep tanpa ekspresi sambil ngurusin dagangannya)
Aku : Ohh.. Angkot nomer berapa, Bu?
(Mulai keringat dingin)
Ibu : Gak ada angkot neng buat kesono, jalan kaki aja.
(Tetep sibuk sendiri)
Aku : Jauh ga, Bu?
(Gemeteran)
Ibu : Yah.. Kira-kira sekilo lah.
(Jawab si ibu dengan entengnya)
Aku : ..
(Aku berkunang-kunang, trus pingsan)
Ibu : Neng? Neng?
(Mencoba menyadarkanku)
Aku : Ma.. Ma.. Kas.. Ih.. Bu

Oke, bagian aku pingsannya emang hiperbol, tapi kejadian nyasar dan si ibu yang lebih mentingin cobeknya daripada aku yang udah jelas-jelas keringat dingin, benar adanya. Akhirnya, dengan tekad bulat pengen cepet-cepet nyampe kosan, aku jalan kaki sampe rasanya ni kaki ga berasa lagi. Kayaknya itu ibu salah ngitung, bukan satu kilo jaraknya, tapi satu kilo lemak aku yang berkurang, soalnya jauh mampus! Akhirnya, nyampe juga Tongtek, sumpah.. Tongtek gak pernah seindah hari itu. Angkot yang udah lecet-lecet itu kayak semulus BMW, abang-abang angkot pun jadi gak kalah cakep dari Baim Wong. Yah.. Ini semua kayaknya halusinasi seseorang yang sangat bahagai ketemu jalan pulang setelah jalan kaki sampe gempor. Setelah naik angkot dari Tongtek itu, Aku akhirnya nyampe kosan juga. Thanks God! Begitu kepala nyentuh bantal, aku langsung tidur sampe dua minggu berikutnya..

Sabtu, 19 September 2009

Plus - Minus

Selama berapa minggu di sini jelas terasa berbeda. Semuanya berubah. Setiap hal punya sisi negatif dan positifnya. Ada enak gak enaknya. Ada plus minusnya. Bisa juga bikin loncat-loncat kegirangan atau nangis sampe guling-guling. Karna itulah aku mencoba membuat daftar enak dan gak enaknya selama berada di sini..

Gak enaknya:
1. Jauh dari keluarga. Kangen sangat dengan Papi, Mami, Bang Rio. Hari-hari dulu, tiap hari ketemu. Tiap hari ngobrol bareng di meja makan. Jadi inget kalo dulu setiap habis bangun tidur siang, pasti meluk Mami. Trus ditepok-tepok pantatnya, sok bayi lah aku (bayi bengkak). Kalo lagi nonton TV rebutan sama Bang Rio buat rebahan di paha Mami. Tiap hari juga kelahi sama Bang Rio. Ejek-ejekan. Mami selalu di kubu aku, jadi Bang Rio kalah telak. Atau ketawa sampe sakit perut karna ngeliatain Mami niruin gaya Tukul (Bukan Empat Mata) atau BCL (Pernah Muda). Hahaha.. Juga kangen dengan sikap cool papi yang ternyata sangat care. I love them soo much..

2. Tak ada mereka. Ya, di sini gak ada mereka. Gak ada Pepet, Cinduy, Sunsan, Nopitandi, semuanya. Gak bisa neror Pepet dengan telpon berjam-jam, gak ada noyor kepala Cinduy, gak ada narik rambut Sun, gak ada ngetawain Nopitandi. Berharap waktu ketemu meraka nanti, apapun keadan kita, kita tetap bisa main kartu, menjadi Si Bolang dan jajan di SMP2. Hahaha..

3. Mas Pur. Di sini juga gak ada Mas Pur. Gak usah Mas Pur deh, mas-mas yang lain juga boleh. Tapi beneran, selama ini aku gak ada nemu satu pun. Gila, selama ini udah aku puasa pentol. Ngiler banget kalo keinget bawang gorengnya, pop mienya, waaaa.. Coba Mas Pur buka cabang di sini, minimal ada delivery service deh..

Enaknya..
1. Ada Bangdo di sini. Jadi aku gak terlalu sepi. Gak berasa sendiri. Kita bisa jalan bareng, becandaan, dan bahu-membahu membersihkan kamar kos. Tiap hari jalan kaki ke warung depan buat beli makan, trus makannya di rumah Ua (kakak Mami, yang rumahnya ga jauh dari kosan). Ua juga udah kita anggap kayak Mami sendiri saking sayangnya Ua sama kita juga kita ke Ua. Ua yang selalu nemenin kita belanja keperluan kos, nyari mesin jahit, sampe beli baju.

2. Di sini ada LPTB Susan Budiharjo. Inilah alasan utama aku datang ke sini. Demi sekolah ini. Yang pada akhirnya demi cita-citaku. Walaupun harus kjedot angkot tiap hari, walaupun gambarku terjelek di kelas, otakku paling autis di kelas, aku harus tetap berjuang. Doakan saya yaa..

3. Belajar. Ya, di sini aku banyak belajar. Belajar segalanya. Yang paling jelas, belajar design. Menggambar, membuat pola, dan menjahit. Tapi aku juga belajar hal lain. belajar untuk mandiri,belajar ngatur uang, belajar melihat sekitar, belajar untuk berbaur. Dengan belajar inilah aku sadar kalo hariku bukan cuma sekedar ngerjain PR di sekolah, ngegosip di selasar, main ke rumah Sun, dan tidur. Bukan berati itu gak penting. Jujur, hari-hari itu menyenangkan, cuma ketika aku lebih melek akan sekitar, ternyata masih banyak hal lain yang bisa aku lakukan. Hal yang bisa aku eksplor dan pada akhirnya aku sadar bahwa dunia gak dibatasi oleh pagar hijau rumahku..