Minggu, 06 September 2009

Dunia Baru

Akhir-akhir ini akan lama posting. Biasalah,masih heboh adaptasi dengan sekitar. Kuliah baru (plus tugas-tugasnya), lingkungan baru, teman-teman baru. Menjadi seorang yang harus bisa mandiri. Berani nyebrang, naik angkot ke kampus, nyuci sendiri. Haha.. Heboh sih, tapi asik. Sekolahnya seru, gurunya juga asik walopun agak keteteran ngerjar ketinggalalan materi karna telat masuk. Berharap sih aku bisa ngejar. Amien.

Sori kalo kata-katanya jadi asal gini. Gak teratur. Berantakan. Ini juga nyempet-nyempetin diantara bikin tugas ngegambar anatomi 20 biji tanpa penggaris. Bayangkan, kalo dengan penggaris aja gambarku miring-miring, gimana tanpa penggaris? haha.. tapi aku harus bisa. Nanti deh kalo semuanya sudah lebih rapi, aku akan rajin ngeblog.

Kamis, 20 Agustus 2009

Menulis Surat Cinta

Kak,

Kita sudah ditakdirkan bersama. Engkau dan aku adalah satu. Kita serasi dan selaras. Engkau hanya diciptakan untukku, begitu pula sebaliknya. Ibarat kata aku adalah bunga dan kakak kumbangnya (sangat dangdut). Aku pohon dan kakak hujannya (nah, kalo yang ini ala Bollywood). Ibarat dongeng, kita adalah Jasmine dan Alladin. Ibarat roman percintaan legendaris kita adalah Romeo dan Juliet. Ibarat lagu, Galih dan ratna. Ibarat selebritis, Dewi Perssik dan Bang Ipul. Ibarat bahasa cinta, kita adalah upil dan ingus. Ini sungguhan, Kak! Serius! Baiklah, jika Kakak belum mengerti, dengan penuh kesabaran akan Adik jelaskan. Begini..

Upil : padat, kokoh, lezat
Ingus : kental, mengalir, lezat (juga)

Nampak serasi, bukan?
Rumah cinta kita adalah sebuah hidung megah yang melindungi kita dari terik matahari ataupun hujan badai.
Bagaimana, Kak? Kita jadian, yah? Saya harap Kakak setuju.

PS : Jika kita jadian kelak, Kakak boleh memilih untuk ingin menjadi upil atau ingus.
***

Awalnya surat inilah yang ingin aku kasih ke Sun waktu dia minta tolong dibuatin surat cinta untuk tuga OSPEKnya. Tapi karna aku masih mempertimbangkan keselamatan jiwanya di kampus, maka aku urungkan niat baikku ini. Akhirnya aku bikin satu surat cinta lagi, yang sesuai dengan permintaan sun, harus LEBAY! Oho, ini mah gancil. Inilah yang disebut dengan bakat. Pengalaman dicekokin telenovela waktu TK, film India jaman SD, ditambah penonton setia konser dangdutan bikin aku jadi berkpribadian geli nin norak. Malahan waktu masih di pertengahan surat Sun minta ampun nyuruh aku berhenti karna kadar lebaynya terlalu lebay. Halah!

Rut - But - Rut

Sekarang sudah larut,
dan aku lagi kalut,
karna harus segera cabut.

Otak carut marut,
kayak lagi konser dangdut,
yang digoyang Uut.

Menghadapi laut,
melepaskan segala lembut.


Aku takut.


Walaupun kabut,
menggelitik perut,
yang gendut,
persis pesut,
yang nelan sebaskom semut,
walaupun hidup tak semanis dodol garut,
walaupun lumut menyumbat mulut,
Tapi bahagia yang berturut-turut,
harus bisa direnggut.
Verry gut!

Minggu, 02 Agustus 2009

SELFISH

Setelah setua ini aku baru sadar akan satu hal. Aku adalah manusia yang egois. Jauh lebih egois dari orang yang dijuluki Cinduy "Selfish". Ketika menyadari hal ini aku jadi jijik dengan diri sendiri. Najis. Banyak kejadian yang nunjukin ke egoisanku ini. Sebenernya Cinduy udah lama mendengung-dengungkan hal ini. Tapi dulu aku tuli. Gak denger yang Cinduy bilang. Tapi sekarang, setelah aku liat ke belakang, aku baru ngeh. Terlambat.

Aku mengajak Jubaedah untuk bekerja sama.
Rencana ini aku buat karna aku mau nunjukin kalo aku sudah ikhlas. Aku sudah gak sakit lagi. Aku kuat bediri di dekat dia tanpa ada keinginan buat menjambak rambutnya. Pepet yang kuberitau rencana ini cuma bisa biang 'Kamu yakin? Kalo yakin mah sok atuh jalanin. Tapi kasian Jubaedah lho!' Bukan Mona namanya kalo gak ngeyel dengan apapun yang Pepet bilang. Karna aku selalu beda pendapat sama dia. Tapi kayaknya emang bener dengan ungkapan 'Kalo niat jahat, gak bakal ada jalan' Eh.. Beneran! Selalu ada aja hal yang bikin aku gak jadi kerja sama dengan dia. Sampe aku sadar kalo ini kayaknya jalan dari Tuhan buat nunjukin kalo aku jadi kerja sama dengan dia, mungkin aja hal buruk terjadi.

Menjadikan si permen sebagai pengukur lupa.
Akhirnya aku menjadikan si permen sebagai alat pengukur lupa. Sejauh mana sih aku melepaskannya? Mengikhlaskannya? Jahat memang. Sangat malah! Tapi aku punya pembelaan diri. Aku memerlukan tes pengukur rasa lupaku dan sayangnya dia kurang beruntung ada di saat yang kurang tepat. Pembenaran yang ngaco memang, tapi seenggaknya aku pintar ngeles kan? Hehe.. Hampir aku melakukan hal yang lebih jahat dengan sempat memikirkan untuk menjadikannya tameng. Tapi untungnya, setelah aku masukin kepala ke baskom penuh es aku sadar dan berhasil meloloskan diri. Hufh..

Membiarkan aku tau dan dia tidak.
Ini lebih parah. Aku membiarkan aku tau segala hal tapi dia gak tau sedikitpun. Licik kan? Dengan hanya memikirkan 'malu bukan kepalang' Idiot.

See, aku memang hanya selalu memikirkan diriku. Hidupku. Rasaku.