Sabtu, 09 Agustus 2008
Menyenangkan Bila..
Menyenangkan bila seperti ini. Malam ini. Hujan deras, kunci pintu, matikan lampu, dengerin suara Oom Keith Martin, pake selimut dan tutup mata. Aaah.. Sedap! Benar-benar bikin adem. Bukan untuk tidur melainkan di moment-moment sakral inilah aku bisa memikirkan apapun dan mengkhayal khayalan khayangan sekaligus. Seperti jika nanti aku menikah dengan salah satu anggota Keluarga Bakrie (ngarep..!), aku mau punya satu ruanagn di lantai atas yang terbuat dari kacadari kaca, ruangn khusus untuk aku bisa melihat hujan dari dekat. Aku suka hujan. Sangad. Addicted. Aku suka suaranya, dinginnya, suasana yang ditimbulkannya. Tenang, sepi, damai. Bener-bener waktu yang tepat untuk berdua. Aku dan hujanku..
Jumat, 01 Agustus 2008
Anak kecil dalam bayanganku adalah anak yang cantik, lucu, gendut, suka ketawa, dan enak dicubit. Tetapi kenyataan yanag baru-baru ini terjadi segera mengubah pemikiran muliaku itu.
Cerita ini dimulai saat Mami bilang bakal ada anak dan ibu yang maen ke rumah. Aku sih oke aja. Tapi gerak-gerik aneh saat Mami mengajak mereka ke kamarku. Oh no! Ini tanda-tanda malapetaka. Dari awal masuk emang anaknya yang bernama hmm.. hmm.. aku lupa namanya, uda pecicilan banget ngliat baju, spatu, dan segala rupa di kamarku. Dia nyoba-nyoba kalung, sepatu, tas, dan semuanya deh. Pokoknya dia liar. Hape aku dan Mamiku pun jadi sasaran. Loncat-loncat di tempat tidur pun sudah. Aku cengo. Mau negor gak enak soalnya mamahnya nyantai aja. Oke, sabar Mona.
Setelah puas ngacakin barangku dia melihat objek lain yang lebih enak untuk di tempelin. Yups, itu aku teman. Dia ngekorin aku terus, nanya-nanya hal gak penting dan mulai menjamahku. Oke, maksudnya megang-megang rambutku. Aku gak ngerti apa menariknya rambutku sampai dijadikannya mainan seperti itu. Aku tegur dia. Dia diem. Megang rambutku lagi. Aku tegur lagi. Diem lagi. Megang rambutku, lagi. Kayak gitu terus. Kesabaranku mulai menipis. Aku ancam bakal ngikat dia di tiang bendera (aku terinsipari karena melihat gaunnya yang sangat berkibar kayak bendera.) Beneran deh, sebenernya aku suka anak kecil. Yah, tapi jangan brutal kayak dia ini. Kalo kayak gini mah aku yakin Kak Seto juga angkat tangan ngadepin dia.
Ancamanku gak mempan. Dia bertambah anarkis. Dia melakukan semua kegiatan diatas sekaligus. Loncat-loncat, pake kalung, megang rambutku, pake tas, gigit sepatu. Oke, yang terakhir becanda. Sumpah, kesabaranku runtuh. Aku jadi beringas juga. Aku tarik tangannya trus ku gabungin kedua tangannya kayak di borgol trus aku teken kuat-kuat. Aku tanya "Ampun gak?'' Dia diam. Aku tambah beringas dengan mata melotot. "Ampun gak?'' Dia diam dan diam dan diam dan diam dan diam dan nagis..
Hahaha.. Rasakan kekuatan KUGA. Plong banget rasanya. Sejak saat itu dia dan emaknya gak pernah lagi maen ke rumah..
Wahai anak-anak kecil janganlah kalian berbuat anarkis seperti contoh diatas. Dia sudah menjadi korban yang tak berdaya. Hahaha...
Cerita ini dimulai saat Mami bilang bakal ada anak dan ibu yang maen ke rumah. Aku sih oke aja. Tapi gerak-gerik aneh saat Mami mengajak mereka ke kamarku. Oh no! Ini tanda-tanda malapetaka. Dari awal masuk emang anaknya yang bernama hmm.. hmm.. aku lupa namanya, uda pecicilan banget ngliat baju, spatu, dan segala rupa di kamarku. Dia nyoba-nyoba kalung, sepatu, tas, dan semuanya deh. Pokoknya dia liar. Hape aku dan Mamiku pun jadi sasaran. Loncat-loncat di tempat tidur pun sudah. Aku cengo. Mau negor gak enak soalnya mamahnya nyantai aja. Oke, sabar Mona.
Setelah puas ngacakin barangku dia melihat objek lain yang lebih enak untuk di tempelin. Yups, itu aku teman. Dia ngekorin aku terus, nanya-nanya hal gak penting dan mulai menjamahku. Oke, maksudnya megang-megang rambutku. Aku gak ngerti apa menariknya rambutku sampai dijadikannya mainan seperti itu. Aku tegur dia. Dia diem. Megang rambutku lagi. Aku tegur lagi. Diem lagi. Megang rambutku, lagi. Kayak gitu terus. Kesabaranku mulai menipis. Aku ancam bakal ngikat dia di tiang bendera (aku terinsipari karena melihat gaunnya yang sangat berkibar kayak bendera.) Beneran deh, sebenernya aku suka anak kecil. Yah, tapi jangan brutal kayak dia ini. Kalo kayak gini mah aku yakin Kak Seto juga angkat tangan ngadepin dia.
Ancamanku gak mempan. Dia bertambah anarkis. Dia melakukan semua kegiatan diatas sekaligus. Loncat-loncat, pake kalung, megang rambutku, pake tas, gigit sepatu. Oke, yang terakhir becanda. Sumpah, kesabaranku runtuh. Aku jadi beringas juga. Aku tarik tangannya trus ku gabungin kedua tangannya kayak di borgol trus aku teken kuat-kuat. Aku tanya "Ampun gak?'' Dia diam. Aku tambah beringas dengan mata melotot. "Ampun gak?'' Dia diam dan diam dan diam dan diam dan diam dan nagis..
Hahaha.. Rasakan kekuatan KUGA. Plong banget rasanya. Sejak saat itu dia dan emaknya gak pernah lagi maen ke rumah..
Wahai anak-anak kecil janganlah kalian berbuat anarkis seperti contoh diatas. Dia sudah menjadi korban yang tak berdaya. Hahaha...
Tawon dan Mas Pur
Kata orang umur 17 tahun sudah dianggap dewasa. Lantas, sudah cukup dewasakah kami?
Mari kita buktikan bersama..
Minggu-minggu pertama ajaran baru kayak sekarang belajar di sekolah belum terlalu aktif. Guru-guru banyak yang belum masuk sekolah, begitu juga dengan murid-muridnya yang lebih memilih untuk menambah libur mereka sendiri. Tapi tidak denganku dan teman-teman sepermainanku. Kami sudah memiliki tekad mulia sejak jauh-jauh hari. Keinginan yang sangat menggebu-gebu dan sakral. Walaupun hujan badai, jurang terjal kami lewati (haah?). Keinginan itu adalah "Main Monopoli" & "Main Hide and Seek". Yap, saudaraku kami hanya ingin bermain.. Kami ingin mengulang masa-masa dahulu kala disaat masih balita.
Permainan ini sukses membuatku merasa fresh dan luka karena disengat tawon (salah sendiri sembunyi di semak) serta mendapat kecaman dari berbagai pihak. Nah lho? Oke, yang pertama dari guru-guru yang pasti terganggu dengan suara ribut yang kami timbulkan. Trus, waktu aku lagi sembunyi di belakang Mas Pur(kapok di semak), paman pentol di sekolahku, pentolnya enak lho, rasa daging sapinya terasa banget, murah lagi, karena itu segeralah datang ke Pentol Mas Pur! Lho kok jadi promosi? Pokoknya seperti itulah.. Balik ke topik! Disaat aku lagi khusyuknya sembunyi, tiba-tiba ada ade kelas yang nyelutuk "Masa kecil kurang bahagia." Sesaat aku tersentak. Rasanya mau aku jambak rambut ade itu tapi sadar kalo dia botak. Lalu akau mencoba berpikir positif "Ah, dia cuma sirik karena gak diajakin main.'' Yups, pasti itu sebabnya.
Main monopoli juga seru sih walaupun kurang bebas lari-larian yang notabene membuatku sedikiiiiit kurus dan yang paling menyebalkan adalah aku SELALU kalah. Aku paling bolot deh dalam permainan kayak gini. Dibegoin juga gak tau. Beda dengan Nopit yang selalu jadi juragan rumah dan jutawan. Padahal dalam keseharian dia yang paling bolot diantara kami-kami yang bolot. Aku curiga juga, jangan-jangan dia nilep uang bank. Hiyaa, u r busted, Nopit!
Udah ah, gak tau mau nulis apa.
Cuma mohon doanya supaya lain kali aku menang!
Mari kita buktikan bersama..
Minggu-minggu pertama ajaran baru kayak sekarang belajar di sekolah belum terlalu aktif. Guru-guru banyak yang belum masuk sekolah, begitu juga dengan murid-muridnya yang lebih memilih untuk menambah libur mereka sendiri. Tapi tidak denganku dan teman-teman sepermainanku. Kami sudah memiliki tekad mulia sejak jauh-jauh hari. Keinginan yang sangat menggebu-gebu dan sakral. Walaupun hujan badai, jurang terjal kami lewati (haah?). Keinginan itu adalah "Main Monopoli" & "Main Hide and Seek". Yap, saudaraku kami hanya ingin bermain.. Kami ingin mengulang masa-masa dahulu kala disaat masih balita.
Permainan ini sukses membuatku merasa fresh dan luka karena disengat tawon (salah sendiri sembunyi di semak) serta mendapat kecaman dari berbagai pihak. Nah lho? Oke, yang pertama dari guru-guru yang pasti terganggu dengan suara ribut yang kami timbulkan. Trus, waktu aku lagi sembunyi di belakang Mas Pur(kapok di semak), paman pentol di sekolahku, pentolnya enak lho, rasa daging sapinya terasa banget, murah lagi, karena itu segeralah datang ke Pentol Mas Pur! Lho kok jadi promosi? Pokoknya seperti itulah.. Balik ke topik! Disaat aku lagi khusyuknya sembunyi, tiba-tiba ada ade kelas yang nyelutuk "Masa kecil kurang bahagia." Sesaat aku tersentak. Rasanya mau aku jambak rambut ade itu tapi sadar kalo dia botak. Lalu akau mencoba berpikir positif "Ah, dia cuma sirik karena gak diajakin main.'' Yups, pasti itu sebabnya.
Main monopoli juga seru sih walaupun kurang bebas lari-larian yang notabene membuatku sedikiiiiit kurus dan yang paling menyebalkan adalah aku SELALU kalah. Aku paling bolot deh dalam permainan kayak gini. Dibegoin juga gak tau. Beda dengan Nopit yang selalu jadi juragan rumah dan jutawan. Padahal dalam keseharian dia yang paling bolot diantara kami-kami yang bolot. Aku curiga juga, jangan-jangan dia nilep uang bank. Hiyaa, u r busted, Nopit!
Udah ah, gak tau mau nulis apa.
Cuma mohon doanya supaya lain kali aku menang!
Langganan:
Postingan (Atom)
