Kamis, 14 Oktober 2010

Menyesal

Semakin dibilang 'Ya udahlah. Gak apa-apa'
Semakin membuat saya mau nangis jejeritan
Semakin membuat saya tak henti-hentinya mengutuki diri 'tolol'
Semakin membuat saya merasa bersalah
Semakin membuat saya ingin bilang 'maaf' 'maaf' 'maaf'
Semakin membuat saya ingin mengulang segalanya

Semakin membuat saya menyesal..
Semakin membuat saya sungguh menyesal..

Hujan Sepuluh Ribu

Hari ini saya dan Ua pergi ke Tanah Abang. Tidak penting apa yang saya beli di sana karna yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagian ketika kita mau pulang dari Tanah Abang. Waktu kita keluar dari sana hujan sangat lebat. Entah kenapa hujan di Jakarta akhir-akhir ini suka lebay. Suka pake petir gede. Angin kencang dan sebagainya. Kita harus nyebrang jalan untuk bisa pulang. Di saat-saat seperti inilah ojek payung sangat diperlukan. Saya memilih seorang anak muda yang membawa payung cukup besar untuk kita berdua. "Kalo ke seberang berapa?" Tanya Ua. "Terserah aja, Bu" Katanya. Lalu dengan diikuti mas ojek payung kita berjuang untuk menerobos hujan. Seperti yang saya bilang tadi kalo hujannya lebay, makanya saya harus memegang payung sekuat mungkin kalo gak mau payungnya terbang dan kita basah kuyub. Begitu sampai di seberang saya dan Ua sampai dengan badan kering walaupun sepatu banjir haha. Sedangkan mas-nya udah kuyub dan sedikit menggigil. Lalu saya mengeluarkan selembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepada si mas ojek payung. Mas ojek payung bertanya "Ini semuanya buat saya?" Tanyanya dengan ekspresi heran "Iya mas, makasih ya" Saya jawab sambil menepuk pundaknya. Entah kenapa saya merinding. Bukan! saya bukan jatuh cinta kepada mas itu ataupun kedinginan. Tapi saya merasa betapa sepuluh ribu saya bisa membuatnya tersenyum. Bukan bermaksud pamer atau apa tapi yang ingin saya bagi kali ini adalah perasaannya. Perasaan bahagia dan terharu ketika melihat seseorang begitu bahagia menerima pemberian kita (yang mungkin menurut kita tak seberapa) diterima dengan baik itu membuat bahagia kita berlipat-lipat ganda.

Selasa, 31 Agustus 2010

Menurut Anda?

Paling sebel kalo ada yang nanya 'Gak kangen Palangka, Mon?' 'Gak kangen Papi Mami?' Kalo pertanyaannya kayak gini, saya bisa jawab apa? Gak perlu dijawab saya rasa. Come on, logika anda dimana? *ketok2 pelipis* Saya udah hampir setahun ga ketemu keluarga dan teman-teman di sana (walaupun Papi beberapa kali dateng ke sini). Nah, jadi menurut anda mungkinkah saya gak kangen sampe ke ubun-ubun?

Minggu, 15 Agustus 2010

Bukannya Saya Gak Mau Pulang

Bukannya saya gak mau pulang tapi tugas saya (termasuk baju buat ujian) yang banyak ini ngantri untuk diselesaikan. Saya rasa gak mungkin juga saya pulang dengan membawa segenap kain, kertas pola dan mesin jahit ini.
Bukannya saya gak mau pulang tapi mana mungkin saya bisa leyeh-leyeh dengan tenang di rumah tapi otak mikirin perkara ujian ini. Saya belum ikut ujian, belum graduation belum apa-apa.
Bukannya saya gak mau pulang tapi saya gak tahan dengan ekspektasi orang-orang sekitar yang selalu berharap lebih dari saya. Ini alasan paling utama sebenernya.