Senin, 13 April 2009

Karma Sebuah Dilema, Dilema Sebuah Karma.

Tolong Mama..

Aku lagi dilema. Mungkin ini karma. Akan perbuatanku di waktu lama. Hal kaya ginilah yang selalu bikin asma. Seperti tersiram magma. Menyesakkan diafragma. Hanya karna sebuah nama.


Kini semua tak akan pernah sama..

Tak akan pernah kembali seperti pertama. Akan kujalani dengan seksama. Melewatinya dengan prima. Agar rasa tak terbuang percuma. Agar berakhir dengan rasa kurma..

Jumat, 03 April 2009

Hujan Dengar Aku

Hujan kayaknya selalu tau hatiku. Dia datang lagi malam ini, disaat aku memang lagi butuh waktu buat sendiri. Hujan hadir buat temani aku. Dikala aku dilema. Bimbang. Disaat aku benar-benar mengharapkan ia hadir di sini

Mari hujan, kita bersama rasakan ini. Resapi ini. Tuntun aku mencari jawabannya yang mungkin tersembunyi di balik dinginmu. Bantu aku menghadapi ini. Melewati semua dengan indah..

SADIS3 Goes to Panti

Liburan Nyepi kemaren, anak SADIS3 (Sekumpulan Anak Dalam Ilmu Sosial 3) sepakat pergi ke panti asuhan. Bermodalkan niat mulia nan tulus tiada tara kami pergi ke Panti Asuhan KALAWA ATEI di Tangkiling dengan nyewa truk polisi. Kenapa truk polisi? Karna kami takut pantat tepos kalo ngesot sampe Tangkiling dan karna kami gak rela betis jadi segede konde gara-gara jalan kaki. Hehe.. Acara ke panti ini sebenernya berawal dari kemenangan SADIS3 dalam Lomba Bazaar Ulang Tahun Sekolah kemaren. SADIS3 dengan sadisnya merebut juara satu dengan keuntunggan paling besar. Huaa.. Kebayar deh capeknya jualan es gong. Nah, jadi ceritanya sebagai bentuk rasa syukur kami karna menang bazzar itulah kami berniat untuk ngasi sedikit bantuan ke ade-ade di panti asuhan.

Sebenernya untuk keberangkatan kali ini cuma dibentuk dua halte. Rumah Mando dan rumah Satrio. Tapi jangan sebut Mona kalo gak licik. Dengan alasan 'rumah aye sejalur dengan Tangkiling', daku dan beberapa prajurit membentuk kubu baru di rumahku. Haha.. Jadi, dirumahku kumpul lah beberapa anggota kayak Ari (sang kepala suku), Tri Ayu, Risa, Mery, Ria, Nopit sepaket imbisil dengan Andi. Sepanjang jalan kerjaan kita (ato lebih tetatnya aku)cuma foto-foto sama ngegosip sambil tak lupa ngemil untuk menambah daya tahan (berat badan) tubuh. Aku juga jaga jarak sama Cinduy yang emang mabokan orangnya. Gak lucu kan kalo hem ane kena muntahannya? Hehe.. Ya gak lah, nduy! Peace!

Akhirnya kita nyampe juga di Panti Asuhan KALAWA ATEI. Begitu liat pantinya, deg! Ke-pause saya, serius! Pantinya cuma terbuat dari kayu gitu dan ukurannya juga ga besar-besar amat. Padahal anak-anaknya banyak mampus. Asli, gak kebayang gimana mereka tidur. Pas masuk aku juga gak liat ada kamar di sana. Gak ada ruang makan juga. Bikin saya monangis.

Trus, kita main-main sama ade-ade panti itu. Main nyalurin karet gelang pake sedotan lah, pesan berantai lah, dll. Bagian terparah dari permainan ini adalah kalo kalah, hukumannya adalah.. Nyanyi! Suer, nyanyi adalah hal terburuk kedua yang aku hindari jauh-jauh setelah lari. Ampun saya! Karna itulah, aku bersekutu dengna ade di sebelahku untuk berjuang mati-matian agar tak dihukum. Untunglah Ricky (nama si ade) udah terlatih dalam hal-hal kayak gini. Hufh.. Selamat saya, eh.. Kami!

Pokoknya hari itu sangat menyenangkan. Capek emang, tapi seru. Puas ketawa. Sepulang dari panti aku dapat banyak hal baru. Pelajaran baru. Aku gak boleh kalah sama mereka yang tetep kuat walau hidup pas-pasan, yang tetap senyum walau udah gak ada orang tua. Aku, seorang MOna, yang hidup cukup yang punya Papi Mami seharusnya jauh lebih bahagia dan bersyukur daripada mereka..

Mau Apa?

Hujan kali ini membiarkanku bermain dengan hatiku. Merenungkan segalanya. Sendiri. Tanpa teriakan toa Cinduy, tanpa rambut keriting Sun, tanpa virus bolot Nopit. Semuanya keputar lagi sekarang. Keingat akan yang sudah lewat. Terlambat. Sudah basi. Kadaluarsa. Gak ada guna sebenernya untuk mengingat itu semua. Cuma bikin sesak, lagi. Cuma bikin nyeri, lagi. Padahal aku mau keluar dan main hujan. Basah-basahan mungkin akan melegakan sedikit sesakku. Menyembuhkan sedikit nyeriku. Biar berlalu bersama hujan. Mengalir dan mengendap. Tapi Mami gak pernah setuju dengan usulku ini. Nanti sakit, selalu jadi senjata ampuh Mami. Jadi ya di sinilah aku. Duduk bersila di kamar. Menatap hujan dari jendela. Dengan ditemani suara Oom Keith Martin tentunya.

Kadang aku marah dengna diriku sendiri. Otakku. Terlebih hatiku yang gak bisa diajak kerja sama. Gak bisa kompromi. Gak mau nurutin apa kataku. Padahal akulah bos mereka yang berhak mengatur dan memerintah mereka sesuka hati. Tapi entah kenapa belakangan ini malah mereka yang mengaturku. Menentukan jalanku. Aku bilang stop, otak bilang jangan, hati bilang lanjut. Aku bilang buang, otak teriak jangan, hati teriak simpan.

Oh.. Kalian mau apa sih sebenernya?
Bersekutu melawanku?
Kita lihat saja siapa yang menang..